Follow us

Indonesia Buka Pintu untuk Bantuan Asing

Mabes Polri dan LSM lokal melaporkan korban jiwa sudah mencapai 1200 lebih.
Tria Dianti & Keisyah Aprilia
Jakarta & Mamuju
2018-10-01
Email
Komentar
Share
Petugas Basarnas membawa jenazah korban setelah dievakuasi dari reruntuhan Hotel Roa-Roa di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2018.
Petugas Basarnas membawa jenazah korban setelah dievakuasi dari reruntuhan Hotel Roa-Roa di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2018.
Yayank Stiv/BeritaBenar

Pemerintah Indonesia menyatakan bersedia menerima bantuan asing kepada warga terdampak gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, sementara jumlah korban meninggal dunia terus bertambah dan operasi pencarian masih dilakukan di sejumlah lokasi.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan bahwa hingga Senin, 1 Oktober 2018, jumlah korban tewas telah mencapai 844 orang, 90 lainnya hilang dan 632 terluka parah.

Sutopo merincikan 821 orang meninggal dunia berasal dari Palu, 11 dari Kabupaten Donggala dan 12 lagi berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter dan tsunami yang terjadi Jumat pekan lalu.

Tapi, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen. Pol. Dedi Prasetyo menyatakan bahwa berdasarkan data yang dikumpulkan Polri, korban tewas berjumlah 1.203 orang hingga Senin pagi.

Data sama juga disampaikan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menyebutkan 1.203 mayat sudah ditemukan. Informasi itu berdasarkan laporan yang diperoleh para relawan di lokasi bencana.

Sutopo meyakini korban tewas akan bertambah karena masih banyak orang yang hilang serta terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.

"Fokus kami adalah memprioritaskan evakuasi dan penyelamatan korban yang diperkirakan masih tertimbun puing bangunan," katanya dalam jumpa pers di Jakarta.

Selain itu, tambahnya, 48.025 jiwa terpaksa harus mengungsi di Palu yang tersebar di 103 titik.

Tiga hari pasca-bencana, 18 jenazah korban dimakamkan secara massal Senin siang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya Indah, Palu. Di situ, disiapkan lubang untuk pemakaman 1.000 mayat.

Kepala Badan SAR Nasional Marsdya TNI M Syaugi menyebutkan medan untuk mencari korban yang tertimbun bangunan, cukup berat karena kurang alat berat seperti eksavator.

"Namun, kami tetap beroperasi di area yang kemungkinan besar terdapat korban sesuai laporan masyarakat."

Beberapa kendala lain, menurut Sutopo, menghambat penanganan pascabencana antara lain listrik yang masih padam, akses komunikasi belum pulih, alat berat terbatas, jumlah personil dan perlengkapan perlu ditambah, serta kondisi jalan rusak.

Bantuan asing

Sutopo mengatakan Indonesia siap menerima bantuan asing bagi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Mekanisme dan prosedurnya sedang disiapkan BNPB dan Kementerian Luar Negeri sesuai peraturan yang ada.

“Saya baru saja berkomunikasi dengan Menlu di New York. Beliau mengatakan Presiden telah menyatakan menerima bantuan internasional sesuai kebutuhan kita. Artinya kita welcome dengan tawaran internasional. Bukan meminta. Nanti akan dikoordinir Menkopolhukam,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, mengatakan sudah ada 18 negara yang menawarkan bantuan tanggap darurat antara lain Amerika Serikat (AS), Perancis, Australia, Cheko, Korea Selatan, Australia, Swiss, Qatar, Uni Eropa, Japan, India, China dan Thailand.

Dikatakan, Korea Selatan bersedia menyumbang USD 1 juta, Uni Eropa Rp25 miliar dan China USD 200 ribu.

“Kami terima bantuan atas berbagai alasan, utamanya karena solidaritas dan kerjasama yang telah dibangun Indonesia dan berbagai negara puluhan tahun. Selama bantuan tepat waktu dan bermanfaat kami menghargainya,” katanya.

Sejumlah warga menjarah mobil pengangkut bahan bakar minyak yang melintas di Kota Palu, 1 Oktober 2018. (Yayank Stiv/BeritaBenar)
Sejumlah warga menjarah mobil pengangkut bahan bakar minyak yang melintas di Kota Palu, 1 Oktober 2018. (Yayank Stiv/BeritaBenar)

 

‘SPBU habis dijarah’

Selain membutuhkan pasokan makanan dan minuman, warga yang masih bertahan di ratusan titik pengungsian di Palu, Donggala, dan Sigi, mendesak pemerintah segera mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM).

"Tidak bisa bergerak kami di sini. Kendaraan ada percuma namun tidak bisa digunakan karena tidak ada BBMnya," kata seorang warga Palu, Andi Ishak, kepada BeritaBenar.

Menurutnya, seluruh SPBU yang ada di dalam kota sudah habis dijarah warga, hasil jarahan itu pun sudah hampir habis.

"Sudah mau habis ini hanya untuk genset. Kalau Tidak begitu tidak bisa dapat aliran listrik kami di sini," ungkap Andi.

Pasokan BBM ke Palu, Donggala, dan Sigi memang semakin sulit terlebih terminal yang menjadi satu-satunya penyuplai BBM yang berpusat di Donggala hancur dihantam tsunami.

Sedangkan pasokan dari kabupaten tetangga seperti Poso, Parigi Moutong, Tolitoli, dan Buol sangat terbatas.

"Kami masih menunggu bantuan lagi. Karena stok yang dibagikan kemarin tidak sampai di kami," kata warga lain, Muhammad Fitrah.

Selain itu, sejumlah warga yang selamat memilih mengungsi keluar Sulawesi Tengah karena sulitnya keadaan.

"Rumah sudah hancur, kami juga kekurangan makanan dan minuman," kata seorang warga Palu, Hafsah, yang mengaku untuk sementara mengungsi ke Makassar.

Warga lain, Herman Nurdin mengungsi ke Makassar karena tidak mampu melihat kondisi Palu yang sangat tidak kondusif.

"Saya tidak tahu mau bagaimana. Makanya ikut naik Hercules. Alhamdulillah sudah sampai di Makassar," katanya.

Herman berharap, anggota keluarganya yang masih belum ada kabar, bisa ditemukan. Pasalnya, saat gempa terjadi, ia tidak sedang bersama keluarganya karena berada di tempat kerja yang roboh.

"Sebelum ke sini, saya sudah cari di beberapa lokasi pengungsian tapi tak ketemu. Karena saya pikir banyak keluarga di Makassar, makanya saya ke sini," tuturnya.

Tampilan selengkapnya