Follow us

Indonesia, AS Tanda Tangani MOU Antiterorisme

Kerja sama mencakup pertukaran informasi, pertukaran praktik terbaik, penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Tria Dianti
Jakarta
2018-09-14
Email
Komentar
Share
Komjen Pol. Suhardi Alius, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (tengah) bersama Nathan A. Sales, Koordinator Penanggulangan Terorisme AS (sebelah kanan Suhardi) berfoto bersama perwakilan kedua delegasi setelah penandatanganan MOU Penanggulangan Terorisme, di Jakarta, 14 September 2018.
Komjen Pol. Suhardi Alius, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (tengah) bersama Nathan A. Sales, Koordinator Penanggulangan Terorisme AS (sebelah kanan Suhardi) berfoto bersama perwakilan kedua delegasi setelah penandatanganan MOU Penanggulangan Terorisme, di Jakarta, 14 September 2018.
Dok: BNPT

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam penanggulangan terorisme. Hal itu disepakati kedua pihak dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di Jakarta, Jumat, 14 September 2018.

“Ini merupakan sebuah langkah besar yang mengukuhkan dan mengikat kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat dalam penanggulangan terorisme,” ujar Kepala BNPT, Komjen Pol. Suhardi Alius dalam sambutannya seperti tercantum dalam siaran pers.

“Kepada pemerintah Amerika Serikat kami mengucapkan terima kasih atas upaya aktif dalam berkoordinasi dan bernegosiasi hingga penandatanganan ini.”

Ia mengatakan, kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi, pertukaran pengalaman, praktik terbaik, penguatan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Kita akan melakukan implementasinya seperti kunjungan, pelatihan, pertukaran informasi dan lainnya, akan dibicarakan secara teknis,” kata Suhardi.

BNPT saat ini telah menjalin koordinasi internal dengan 36 instansi baik dalam maupun luar negeri untuk penanggulangan terorisme.

“Diharapkan di masa mendatang MoU tersebut dapat menjadi payung hukum kerja sama dalam bidang penanggulangan terorisme yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” harap Suhardi.

Dia menambahkan, penandatanganan MoU ini sebagai hasil kunjungan delegasi BNPT ke AS beberapa waktu lalu dan didukung oleh Counterterrorism Bureau AS dan Terrorism Screening Center (TSC) AS.

Penandatanganan MoU disaksikan sejumlah perwakilan Kementerian/Lembaga Pemerintah Indonesia. Pemerintah AS diwakili Koordinator Penanggulangan Terorisme Amerika Serikat, Duta Besar Nathan A. Sales.

Menurut Sales dalam siaran pers tersebut, Indonesia memainkan peran penting mengingat pengalaman Indonesia yang luas serta komitmen Indonesia dalam melakukan penanggulangan terorisme.

“Indonesia memahami betul ancaman terorisme ini. Terlebih Indonesia menunjukkan komitmennya dalam memaksimalkan penggunaan kemampuan dan alat dalam menanggulangi terorisme. Alat-alat penegakkan hukum, analisis finansial dan lainnya, MoU ini menempatkan hubungan kerja sama kita berada di titik terkuatnya,” ujar Sales, seperti disebutkan dalam rilis BNPT.

Sementara itu Deputi III BNPT Bidang Kerjasama Internasional, Irjen Pol. Hamidin mengatakan bahwa hal-hal yang disepakati sifatnya sama dengan kerjasama dengan negara lain.

"Kerjasama dengan AS termasuk diantaranya, sharing informasi mengenai orang  yang terhubung dengan organisasi teroris dan organisasi terorisme itu sendiri.," kata Hamidin kepada BeritaBenar, menambahkan bahwa penandatanganan MoU dilakukan secara tertutup dan tidak mengundang media.

Ditanya mengenai sharing teknologi penyadapan melalui satelit, ia enggan menjawab. "Ada yang tidak bisa disebutkan, tapi kita berharap AS berbagi informasi jika ada teroris ataupun organisasi yang dicap sebagai jaringan teroris internasional seperti Abu Walid dan Bahrun Naim," ujarnya.

"Kita juga berharap pihak AS memberi tahu jika ada teroris yang dilaporkan tewas seperti kabar Bahrun Naim tewas kemarin," kata dia

Namun, ujarnya pihaknya belum mengakui Bahrun Naim telag tewas di Suriah seperti diklaim AS.

Lebih unggul

Pengamat terorisme Stanislaus Riyanta menyatakan kerja sama ini harus ditanggapi secara positif karena selain saling mencontoh, juga harus saling menguntungkan.

“Indonesia bisa meniru teknologi Amerika yang canggih termasuk penyadapan dan penggunaan satelit,” kata dia kepada BeritaBenar.

“Tapi kalau soal deradikalisasi Indonesia sepertinya lebih unggul.”

Indonesia, kata dia, termasuk negara yang berhasil mengaplikasikan dengan baik dalam hal penanggulangan terorisme.

“Banyak kasus segera dituntaskan oleh Polri dan mereka (teroris) ditindak secara hukum dan diberlakukan dalam mekanisme hukum yang berlaku,” ujarnya.

Stanislaus menyebut Indonesia merupakan negara dengan pusat laboratorium penanganan terorisme secara lengkap.

“Di sini segala model terorisme ada, dari model bom, lonewolf bahkan pelaku yang mengajak seluruh keluarga dan ini jadi pertama di dunia. Tentu Amerika bisa belajar banyak dari Indonesia,” katanya.

Hal senada disampaikan pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib yang menyatakan Amerika bisa belajar ke Indonesia tentang model deradikalisasi  dan penanganan terhadap narapidana terorisme.

“Bagaimana sistem humanis yang diterapkan BNPT seperti model dialog, memberikan kesempatan napi mengekspresikan dirinya, itu bisa menjadi role model yang ditiru AS,” katanya saat dihubungi.

Sedangkan anggota DPR RI Komisi 1, Bobby Rizaldi menyambut baik kerja sama Indonesia dan AS dalam pemberantasan terorisme.

“Utamanya berbagi informasi mengenai potensi aksi teroris dan pelakunya. Ini sangat baik, karena AS kan dikenal sangat tertutup dalam hal sharing informasi inteligen,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya