Indonesia Memulai 'Era Baru' dengan AS Saat Washington Dekati Asia Tenggara

Kedua negara berkomitmen mempertahankan kebebasan navigasi di Laut China Selatan, demikian pejabat Amerika.
Ahmad Syamsudin
2021.08.05
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Indonesia Memulai 'Era Baru' dengan AS Saat Washington Dekati Asia Tenggara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken (kanan) menyimak Menlu Indonesia Retno Marsudi saat berbicara kepada wartawan usai pertemuan di Departemen Luar Negeri AS di Washington, 3 Agustus 2021.
AP

Menteri Luar Negeri Indonesia pada hari Kamis (5/8) mengisyaratkan dimulainya “era baru” dalam hubungan antara negara terbesar di Asia Tenggara itu dan Amerika Serikat, dalam pernyataan akhir kunjungannya ke Washington.

Menlu Retno Marsudi menyambut baik “peningkatan keterlibatan” Washington di Asia Tenggara dalam pertemuan awal pekan ini dengan mitranya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, di mana pada saat yang sama diplomat Amerika itu terlibat dalam pertemuan lima hari dengan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Para pejabat AS mengatakan mereka berharap negara-negara anggota ASEAN untuk mendapatkan dukungan menuju terwujudnya kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka di tengah meningkatnya agresi China di Laut China Selatan.

“Indonesia dan AS memasuki era baru dalam hubungan bilateral. …Untuk pertama kalinya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan Menteri Luar Negeri Indonesia melakukan dialog strategis... yang merupakan turunan dari kemitraan strategis yang disepakati kedua negara pada tahun 2015,“ kata Retno dalam pernyataan yang dirilis melalui portal youtube Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Kamis (5/8).

Menlu Retno mengatakan bahwa kemitramaan strategis yang kuat dengan Indonesia akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi keterlibatan Amerika di kawasan Asia Tenggara.  

“Indonesia yakin engagement Indonesia dan Amerika Serikat akan dapat memberikan kontribusi bagi penciptaan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraani di kawasan (Asia Tenggara),” papar Retno.

Blinken dan Retno juga menekankan semakin pentingnya hubungan Indonesia-AS,  kemitraan “dan kontribusinya untuk Indo-Pasifik yang aman dan sejahtera,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price dalam sebuah pernyataan, Selasa.

“Para pemimpin berkomitmen untuk bekerja sama dalam memerangi pandemi global, memerangi krisis iklim, meningkatkan perdagangan bilateral dan hubungan ekonomi, (dan) membela kebebasan navigasi di Laut China Selatan,” kata pernyataan itu.

China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, termasuk perairan di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan, sebagai wilayahnya.

Sementara Indonesia tidak menganggap dirinya sebagai pihak dalam sengketa Laut China Selatan, Beijing mengklaim hak bersejarah atas bagian laut yang tumpang tindih dengan ZEE Indonesia.

Jakarta telah mengintensifkan patroli laut dalam beberapa tahun terakhir setelah kapal penangkap ikan China yang dikawal oleh kapal penjaga pantai China berlayar ke ZEE Indonesia di lepas pantai kepulauan Natuna, sebutan Indonesia untuk perairannya di ujung selatan Laut China Selatan.

Retno dan Blinken bertemu ketika angkatan bersenjata kedua negara mengadakan pelatihan militer bersama Garuda Shield dengan partisipasi sekitar 4.500 tentara dari kedua negara di Sumatra Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara.

Garuda Shield berfokus pada penguatan hubungan bilateral dan menunjukkan “AS. memutuskan untuk mendukung kepentingan keamanan teman-teman dan sekutunya di kawasan itu,” demikian pernyataan Pentagon akhir bulan lalu.

'Tidak melihat sesuatu yang baru'

Selain berpartisipasi dalam pelatihan militer, Washington juga membantu Indonesia – dan negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya – melalui bantuan penanggulangan pandemi.

Awal pekan ini, dalam pertemuannya dengan Menlu Retno, penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan berjanji bahwa Washington akan memberikan tambahan bantuan COVID-19 sebesar $30 juta kepada Jakarta, sehingga total bantuan AS ke Indonesia sejak awal pandemi telah mencapai lebih dari $65 juta.

AS juga hingga saat ini telah membantu Indonesia dengan 8 juta dosis vaksin COVID-19.

Namun, Indonesia tidak mungkin masuk aliansi dengan AS karena doktrin kebijakan luar negerinya yang tidak berpihak, kata Yohanes Sulaiman, dosen hubungan internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani di Cimahi, Jawa Barat.

“AS ingin mendekati Indonesia terutama dalam menghadapi agresivitas China yang semakin meningkat, tetapi Indonesia menolak keras hal ini, karena kebijakan luar negeri yang ‘bebas aktif’dan tekanan domestiknya,” katanya kepada BenarNews.

“Indonesia tidak ingin situasi (di Laut Cina Selatan) meningkat, tetapi juga tidak ingin terlalu terlibat karena kekuatannya yang kecil. Di sisi lain, kami tidak dapat mengambil sikap keras terhadap China karena kita membutuhkan uang dari mereka.”

Meskipun bukan investor terbesar di Indonesia, uang yang masuk dari China ke Indonesia terus berkembang hampir dua kali lipat menjadi US$4,8 miliar pada 2020 dari US$2,4 miliar pada 2017.

Meskipun dialog strategis, hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat akan tetap seperti biasa,” kata Yohanes.

“Selain penegasan kembali hubungan Indonesia-AS yang kuat, tidak ada banyak yang lain di dalamnya,” ujarnya, “kecuali Indonesia tiba-tiba meningkatkan hubungan militer dengan AS menjadi ‘semi-sekutu’, saya tidak akan menganggapnya sebagai era baru. Saya tidak melihat sesuatu yang baru.”

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.