TNI dan Polri Buru Kelompok Bersenjata yang Membunuh 2 Intelijen di Aceh

Oleh Nurdin Hasan
2015.03.30
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
ID_TNI_TERBUNUH_DI_ACEH_MISTERI_700_AFP.jpg TNI mempersiapkan patroli berjalan di jalan utama di Banda Aceh, 3 Desember 2001 untuk mengantisipasi perayaan ulang tahun ke-25 Gerakan Aceh Merdeka pada 4 Desember.
AFP

Ratusan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan polisi memburu kelompok bersenjata yang diduga menculik dan mengeksekusi dua anggota intelijen Komando Distrik Militer (Kodim) Aceh Utara. Polisi mengindikasikan ketidakmerataan  ekonomi mantan GAM menjadi sebab pembunuhan.

Operasi dilancarkan di pedalaman Kabupaten Aceh Utara di Kecamatan Nisam Antara (dimana mereka tewas), dan sekitarnya.

Dua personel intelijen Kodim Aceh Utara, Hendrianto dan Indra Irawan, ditemukan tewas dengan luka tembak di Nisam Antara tanggal 24 Maret. Lokasi ini dikenal sebagai markas gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Mereka diduga diculik belasan pria bersenjata setelah bertamu ke rumah tokoh masyarakat, Muhammad Daud, tanggal 23 Maret untuk bertanya tentang kelompok Din Minimi. Ia adalah mantan anggota GAM yang masih mengangkat senjata melawan Pemerintah Aceh. Belum ada yang bertanggung jawab terhadap kasus itu.

“Sekitar pukul 18:00 WIB, sejumlah warga mendengar tiga kali tembakan dari waduk Paya Peunjot, di Nisam Antara,” kata Daud.

Polisi menemukan dua jenazah tidak jauh dari lokasi mereka diculik.

Pemerintah Indonesia dan GAM menandatangani perjanjian di Helsinki tanggal 15 Agustus 2005 untuk mengakhiri 30 tahun konflik yang menewaskan setidaknya 25.000 orang, umumnya warga sipil.

Komandan Komando Resort Militer 011/Lilawangsa, Kolonel Infanteri Ahmad Daniel Chardin, berkata keberadaan kelompok bersenjata belum terdeteksi.

“TNI dan polisi terus mempersempit ruang gerak mereka. Operasi ini bukan semata-mata memburu kelompok bersenjata, tetapi juga menetralisir (situasi) supaya masyarakat tidak resah,” katanya kepada BenarNews.

“Motifnya bagi-bagi rezeki yang tidak merata. Sekarang sudah damai, ada yang jadi kontraktor, ada pejabat tetapi mereka tidak dapat apa-apa sehingga melakukan aksi kriminal bersenjata,” ujarnya, yang menyebutkan bahwa kelompok itu terlibat bisnis narkotika jenis ganja dan sabu.

Ditanya kenapa yang menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan adalah personel TNI, Ahmad menyebutkan dalam beberapa pekan terakhir pasukan TNI menemukan ladang ganja di daerah pedalaman Aceh Utara.

“Kita bakar ladang ganja yang ditemukan oleh TNI sehingga mereka merasa terganggu,” ujarnya.

Desakan penarikan TNI

Pengerahan ratusan personel TNI ditentang Hendra Saputra, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang Dan Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh. Dia mendesak pimpinan TNI menarik semua pasukan ke barak.

“Proses hukum sepenuhnya berada pada kepolisian kendati yang jadi korban anggota TNI. Keberadaan TNI di Nisam Antara dapat membawa trauma dan dampak psikologi bagi masyarakat Aceh yang hidup pasca-konflik,” katanya.

Aryos Nivada, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, menyatakan, meningkatnya kriminalitas bersenjata di Aceh akibat lambannya pemerintah mewujudkan kesejahteraan untuk masyarakat, terutama mantan kombatan GAM.

“Dana pembangunan tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh bekas anggota GAM sehingga mereka melakukan tindakan kriminal. Padahal tampuk pimpinan Aceh sekarang dipegang mantan tokoh GAM. Malah, ada dari mereka yang terlihat bisnis narkoba,” katanya.

Aryos mengkritik pelacakan kasus-kasus kekerasan bersenjata di Aceh.

"Pengerahan dan penyisiran yang dilakukan TNI di Aceh Utara terkesan seolah-olah pelaku pembunuhan dua intel TNI adalah kelompok separatis. Padahal pengusutan kasus itu masuk wilayah penegakan hukum di bawah kendali polisi," tegasnya.

“Ada indikasi teroris”

Pakar terorisme Al Chaidar berkata pelaku penembakan dua intel TNI adalah kelompok teroris jaringan Abu Roban, gembong teroris Mujahideen Indonesia Timur (MIT) yang tewas di Kendal tahun lalu.

“Saya menduga mereka adalah anak buah Abu Roban karena keberanian menyerang terhadap anggota TNI. Model eksekusi terhadap korban memberondong senjata api laras panjang dari jarak dekat. Mantan GAM atau kelompok lain harus pikir dua kali melakukan aksi seperti itu,” katanya saat diwawancarai BenarNews, Jumat (28/3).

Saat pernyataan Al Chaidar dikonfirmasi kepada Kolonel Infanteri Ahmad, ia menyebutkan sejauh ini belum terindikasi pelaku dari kelompok jaringan teroris.

“Islam di Aceh sangat moderat dan sulit menerima pengaruh radikal,” katanya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya