“Drama diplomatik” bayangi KTT Menlu G20 di Bali dengan kehadiran Rusia

Analis mengatakan pertemuan ini akan menjadi barometer sukses tidaknya KTT puncak November nanti.
Dandy Koswaraputra dan Alvin Prasetyo
2022.07.06
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
“Drama diplomatik” bayangi KTT Menlu G20 di Bali dengan kehadiran Rusia Dalam foto tertanggal 6 Juli 2022 ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken tiba di Pangkalan Udara Joint Base Andrews di Maryland, AS, sebelum penerbangannya ke Bali untuk menghadiri KTT Menteri Luar Negeri G20.
[Stefani Reynolds/Pool via Reuters]

Para menteri luar negeri G20 akan bertemu di Bali dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) minggu ini yang oleh para analis diprediksikan akan dibayangi “drama diplomatik” dengan kehadiran Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, yang telah dikucilkan oleh Barat karena invasi militer negara tersebut ke Ukraina.

Baik Menlu Amerika Serikat Antony Blinken dan diplomat utama China Wangi Yi akan menghadiri pertemuan yang dimulai Kamis (7/7). Keduanya juga disebut akan melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT tersebut namun pertemuan antara Blinken dan Lavrov tidak diharapkan akan terjadi, kata seorang perwakilan Departemen Luar Negeri AS di Washington.

Namun para analis memperingatkan kehadiran Lavrov dapat menyebabkan perpecahan yang mengalihkan perhatian para delegasi dalam pertemuan di Bali itu yang diselenggarakan oleh Indonesia, pemegang presidensi G20 tahun ini.

“Kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia kemungkinan akan memicu ‘drama diplomatik’ seperti pernyataan menyudutkan negara agresor atau aksi meninggalkan forum,” kata Riza Noer Arfani, dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, kepada BenarNews.

Ia menambahkan jika para menteri itu terlibat dalam drama diplomatik, masalah yang lebih substansial seperti upaya mitigasi dampak perang Rusia-Ukraina tidak disentuh, hal itu akan membuat pertemuan tersebut sia-sia.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo, dalam beberapa kesempatan mengatakan bahwa “krisis pangan global yang disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina akan menyebabkan penduduk di negara berkembang terancam kelaparan dan jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.”

Sejak Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari, pasukan militernya telah memblokir semua pelabuhan Laut Hitam Ukraina dan memutus hampir semua akses ekspor negara itu – terutama biji-bijian – yang memicu kekhawatiran terjadinya krisis pangan global.

Namun dalam pertemuan di Moskow pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin meyakinkan Jokowi bahwa ia akan mengamankan pasokan makanan dan pupuk dari negaranya dan Ukraina, untuk mencegah krisis pangan global.

Sementara negara-negara Barat yang dipimpin oleh AS telah meminta Rusia untuk tidak diundang dalam pertemuan G20, anggota lain dari kelompok tersebut seperti Indonesia dan India menolak untuk melakukannya dan terus mempertahankan hubungan dengan Rusia.

Dalam persinggahan hari Rabu di Vietnam- negara sekutu dekat Rusia, Lavrov mengatakan dia tidak mengetahui adanya upaya untuk menghentikan Rusia berpartisipasi dalam pertemuan G20.

“Kami mendapat undangan Indonesia untuk menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri [G20] yang akan dibuka di Bali besok, dan KTT G20 di sana pada bulan November,” katanya seperti dikutip kantor berita Rusia TASS.

“Jika ada upaya seperti itu, pihak berwenang Indonesia mungkin akan mengabaikannya,” katanya.

“Beri kami alasan untuk bertemu”

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Edward Price menegaskan tidak mengharapkan keterlibatan bilateral dengan Menlu Lavrov pada kunjungan tersebut.

“Kami berharap melihat Rusia serius dalam diplomasi. Kami belum melihat itu. Kami ingin agar Rusia memberi kami alasan untuk bertemu secara bilateral dengan mereka, dengan Menteri Luar Negeri Lavrov, tetapi satu-satunya hal yang kami lihat dari Moskow adalah lebih banyak soal kebrutalan dan agresi terhadap rakyat dan negara Ukraina,” kata Price dalam konferensi pers, Rabu.

Menlu Jerman Annalena Baerbock memberikan tanggapan senada “kami tidak akan membiarkan Rusia mengambil alih panggung pertemuan.”

“Kita semua berkepentingan untuk memastikan bahwa hukum internasional dipatuhi dan dihormati,” kata Baerbock dalam sebuah pernyataan sebelum berangkat ke Bali.

Sementara itu, Menlu Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa semua negara anggota G20 akan diwakili oleh diplomat top mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah menolak mengomentari kemungkinan ketegangan atas partisipasi Lavrov, tetapi mengatakan, “Kita sebagai diplomat kan harus siap dengan berbagai kemungkinan.”

Ia mengatakan, rangkuman hasil pertemuan itu bisa berupa pernyataan dari Indonesia sebagai ketua.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Harmianin berharap kekhawatiran bangsanya terhadap pembunuhan warga sipil yang terus terjadi dapat menjadi perhatian forum tersebut. 

“Saya mengharapkan komunitas global, umat manusia bersatu melawan serangan kolonial Rusia terhadap demokrasi dan kedaulatan, meneror dan memeras dunia dengan ancaman nuklir, kelaparan dan krisis energi,” kata Harmianin kepada BenarNews.

“Kejahatan perang besar-besaran terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh Rusia di Ukraina menyebabkan puluhan ribu warga sipil Ukraina terbunuh, kota-kota hancur serta memunculkan krisis ketahanan pangan global.”

Barometer KTT G20

Indonesia, yang telah mencoba “menengahi” konflik antara Rusia dan Ukraina, mengatakan pertemuan itu akan membahas upaya kolektif memperkuat multilateralisme dan mencegah krisis pangan akibat perang kedua negara.

"Kenaikan harga komoditas dan gangguan rantai pasokan global berdampak besar pada negara-negara berkembang," kata Kementerian Luar Negeri RI dalam sebuah pernyataan, Rabu.

“Untuk itu, G20 sebagai forum ekonomi yang mewakili berbagai kawasan di dunia memiliki kekuatan untuk membahas masalah ini secara komprehensif untuk menemukan solusi sosial ekonomi yang berkelanjutan.”

Agus Haryanto, seorang dosen hubungan internasional di Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerta mengatakan pertemuan minggu ini akan menjadi barometer pertemuan puncak G20 November ini.

“Ini bisa menjadi semacam ajang untuk memprediksi bagaimana G20 nanti. Jika FMM (Foreign Ministers' Meeting) ini berhasil, maka kemungkinan G20 November nanti akan dihadiri oleh seluruh kepala negara,” kata Agus kepada BenarNews.

Para menteri harus berbicara tentang bagaimana membawa perdamaian kembali ke Ukraina setelah kunjungan Jokowi ke Kyiv dan Moskow pekan lalu, demikian seorang diplomat senior Indonesia, Sugeng Rahardjo, kepada kantor berita nasional Antara.

“Hasil positif dari perjalanan Jokowi ini patut ditindaklanjuti oleh anggota G20 dalam pertemuan mereka di Bali,” kata Sugeng.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.