Follow us

Mereka yang Terpisah dari Orangtua Akibat Gempa dan Tsunami Sulteng

Posko perlindungan anak Kementerian Sosial di Palu mencatat 50-an anak hilang berdasarkan laporan pihak keluarganya.
Keisyah Aprilia
Palu
2018-10-16
Email
Komentar
Share
Seorang anak membantu ayahnya menyelamatkan barang yang masih layak digunakan di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018.
Seorang anak membantu ayahnya menyelamatkan barang yang masih layak digunakan di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Puluhan anak terlihat semangat mengikuti permainan, yang dipandu relawan di bawah tenda posko pengungsian di Masjid Agung Darussalam, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Selasa, 16 Oktober 2018.

Mereka sedang diberi pemulihan oleh sejumlah relawan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Setiap hari ada trauma healing kami gelar. Kami fokus agar anak-anak di sini bisa pulih kembali,” ujar seorang relawan, Bambang Triyana.

Sebagian dari anak-anak berusia 8 hingga 16 tahun itu tanpa didampingi orangtua mereka, yang terpisah atau meninggal dunia akibat gempa berkekuatan 7,4 skala Richter yang disusul tsunami melanda Sulteng, pada 28 September lalu.

Bencana yang terjadi menjelang malam itu menewaskan lebih 2.000 orang dan ribuan lainnya dinyatakan hilang. Puluhan ribu warga terpaksa harus mengungsi karena rumah mereka hancur.

Dua di antara anak-anak itu ialah Lidya (13) dan Dino (16).

Bocah dari Kelurahan Lere itu harus hidup sebatang kara karena keluarganya dilaporkan telah meninggal dunia.

Kini, mereka yang merupakan saudara sepupu, ditampung tetangganya yang selamat.

“Orangtua kedua anak itu sudah meninggal dunia. Tidak ada tersisa keluarganya, jadi kami bawa ke sini,” tutur Indah Ratih (35).

Menurutnya, saat gempa dia menyelamatkan kedua anak itu dari rumah mereka setelah dititipkan orangtuanya untuk berjualan di Anjungan Teluk Palu. Saat tsunami menerjang mereka sudah berada di tempat aman.

“Orangtua Lidya dan Dino berjualan di lokasi Festival Palu Nomoni di Anjungan Teluk Palu. Katanya mau kembali usai magrib jadi anak-anak dititipkan sama saya,” katanya.

“Ketika orang-orang berteriak air laut naik setelah gempa kuat, dalam kondisi gelap, saya langsung ambil dua anak itu. Kami terus berlari ke tempat aman.”

Setelah sampai di tempat aman, Indah bersama suaminya mencarikan tumpangan untuk menjauh dari pemukiman mereka yang dekat laut.

Penasihat organisasi perlindungan anak Save the Children, Zubedy Koteng, mengungkapkan selain hilang atau terpisah dengan keluarganya, terdapat sekitar 600-an anak korban gempa dan tsunami di Palu mengalami trauma, yang kini tinggal di posko-posko pengungsian.

"Banyak anak shock dan trauma. Mereka ketakutan karena kehilangan keluarga. Di sisi lain, ada juga keluarga yang melaporkan anaknya hilang. Ini jelas harus dipulihkan,” katanya.

Foto anak yang dilaporkan hilang ditempel di pusat keramaian Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)
Foto anak yang dilaporkan hilang ditempel di pusat keramaian Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

 

Puluhan anak hilang

Hingga 18 hari bencana yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala, puluhan anak dilaporkan hilang dan belum diketahui keberadaannya.

Posko Sekretariat Bersama Perlindungan Anak yang dibangun Kementerian Sosial di Palu mencatat sekitar 50-an anak hilang berdasarkan laporan pihak keluarganya.

“Sampai kini kami sudah mendata 50-an anak hilang. Data ini kami terima berdasarkan laporan warga,” terang Koordinator Posko, Febriadi kepada BeritaBenar.

Selain mendata, mereka juga mengimbau warga agar secepatnya menghubungi posko jika menemukan anak yang terpisah dari keluarganya.

Menurutnya, relawan berusaha dengan berbagai cara seperti mendatangi lokasi-lokasi pengungsian dan rumah sakit sehingga bisa menemukan anak-anak yang terpisah dari keluarganya.

“Sudah ada empat anak yang kami pertemukan kembali bersama keluarganya,” ungkap Febriadi.

“Kami juga belum tahu persis apakah anak-anak itu memang hilang karena terpisah dari keluarganya atau sudah meninggal dunia. Makanya kami masih lakukan pencarian.”

Relawan dari Universitas Tadulako, Palu, yang bergabung dalam sekretariat itu, Fadlan Hamid menambahkan, 50-an anak hilang itu, terdata baik lewat registrasi langsung di sekretariat, maupun hasil aduan melalui jejaring media sosial, dan selebaran.

Bila masuk laporan anak hilang, jelasnya, para relawan langsung menyebarkan foto anak dengan menggunakan berbagai saluran informasi.

“Salah satu contoh kami menyebar foto beserta identitas anak yang dicari ke sejumlah tempat, di posko pengungsian, rumah sakit, dan tempat umum lain,” ungkapnya.

Seorang perempuan bersama anaknya di posko pengungsian Masjid Agung Darussalam, Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)
Seorang perempuan bersama anaknya di posko pengungsian Masjid Agung Darussalam, Palu, Sulawesi Tengah, 16 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

 

Hingga ke Makassar

Upaya tanpa kenal lelah orang tua untuk mencarikan anak yang terpisah ketika tsunami membuahkan hasil seperti dilakoni Subaedah.

Perempuan 38 tahun itu terpisah dengan anaknya, Muhammad Zaki (12) ketika tsunami menerjang rumahnya di Kelurahan Lere.

Semangatnya yang begitu tinggi dan yakin kalau anaknya masih hidup, dia rela terbang ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk mencari Zaki.

Sebelum menemukan anaknya, selama lebih sepekan, dia mendatangi tempat-tempat pengungsian di Poso, tapi hasilnya nihil.

Akhirnya, ia mendapat kabar bahwa banyak anak dirujuk ke rumah sakit di Makassar karena terluka.

Lalu, Subaedah memberanikan diri menumpangi pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara ke Makassar.

“Di Makassar saya keluar masuk tiga rumah sakit, sampai saya dapat salah satu rumah sakit yang banyak merawat anak-anak korban dari Palu. Di situ saya menemukan Zaki selamat meski mengalami luka di kepala dan perutnya,” tuturnya.

Subaedah meyakini suaminya sudah tiada karena ketika bencana datang, sang suami tengah pergi memancing di laut.

“Aktivitas harian suami saya nelayan di pantai Lere. Pas kejadian Bapak lagi melaut. Sampai hari ini belum ada kabarnya,” katanya.

“Saya bersyukur anakku bisa selamat, meski Bapaknya belum ada kabar. Saya sudah ikhlas juga memang Bapak sudah tiada.”

Tampilan selengkapnya