Warga Aceh Bakal Menunggu 18 Tahun untuk Naik Haji

Nurdin Hasan
2015.09.21
Banda Aceh
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150921_ID_HAJJ_620.jpg Seorang petugas kesehatan (kiri) sedang memeriksa kelengkapan dokumen calon jemaah haji di asrama haji Banda Aceh, 15 September 2015, sebelum mereka berangkat ke Mekkah.
BeritaBenar

Lelaki 75 tahun masih tetap bugar. Bicaranya blak-blakan, penuh semangat. Sesekali senyum merekah dari bibirnya saat mengisahkan penantian enam tahun untuk dapat pergi haji ke tanah suci Mekkah.

Ahmad Andip Dayah adalah seorang jamaah calon haji asal Kabupaten Aceh Utara. Ia terbang dari embarkasi Aceh bersama 393 jamaah lain melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Kabupaten Aceh Besar, Rabu dinihari, 15 September.

Sehari sebelum berangkat, para jamaah calon haji ditempatkan di asrama haji Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan serangkaian bimbingan.

Ahmad menyatakan sehat dan siap melaksanakan ibadah haji.

“Alhamdulillah, dokter bilang kondisi saya sangat prima. Hanya kolesterol sedikit, tetapi itu bukan kendala,” tuturnya kepada BeritaBenar yang menemuinya di asrama haji Banda Aceh.

Ahmad pergi haji sendiri, tanpa didampingi keluarga. Istrinya telah meninggal dunia tahun 2008. Delapan anaknya – tiga perempuan dan lima laki-laki – sudah dewasa. Mereka hanya mengantarkan Ahmad sampai asrama haji.

Tak khawatir keselamatan di Mekkah

Sejak pensiun sebagai camat 15 tahun lalu, Ahmad menjadi petani di kampungnya di Desa Teupin Punti di Aceh Utara. Dari hasil bertani, ia mendaftar untuk naik haji pada 2009. Total biaya yang dikeluarkannya untuk pergi haji tahun ini Rp 31.850.000.

“Saya hanya berharap diberikan kesehatan dan kekuatan untuk dapat melaksanakan semua ibadah baik yang wajib maupun sunah selama di tanah suci,” katanya.

Ahmad mengaku tak khawatir meski pada tanggal 11 September alat derek raksasa di Masjidil Haram Mekkah terjatuh disapu angin kencang sehingga menewaskan 107 orang – termasuk 10 jamaah calon haji Indonesia – dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

“Musibah merupakan takdir Allah dan tidak ada seorang pun bisa lari dari kehendak Allah,” ujarnya.

Ahmad bersyukur bisa pergi haji tahun ini karena ada ustadz kampungnya yang telah mendaftar sebelum dia, tapi tidak masuk dalam rombongan haji yang berangkat kali ini.

Jemaah lanjut usia diprioritaskan

Rasa syukur juga diungkapkan Nurhayati (63), jamaah calon haji Kabupaten Bireuen, yang berangkat tahun ini bersama suaminya Ahmad Hanafiah (75) padahal pasangan itu mendaftar pada 2011.

“Menurut petugas haji, kami berangkat tahun ini karena suami saya sudah berusia lanjut,” tutur Nurhayati usai menjalani pemeriksaan kesehatan.

Koodinator hubungan masyarakat panitia penyelenggara ibadah haji (Humas PPIH) embarkasi Aceh, Akhyar, mengatakan untuk tahun ini sekitar 70 persen jamaah calon haji Aceh merupakan warga lanjut usia dan 60 persen masuk kategori berisiko tinggi.

“Misalnya jamaah tertua asal Aceh berumur 92 tahun. Beliau baru mendaftarkan diri tiga tahun lalu, tapi karena ada kebijakan prioritas jamaah lanjut usia, nenek itu bisa berangkat tahun ini,” katanya kepada BeritaBenar.

Jamaah haji tertua itu bernama Siah binti Somat Abdullah. Dia bisa berjalan tanpa dipapah dan terlihat bugar. Seperti Ahmad, dia juga berangkat sendiri.

Bakal menunggu 18 tahun

Menurut Akhyar, jamaah calon haji Aceh tahun ini berjumlah 3.186 orang, termasuk petugas kesehatan dan panitia penyelenggara ibadah haji. Mereka diberangkatkan melalui Bandara SIM, terbagi dalam sembilan kloter, termasuk satu kloter gabungan jamaah dari Aceh, Medan dan Banjarmasin.

“Jamaah calon haji yang berangkat tahun ini, paling lama menunggu delapan tahun,” jelasnya. “Tetapi mulai tahun depan, ada jamaah yang sudah menunggu lebih dari 10 tahun.”

Hingga kini, warga Aceh yang masuk daftar tunggu untuk pergi haji berjumlah 74.189 orang sehingga semuanya akan habis diberangkatkan pada 2037.

“Menurut hitungan kami, kalau warga Aceh mendaftar sekarang, dia baru berangkat setelah menunggu 18 tahun karena mulai 2016, akan ada penambahan kuota,” tutur Akhyar.

Mengantre untuk naik haji

Namun daftar tunggu akan bertambah panjang karena minat warga Aceh dan juga umat Islam lainnya di Indonesia untuk naik haji terus meningkat setiap tahun. Banyak pihak berharap pemerintah pusat mendorong pemerintah Arab Saudi untuk menambah kuota jamaah haji sehingga mereka tidak terlalu lama harus menunggu melaksanakan rukun Islam kelima.

Menurut Kementrian Agama, Indonesia saat ini mendapat kuota memberangkatkan jemaah haji sekitar 168.800 per tahun. Tetapi dalam lawatan ke Saudi dua minggu lalu, Presiden Joko Widodo mendapat tambahan kuota 10.000 jemaah haji mulai tahun depan.

Selain Aceh, beberapa provinsi lain di Indonesia juga mengalami nasib sama karena harus hingga belasan tahun baru bisa pergi haji. Provinsi-provinsi itu antara lain Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, D.I Yogyakarta dan Jambi.

“Kuota itu diputuskan dari jumlah penduduk. Setiap 1.000 penduduk muslim, dapat satu kuota,” tutup Akhyar.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.