Lonjakan COVID-19 Picu Perlambatan Pertumbuhan Triwulan Ketiga

Analis optimistis kinerja ekonomi ke depan akan lebih baik seiring dibukanya pembatasan dan meningkatnya vaksinasi.
Ronna Nirmala
2021.11.05
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Lonjakan COVID-19 Picu Perlambatan Pertumbuhan Triwulan Ketiga Warga berbelanja di sebuah pasar yang dibuka di sebuah jalan di Jakarta, 5 November 2021.
AFP

Pembatasan mobilitas akibat melonjaknya kasus COVID-19 sepanjang Juli-Agustus menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan ketiga tahun ini dibanding periode sebelumnya, demikian laporan Badan Pusat Statistik pada Jumat (11/5). 

Produk domestik bruto (PDB) sepanjang triwulan ketiga, atau pada Juli-September 2021 tumbuh 3,5 persen secara tahunan. Performa tersebut turun bila dibandingkan dengan kuartal kedua sebesar 7,07 persen, yang sekaligus menjadi penanda Indonesia keluar dari zona resesi ekonomi akibat jatuhnya konsumsi rumah tangga selama pandemi.

“Aktivitas masyarakat di triwulan ketiga tahun 2021 di beberapa tempat tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan kedua tahun 2021 dan triwulan ketiga tahun 2020,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam keterangan pers di Jakarta. 

Pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat ketat sejak bulan Juli hingga Agustus untuk memutus penyebaran virus corona. Sepanjang penerapan pembatasan itu, Indonesia mencatat rekor untuk kasus positif dan kematian harian. 

Kasus positif tertinggi dilaporkan pada 15 Juli yakni 56.757 sementara korban jiwa terbesar pada 27 Juli yaitu 2.069 orang.

Pelonggaran bertahap mulai dilakukan sejak September, dengan perkembangan terakhirnya, Indonesia mengizinkan kedatangan turis dari 19 negara menuju Bali dan Kepulauan Riau terhitung sejak 14 Oktober 2021. 

Margo mengatakan, sepanjang periode kuartal ketiga tahun ini, komponen konsumsi rumah tangga yang menjadi kontribusi ekonomi terbesar hanya tumbuh 1,03 persen secara tahunan yang diikuti komponen konsumsi pemerintah tumbuh 0,66 persen. 

Anjloknya jumlah penumpang angkutan rel dan udara baik untuk perjalanan domestik dan internasional, masing-masing sebesar 40,10 persen dan 23,30 persen, menjadi kontributor utama penurunan kinerja konsumsi rumah tangga. 

“Dari sektor pengeluaran, kami melihat pola yang serupa antara pembatasan mobilitas akibat varian Delta dengan (lonjakan kasus) sebelumnya. Sektor-sektor yang terkait dengan pergerakan orang seperti transportasi, hotel, dan restoran, mencatat pertumbuhan negatif setelah membaik pada kuartal kedua,” tulis para analis di Bank Danamon Indonesia. 

Komponen ekspor barang dan jasa naik mencapai 29,16 persen seiring dengan perekonomian sebagian besar negara mitra dagang utama seperti China, Amerika Serikat, dan Singapura, yang mengalami peningkatan. Kendati demikian, performa impor masih lebih tinggi dengan 30,11 persen dengan didorong oleh impor non-migas pada komoditas mesin, besi dan baja, serta plastik.

Di bawah proyeksi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 4,5 persen, dengan melihat dampak gelombang kedua COVID-19 itu pada sejumlah sektor perekonomian. 

“Kita mengalami lonjakan akibat varian Delta yang sangat tinggi dan menyebabkan adanya koreksi pada pemulihan ekonomi,” kata Sri Mulyani dalam konferensi bulan lalu. 

Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga juga di bawah proyeksi para analis keuangan di Bank Mandiri dengan proyeksi 4,16 persen secara tahunan.

“Secara umum, penerapan pembatasan aktivitas publik ini menyebabkan permintaan domestik pada kuartal ketiga tahun 2021 menjadi lesu,” tulis ekonom Faisal Rachman, dalam Macro Brief Bank Mandiri, Jumat.

Kendati demikian, Faisal optimistis kinerja ekonomi pada kuartal depan akan jauh lebih baik seiring dengan mulai dibukanya kembali mobilitas publik dan laju vaksinasi yang terus meningkat. 

“Kami melihat dua hal ini akan mendorong perbaikan ekonomi domestik pada kuartal keempat. Selain itu, peningkatan permintaan eksternal di tengah pemulihan ekonomi global juga akan memberi kontribusi yang signifikan kepada PDB,” kata Faisal.

“Secara keseluruhan, kami memperkirakan PDB Indonesia akan meningkat sebesar 3,69% untuk sepanjang tahun ini,” tambahnya.

Per Jumat (5/11) angka terkonfirmasi positif COVID-19 bertambah 518, menjadikan total keseluruhan kasus sebanyak 4.247.320. Angka kematian bertambah 19 orang, sehingga akumulasi nasional sejak pandemi terkonfirmasi di Indonesia pada satu setengah tahun lalu menjadi 143.519.

Setidaknya 123,8 juta orang telah divaksinasi, atau 59% dari target 208,2 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Ini termasuk 77,6 juta orang yang telah mendapatkan dosis kedua dan 1,15 juta lainnya yang mendapatkan booster atau dosis ketiga.

Arief Budimanta, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, mengatakan kinerja ekonomi pada kuartal ini mencerminkan proses adaptasi kegiatan masyarakat di tengah pandemi. 

“Ini menjadi modal sosial yang kuat bagi ekonomi kita untuk terus tumbuh dan membaik meskipun pandemi belum sepenuhnya berakhir,” kata Arief, dalam keterangan tertulis, Jumat. 

“Dengan pencapaian tersebut, kita meyakini bahwa Indonesia akan mampu menggenjot lagi pertumbuhan ekonominya pada triwulan keempat, setelah pergerakan masyarakat mulai diperlonggar,” lanjut Arief. 

Perekonomian Indonesia masuk ke jurang resesi pada kuartal ketiga tahun lalu, setelah kinerja minus pada dua kuartal sebelumnya secara berturut-turut yakni 3,49 persen dan 5,32 persen. Kinerja ini menjadi yang terburuk dalam dua dekade terakhir. Kontraksi PDB tetap berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini dengan minus 0,74 persen. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya