Follow us

Gerindra Resmi Usung Prabowo Sebagai Calon Presiden

Pengamat menilai majunya Prabowo merugikan Gerindra karena diyakini bakal kalah melawan Jokowi.
Arie Firdaus
Jakarta
2018-04-11
Email
Komentar
Share
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) menunggang kuda bersama Presiden Joko Widodo saat mereka mengadakan pertemuan di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 31 Oktober 2016.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) menunggang kuda bersama Presiden Joko Widodo saat mereka mengadakan pertemuan di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 31 Oktober 2016.
Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) resmi mengusung Ketua Umumnya, Prabowo Subianto sebagai bakal calon presiden periode 2019-2024, membuka kemungkinan duel antara Prabowo- Jokowi seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 terjadi kembali.

Keputusan itu dimandatkan dalam rapat koordinasi nasional partai Gerindra di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu siang, 11 April 2018.

"Atas dasar aspirasi, Partai Gerindra secara resmi mencalonkan Prabowo Subianto," kata Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani dalam keterangan tertulis, .

Menurutnya, keinginan agar Prabowo kembali maju dalam Pilpres disuarakan seluruh perwakilan partai, baik yang berada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), tingkat provinsi, hingga kabupaten dan kota.

"Secara bergantian mereka menyampaikan aspirasi konstituen yang menginginkan Prabowo maju sebagai calon presiden," tambah Muzani.

"Partai pun sekaligus memberikan mandat penuh untuk membangun koalisi dan memilih calon wakil presiden."

Sejumlah nama sejauh ini sudah digadang-gadang sebagai pendamping Prabowo dalam Pilpres yang digelar bersamaan dengan Pemilu Legislatif (pileg), pada 17 April 2019.

Salah satu nama yang santer disebut ialah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meski dalam berbagai kesempatan wacana itu dimentahkan oleh mantan Menteri Pendidikan Pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo tersebut.

Soal mencuatnya nama Anies sebagai bakal calon wakil presiden, Ketua DPP Gerindra Muhammad Nizar Zahro enggan berkomentar lebih lanjut.

Soal pendamping Prabowo, tambahnya, akan dibicarakan bersama partai pengusung.

"Siapa yang disetujui partai koalisi," ujar Nizar singkat, saat dihubungi.

Setelah resmi diusung Gerindra, Prabowo mengaku siap. Ia pun menepis anggapan yang menyebut dirinya ragu-ragu untuk maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden untuk ketiga kalinya.

"Ada yang mengatakan Prabowo galau, pesimis, dan sebagainya. Saya tidak perlu menjawab," kata Prabowo kepada wartawan.

Prabowo kalah saat maju sebagai wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri pada 2009. Hasil berulang lima tahun berselang saat dia "naik pangkat" dengan maju menjadi calon presiden.

"Selama saya dipercaya oleh Partai Gerindra, saya akan jalankan. Dengan segala tenaga, segala jiwa dan raga," tegas Prabowo.

Pendaftaran pasangan calon presiden akan dibuka pada 17 Agustus mendatang.

Lawan Jokowi

Dengan keputusan ini, Prabowo kembali bakal bertarung dengan Joko Widodo dalam Pilpres mendatang. Presiden petahana itu sudah resmi diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada akhir Februari lalu.

Keduanya pernah bertarung pada 2014 dengan kemenangan untuk Jokowi, berbuah perolehan suara 53,15 persen berbanding 46,85 persen.

Merujuk undang-undang, syarat pengajuan pasangan calon presiden dan wakil presiden adalah partai dengan minimal 112 kursi di DPR.

Syarat ini sejatinya belum dipenuhi Gerindra, karena hanya memiliki 73 kursi parlemen.

Namun sejumlah partai sudah memberi sinyal dukungan, seperti Partai Amanat Nasional (PAN) yang memiliki 49 kursi dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 40 kursi.

Petinggi kedua partai itu tampak hadir saat pengumuman pengusungan Prabowo di Hambalang, semisal Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Presiden PKS Sohibul Iman, dan Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal.

Tampak pula Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Anies didukung oleh Gerindra terpilih sebagai Gubernur Jakarta tahun lalu mengalahkan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dalam pilkada yang sarat diwarnai isu agama dan ras.

Jokowi sampai kini sudah beroleh 290 kursi di DPR, yang merupakan gabungan dari kursi PDI-P sebanyak 109, Partai Golkar 91 kursi, Partai Persatuan Pembangunan dengan 39 kursi, Partai Nasdem sebanyak 35 kursi, dan Partai Hanura sebanyak 16 kursi.

Beberapa partai lain masih belum menentukan pilihan dukungan mereka, seperti Partai Demokrat yang memiliki 61 kursi di DPR dan Partai Kebangkitan Bangsa dengan 47 kursi.

Langkah merugikan

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai kembali majunya Prabowo dalam Pilpres justru berpotensi berbalik merugikan Gerindra.

"Karena masyarakat bisa dikatakan sudah jenuh," kata Pangi kepada BeritaBenar.

Maka, Pangi pun memprediksi hasil Pilpres 2014 akan berulang tahun depan.

"Ibarat film, Prabowo adalah film lama dan sudah tidak menarik lagi untuk ditonton," ujar Pangi lagi.

Hal sama disampaikan pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya, yang menilai Prabowo berpotensi kembali kalah, seperti sudah tergambar dalam sejumlah survei.

"Elektabilitas Prabowo masih di bawah Jokowi yang berkisar 65 hingga 70 persen," katanya.

Beberapa lembaga survei memang menempatkan Jokowi sebagai calon presiden terkuat untuk 2019.

Poltracking Indonesia, misalnya, menyebut elektabilitas Jokowo berada di kisaran 57,6 persen, jauh meninggalkan Prabowo yang hanya 33,7 persen.

Begitu juga polling Indo Barometer yang menyatakan tingkat elektabilitas Jokowi senilai 55,4 persen. Angka ini jauh dari Anies sebesar 12,1 persen atau mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo 7,8 persen.

Tampilan selengkapnya