Follow us

Filipina: Perempuan WNI Terlibat Plot Bom Bunuh Diri, akan Dideportasi

Pejabat juga umumkan penangkapan anggota Abu Sayyaf.
Staf BenarNews
Zamboanga, Filipina
2020-10-12
Email
Komentar
Share
Tentara Filipina melakukan investigasi di dalam gereja Our Lady of Mount Carmel di Jolo, provinsi Sulu, Filipina, setelah terjadi serangan bom bunuh diri, 28 Januari 2019.
Tentara Filipina melakukan investigasi di dalam gereja Our Lady of Mount Carmel di Jolo, provinsi Sulu, Filipina, setelah terjadi serangan bom bunuh diri, 28 Januari 2019.
AFP

Pihak berwenang Filipina berencana untuk menuntut dan mendeportasi seorang perempuan warga negara Indonesia yang diduga dipersiapkan sebagai pembom bunuh diri, kata pihak berwenang negara itu ketika polisi pada Senin (12/10) mengumumkan penangkapan baru terhadap tersangka sejumlah militan Muslim.

Jurnalis belum mendapatkan akses ke Rezky Fantasya Rullie (alias Cici atau Nana Isirani), yang diidentifikasi sebagai anak pasangan asal Indonesia yang melakukan serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Pulau Jolo di wilayah selatan Filipina tahun lalu. Dia ditangkap Sabtu di Jolo bersama dua warga Filipina yang dicurigai mempersiapkan misi bunuh diri dan diyakini menikah dengan anggota Abu Sayyaf, kelompok militan bersenjata pro-ISIS.

"Kasus deportasi telah diajukan terhadap Rullie atas tuduhan terorisme, pendatang ilegal, dan orang yang tidak diinginkan, terlepas dari tuntutan pidana yang dia hadapi," kata Melody Gonzales, kepala Biro Imigrasi Unit Tugas Intelijen Mindanao, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan hari Minggu.

Jenderal Camilo Cascolan, kepala Kepolisian Nasional Filipina, mengatakan Rullie diyakini hamil lima bulan dan berencana melancarkan serangan bom setelah melahirkan, menurut Kantor Berita Filipina, Senin.

Itulah informasinya. Kami beruntung bisa menangkap (dia),” kata Cascolan, “dia masih di Sulu. Kami masih harus mendapatkan hasil penyelidikan tentang kewarganegaraannya dan pada saat yang sama kami masih harus mendapatkan sejumlah informasi sebagai bagian dari prosedur dan kami harus menjaga kesehatan fisiknya. "

Cascolan, yang berada di Filipina selatan pada akhir pekan dalam perjalanan penilaian keamanan, mengatakan penangkapan Rullie dan rekan-rekannya kemungkinan besar telah mencegah serangan bom lainnya dan menyelamatkan puluhan nyawa.

Gonzalez mengatakan Rullie ditangkap setelah berbulan-bulan diawasi karena dia diduga merencanakan serangan di Jolo, pulau utama di rantai Sulu yang merupakan sarang Abu Sayyaf. Ditangkap bersamanya adalah Inda Nurhaina dan Fatima Sandra Jimlani, keduanya istri dari anggota Abu Sayyaf, kata pihak berwenang.

“Sebuah rompi bunuh diri, bom, dan komponen pembuat alat peledak improvisasi lainnya ditemukan pada ketiganya,” kata Gonzales, menambahkan bahwa Rullie adalah “target bernilai tinggi” dalam perang pemerintah melawan terorisme.

Penyelidik mengidentifikasi Rullie, yang mungkin berusia sekitar 20 tahunan, sebagai anak dari pasangan bom bunuh diri yang menewaskan 21 orang lainnya pada Januari 2019.

Rezky Fantasya Rullie (Dok. Joint Task Force Sulu)

Orang tua Rullie, Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, melakukan pemboman kembar di gereja Our Lady of Mount Carmel di Jolo, juru bicara Kepolisian Nasional Indonesia Awi Setiyono mengkonfirmasi Senin, tetapi dia tidak dapat segera mengatakan bahwa Rullie adalah perempuan yang saat ini ditahan polisi Filipina.

“Kami belum menerima informasinya,” kata Awi kepada BenarNews.

Dia mengatakan keluarganya mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah tetapi pihak berwenang Turki telah menolak mereka pada awal 2017.

“Mereka kemudian masuk ke Filipina selatan secara ilegal lewat Malaysia dengan bantuan Andi Baso pada 2018,” ujarnya.

Agen intelijen Filipina mengidentifikasi Rullie sebagai istri Baso, seorang pembom bunuh diri asal Indonesia yang sedang menjalani pelatihan yang diyakini dibunuh oleh tentara Filipina pada 29 Agustus. Tubuhnya belum ditemukan.

Rullie dan Baso diyakini berada di bawah kepemimpinan Mundi Sawadjaan, seorang pembuat bom yang mendalangi  sebuah serangan bom bunuh diri ganda, juga di Jolo, yang menewaskan 15 orang pada Agustus. Mundi adalah keponakan dari Hatib Hajan Sawadjaan, komandan ISIS Filipina dan pemimpin senior Abu Sayyaf.

Pasangan itu mencoba melarikan diri dari provinsi Sulu dengan Mundi Sawadjaan beberapa hari setelah pemboman 24 Agustus, tetapi gagal, demikian Badan Koordinasi Intelijen Nasional Filipina melaporkan sebelumnya.

Penangkapan Abu Sayyaf

Sementara itu, pihak berwenang pada hari Senin mengumumkan bahwa polisi dan pasukan militer telah menangkap tiga militan Abu Sayyaf yang diduga bertindak sebagai "saluran keuangan" antara ISIS dan Mundi Sawadjaan, kata Cascolan.

Ketiga orang yang ditangkap pada Jumat itu diidentifikasi sebagai Kadija Sadji, 31, Abdulman Sarapuddin Tula, 32, dan Jailani Al-Rafee Sakandal, 31. Mereka ditangkap karena "kepemilikan ilegal komponen alat peledak rakitan," kata kepala polisi itu.

"Juga disita dari ketiganya adalah dua granat tangan, pistol kaliber .45, beberapa butir amunisi senapan, dan bendera hitam ISIS," kata Cascolan

Dia mengatakan Tula telah diidentifikasi sebagai petugas pengadaan dan logistik Sawadjaan di Jolo.

Sadji diyakini sebagai istri Al Asgar, putra almarhum pendiri Abu Sayyaf, Abdurajak Abubakar Janjalani. Dia diduga termasuk dalam sel saluran keuangan yang sama dengan dua perempuan yang masing-masing ditangkap tahun lalu dan pada bulan Juni, kata Cascolan.

Sakandal, seorang pelaut yang bekerja dengan penjaga pantai setempat, berada di rumah tersebut dalam penggerebekan itu dan pihak berwenang sedang dalam proses untuk menentukan perannya, ujarnya.

Juga di Zamboanga pada hari Minggu, polisi dan tim militer menangkap Hassan Anang Mohammad, yang diidentifikasi sebagai militan Abu Sayyaf yang terlibat dalam penculikan dan pemenggalan kepala Doroteo Gonzales pada Mei 2009, kata militer.

Ronna Nirmala di Jakarta, serta Jeoffrey Maitem dan Mark Navales di Cotabato, Filipina, turut berkontribusi untuk laporan ini.

Tampilan selengkapnya