Follow us

WNI Pelaku Pemboman di Gereja Filipina Terpapar Radikalisme Sejak Usia Belasan

BNPT tengah menyiapkan satuan tugas untuk memastikan nasib WNI terkait ISIS yang masih berada di Timur Tengah.
Arie Firdaus & Ika Inggas
Jakarta & Washington
2019-07-25
Email
Komentar
Share
Polisi dan tentara bersiaga di depan Gereja Katedral Bunda Maria Gunung Karmel setelah terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 100 orang di Jolo, Filipina Selatan, 27 Januari 2019.
Polisi dan tentara bersiaga di depan Gereja Katedral Bunda Maria Gunung Karmel setelah terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 100 orang di Jolo, Filipina Selatan, 27 Januari 2019.
AFP

Laki-laki yang bersama istrinya meledakkan diri di sebuah gereja di Filipina Januari lalu telah terpapar radikalisme sejak usia belasan dan mengenal cara membuat bom lebih dari 10 tahun lalu, demikian kata aparat.

Pasangan suami istri asal Sulawesi Selatan, Rullie Rian Zeke (35) dan Ulfah Handayani Saleh (32), melakukan serangan bunuh diri di Gereja Katedral Bunda Maria Gunung Karmel di Jolo, Filipina Selatan, pada 27 Januari lalu, menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 100 orang.

“Ia (Rullie) bergabung dengan kelompok radikal pada tahun 1999 dan belajar membuat bom pada tahun 2008,” kata kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Suhardi Alius.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyebutkan bahwa Rullie dan Ulfah sempat meninggalkan Indonesia untuk bergabung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada Maret 2016 bersama ketiga anaknya, namun tertangkap otoritas Turki pada Januari 2017 dan kemudian dideportasi ke Indonesia.

"Mereka sempat menjalani rehabilitasi singkat dan diizinkan pulang," katanya.

Suhardi Alius mengatakan sempat bertemu dengan mereka ketika mereka dideportasi.

“Mereka adalah bagian dari 75 anggota keluarga Basalamah yang terdiri dari tiga generasi yang ingin bergabung dengan ISIS namun belum sampai di Suriah telah dideportasi,” kata Suhardi, menambahkan bahwa keluarga ini juga yang mempengaruhi pelaku serangan bom di Surabaya tahun lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Brigadir Jenderal Pol. Dedi Prasetyo, menyangkal pihaknya kecolongan dengan pelaku bom di Filipina tersebut yang sudah mengikuti program rehabilitasi.

"Namanya terduga teroris dan aparat kan kucing-kucingan. Kami akan memperkuat pengawasan di masa mendatang," katanya kepada BeritaBenar di Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019.

Al Chaidar, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe, Aceh, menduga Rullie dan Ulfah kemungkinan dilepas tanpa proses hukum karena dinilai tidak memiliki cukup bukti pelanggaran pidana terorisme.

“Mungkin karena dianggap belum memasuki Suriah,” kata Al Chaidar saat dihubungi.

Sedangkan terkait menguatnya paham radikal kedua pelaku meski sempat direhabilitasi, Chaidar mengatakan tak terlalu terkejut.

“Materi di Bambu Apus (panti rehabilitasi) setahu saya hanya kontra narasi, seperti soal Pancasila atau nasionalisme. Enggak penting itu bagi mereka,” ujarnya.

Komjen Suhardi Alius mengiyakan bahwa Rullie dan Ulfah hanya mengikuti program rehabilitasi singkat dan kemudian diijinkan pulang.

“Sebelum Undang-undang Anti Terorisme direvisi, kita hanya bisa menahan mereka selama sebulan untuk mengikuti program rehabilitasi sebelum dilepaskan kembali,” kata Suhardi minggu ini saat kunjungannya di Washington, Amerika Serikat. “Siapa yang bisa memastikan mereka sudah bebas dari radikalisme?” katanya.

“Itulah sebabnya saya meminta Kementerian Luar Negeri untuk bisa mengidentifikasi dan memonitor orang-orang seperti ini,” kata Suhardi, menambahkan bahwa Undang-undang Antiterorisme yang baru akan bisa memastikan orang-orang tersebut bisa dipidana atau tidak berbahaya lagi ketika kembali ke masyarakat.

Orang terdepan dalam penanganan terorisme di Tanah Air itu mengatakan Indonesia saat ini tengah membentuk Satuan Tugas (Task Force) di bawah kepemimpinan BNPT dengan anggota Kementerian Luar Negeri, Badan Intelejen Nasional (BIN), militer, Departemen Sosial dan institusi terkait lainnya, untuk memutuskan nasib WNI yang memiliki hubungan dengan ISIS yang saat ini masih berada di Timur Tengah.

Suhardi juga menyatakan, sebagai penyeimbang "hard approach" BNPT juga mengedepankan pendekatan secara lembut (soft approach), dengan mengajak anggota masyarakat dan para eks militan dalam membantu tugas deradikalisasi.

“Suatu yang keras jika kita pukul dengan kekerasan maka ini akan hancur, tapi ini bukan barang mati, tapi barang hidup yang menjadi sel-sel teroris yang akan tumbuh lagi,” kata Suhardi kepada BeritaBenar.

Pergi tak bersamaan

Sidney menyatakan pasangan suami istri itu pergi ke Filipina Selatan tidak bersamaan.

Rullie diketahui telah memasuki Filipina beberapa bulan sebelum kejadian, sedangkan istrinya, Ulfah, datang beberapa hari sebelum bom diledakkan pada 27 Januari 2019.

"Laki-laki (Rullie) diduga masuk pada Mei 2018, karena sudah ada foto dia dalam camp di Jolo pada pertengahan 2018," kata Sidney.

"Seingat saya sekitar Agustus 2018 (foto di kamp Jolo)."

Sidney belum bisa merinci jalur masuk pasangan suami istri tersebut, tapi yang pasti mereka memasuki wilayah Filipina secara ilegal.

"Apakah mereka lewat Kalimantan atau bagaimana, tidak tahu," kata Sidney lagi.

Dugaan keberangkatan mereka melalui Kalimantan muncul setelah Polri menyebutkan bahwa Rullie dan Ulfah dibantu Andi Baso menuju Filipina.

Andi Baso yang masih buron dan kini disebut berada di Filipina, diduga terlibat dalam serangan bom di Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, pada November 2016, yang mengakibatkan seorang bayi meninggal dunia.

"Diduga mereka lewat Kalimantan Timur, Sandakan (Malaysia), lalu ke Filipina," kata Al Chaidar.

Didoktrin di Surabaya

Mengenai muasal Rullie dan Ulfah terpapar paham radikal, Sidney mengatakan belum mengetahuinya.

Hal sama juga disampaikan Brigjen Dedi, yang hanya menyebutkan keduanya didoktrin paham radikal di tanah air, tanpa memerinci lokasi, waktu, dan pemberi doktrin.

“Sejauh ini, bahwa pasangan itu dicuci otak, ditanamkan nilai dan paham radikal ekstrem, di Indonesia,” kata Dedi.

“Sejak di sini juga muncul kesanggupan mereka untuk menjadi pengantin atau pelaku bom bunuh diri.”

Menurut Al Chaidar, kesanggupan menjadi pelaku bom bunuh diri diduga diutarakan Rullie dan Ulfah saat mendalami paham radikal lewat Khalid Abu Bakar pada 2014 di Surabaya, Jawa Timur.

“Di Surabaya itu sudah ada kesanggupan mereka menjadi pelaku bom bunuh diri,” kata Al Chaidar.

Khalid yang hingga kini masih buron merupakan ideolog Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang disebut juga sebagai guru Dita Oepriarto, salah satu pelaku serangan bom bunuh diri di Surabaya pada Mei 2018.

“Tapi waktu itu belum ditentukan lokasinya (bom bunuh diri),” ujar Al Chaidar.

“Kenapa kemudian memilih Filipina, mungkin mengikuti seruan Khalid Abu Bakar yang menyatakan, ‘jika tak sanggup ke Suriah, pergi lah ke Filipina yang dianggap semacam kekhalifahan kedua ISIS’.”

Al Chaidar menambahkan bahwa perkenalan pertama ideologi radikal pasangan suami istri itu adalah secara daring, lewat buku Aman Abdurrahman, Millah Ibrahim.

Aman yang telah divonis hukuman mati pada Juni 2018 adalah pendiri dan sekaligus dianggap pemimpin spiritual Jamaah Ansharut Daulah (JAD) – kelompok yang diklaim Polri berada di balik serangkaian aksi teror di Indonesia.

Tampilan selengkapnya