Follow us

Ferihana, Dokter Bercadar Mengobati Tanpa Tarif

Sempat berpandangan ekstrim, kini ia mengobati tanpa membedakan, walaupun ia kerap terkena stigma karena bercadar.
Kusumasari Ayuningtyas
Bantul, Yogyakarta
2017-10-27
Email
Komentar
Share
Dokter Ferihana mengecek tensi Lidya di kliniknya di Bantul, Yogyakarta, 23 Oktober 2017.
Dokter Ferihana mengecek tensi Lidya di kliniknya di Bantul, Yogyakarta, 23 Oktober 2017.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Ferihana yang mengenakan jilbab dilengkapi dengan cadar sedang memberi penjelasan pada pasiennya, Lidya (33), di kliniknya di Bantul, Yogyakarta, Senin, 23 Oktober 2017.

Tekanan darah Lidya sedang naik meskipun baru menyelesaikan puasa sabat 24 jam hari Jumat.

Dokter Hana – begitu Ferihana sering disapa – dan pasiennya terlihat akrab dan bertukar cerita selama proses pemeriksaan. Apalagi usia mereka terpaut tiga tahun karena Hana berusia 36 tahun.

“Saya sudah datang (berobat) di sini sejak klinik ini ada beberapa tahun lalu,” kata Lidya, seorang penganut Kristen Advent.

Tidak hanya Lidya, suami dan anaknya juga selalu datang ke Ferihana setiap mengalami keluhan kesehatan.

Anaknya yang berusia 7 tahun, Rachel, mulai berobat ke dokter Hana –– sejak umur 4 tahun. Putrinya yang memiliki alergi makanan, trauma diperiksa di rumah sakit karena takut bertemu dokter.

“Dia (Hana) ramah sekali, tidak pelit memberi penjelasan dan tips, bahkan meski kita belum bertanya, pintar menghadapi anak-anak. Anak saya sama sekali tidak takut meski alat-alatnya sama dengan dokter di rumah sakit,” tutur Lidya.

Kendati berbeda keyakinan, Lidya tak menemukan diskriminasi dalam pelayanan Hana. Saat pasien banyak, semua dilayani sesuai urutan datang meski banyak di antara mereka berpakaian Muslim bahkan berniqab seperti Hana.

Kecuali jika ada yang dalam kondisi parah dan butuh pertolongan segera, dokter Hana dan perawat akan meminta pengertian pasien lain.

Tanpa tarif

Hana memeriksa seorang pasien di kliniknya di Bantul, Yogyakarta, 23 Oktober 2017.
Hana memeriksa seorang pasien di kliniknya di Bantul, Yogyakarta, 23 Oktober 2017. Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

 


Hana mulai memberi pelayanan kesehatan secara cuma-cuma sejak menjadi dokter dan bekerja di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Saat itu, dia melihat kenyataan pahit yang dialami warga tak mampu, tidak punya uang untuk membayar pengobatan.

“Dalam hati, saya ingin meringankan biayanya, tapi aturan rumah sakit tidak memungkinkan,” ujar perempuan yang sudah mengenakan cadar sejak kuliah tahun 2002.

Dia pun mulai berkeliling ke desa-desa dan mengobati warga tidak mampu yang sakit. Dia membeli alat dan obat-obatan dari gajinya di rumah sakit.

Semakin lama, jumlah warga yang meminta pelayanan kesehatan semakin banyak, obat-obatan yang dibutuhkan juga semakin banyak.

Karena tidak memasang tarif dan hanya membiarkan pasien membayar semampunya, seringkali Hana tidak punya uang untuk membeli obat.

Beruntung kedua orang tuanya bersedia membantu Hana, anak tunggal mereka. Ayahnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Hana mencoba menambah penghasilannya dengan bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecantikan.

Pada 2012, Hana membuka klinik untuk dhuafa di rumah pemberian kakeknya. Tapi dia masih menyempatkan untuk keliling mencari pasien.

Tahun 2014, Hana menikah dan memutuskan keluar dari rumah sakit. Suaminya, Youbel, pengelola sebuah penginapan di Malioboro, Yogyakarta, mendukung kegiatan pengobatan tanpa tarif Hana.

Setelah menikah, suami Hana menjadi donatur untuk membeli obat-obatan. Kemudian, Hana mendirikan klinik kecantikan di samping klinik tanpa tarif miliknya.

Menyesal sempat ekstrim

Setelah mendirikan klinik Rumah Sehat Dhuafa pada 2012, Hana mengaku bersikap lebih baik pada semua orang tanpa membeda-bedakan.

Sebelumnya ia mengaku sempat menjadi Muslim garis keras yang cenderung radikal meski tidak pernah bergabung jaringan teroris.

Kala itu, dia hanya mau berteman dan bergaul dengan orang-orang dari komunitas sama. Hana juga tidak mau mendengar kritik dan pendapat orang lain tentang agama jika tak sesuai dengan ajaran yang diyakininya.

“Saya seperti itu justru saat masih awal sekali mencoba mengenal Islam, baru membaca satu atau dua hadis dan menjadi sangat fanatik dan ekstrim,” kenangnya.

Tapi dia berubah setelah menyaksikan sebuah kecelakaan tepat di depan matanya tahun 2010. Dia mulai berpikir, bahwa kematian begitu dekat dan berdakwah tak akan berhasil jika dilakukan dengan fanatisme dan ekstrimisme.

“Saya belajar lagi, semakin banyak membaca hadis-hadis yang sebelumnya tidak pernah saya baca. Nabi Muhammad baik dan penuh kasih kepada semua orang tanpa kecuali,” ujarnya.

“Saya ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Islam itu baik, Islam itu damai, Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Memakai cadar bukan radikal, bukan teroris.”

Diskriminasi

Memakai cadar membawa kenyamanan dan kedamaian tersendiri bagi Hana meski citra di masyarakat cenderung negatif.

Diskriminatif dan perlakuan tak menyenangkan pernah dirasakan Hana seperti diteriaki teroris, disuruh ke Arab hingga pandangan sinis pasien saat masih bekerja di rumah sakit karena dia satu-satunya dokter bercadar.

Ketua sekaligus pendiri Komunitas Niqab Squad, Indadari, mengatakan masih banyak orang beranggapan cadar adalah budaya Arab, dan belum terbiasa bahkan merasa aneh melihat perempuan bercadar.

Belum lama ini, pihaknya melakukan sosialisasi cadar di arena Car Free Day Jakarta yang diikuti puluhan anggota Niqab Squad.

Mereka membawa beraneka spanduk berbagai tulisan, “I’am Niqabis and I’m Not a Terrorist” dan tulisan-tulisan lain yang membantah stigma negatif terhadap cadar.

“Sangat disayangkan memang banyak diskriminasi diterima wanita yang memakai cadar, bahkan aku dengar sampai ada universitas melarang pemakaian niqab,” ujar Indadari.

Peneliti Terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, mengatakan cadar menjadi identik dengan terorisme karena terbentuk dari pemikiran masyarakat.

Menurutnya, banyak teroris justru berpenampilan tidak memakai pakaian islami dengan tujuan supaya tidak terlihat kalau dia teroris.

“Ini harus dihindari, jangan sampai menjudge orang hanya dari penampilan. Radikalisme dan terorisme adalah pola pikir yang diwujudkan dalam bentuk tindakan teror, tak bisa dilihat dari penampilan,” ujar Taufik.

Tampilan selengkapnya