Follow us

Indonesia, Malaysia Khawatir Warga Mereka yang Terkait ISIS Melarikan Diri dari Suriah

Sejauh ini belum ada keputusan pemerintah apakah akan memulangkan WNI terlibat ISIS atau tidak.
Muzliza Mustafa, Ahmad Syamsudin & Tia Asmara
Kuala Lumpur & Jakarta
2019-10-14
Email
Komentar
Share
Para pemberontak Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan militer di kota perbatasan Tel Abyad Suriah, 14 Oktober 2019.
Para pemberontak Suriah yang didukung Turki mengendarai kendaraan militer di kota perbatasan Tel Abyad Suriah, 14 Oktober 2019.
Reuters

Pemerintah Indonesia dan Malaysia menyatakan khawatir akan kemungkinan para pejuang ISIS asal Asia Tenggara melarikan diri dari penjara di Suriah seiring ditariknya pasukan Amerika Serikat dari wilayah itu dan adanya operasi militer Turki menargetkan tentara Kurdi di sana.

Konflik yang meningkat dengan cepat di wilayah perbatasan utara Suriah mencapai perubahan besar pada hari Senin setelah pasukan Kurdi mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh kesepakatan dengan pemerintah Suriah, dimana Turki meningkatkan ofensif militernya setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pasukan AS yang tersisa keluar dari wilayah tersebut.

Menurut data Satgas Penanggulangan Foreign Terrorist Fighters (FTF) Densus 88 Mabes Polri, ada 34 WNI yang tercatat sebagai FTF dan dipenjara di Suriah, sementara terdapat sekitar 700-an WNI tinggal di kamp pengungsian di Suriah.

“Ya khawatir tentunya, apalagi WNI yang tinggal di sana perlu diperhitungkan karena tingkat ancamannya yang tinggi,” kata Ketua Satgas Penanggulangan FTF, AKBP Didik Novi Rahmanto, kepada BeritaBenar di Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

“Mayoritas dari mereka adalah keluarga, yang terdiri dari perempuan dan anak,” kata Didik.

Sedangkan pemerintah Malaysia mengatakan dari 65 warganya yang berada di Suriah saat ini, 40 dari mereka ingin kembali ke negara asal mereka sementara ada 11 yang mendekam di penjara Al-Hasakah Suriah.

“Kami khawatir para tahanan di kamp dan penjara akan melarikan diri dan pergi ke negara ketiga atau bergabung dengan kelompok militan lokal dan melancarkan perang melawan tentara Bashar,” kata kepala polisi unit antiteror Malaysia, Ayob Khan Mydin Pitchay, merujuk pada tentara Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad.

Ia mengatakan adalah berbahaya jika mereka dibebaskan tanpa dipantau.

“Mereka bisa menjadi ancaman bagi keamanan negara kami jika mereka kembali tanpa terdeteksi,” kata Ayob.

Kekhawatiran yang sama disampaikan Didik.

Karena itu, pihaknya akan terus memonitor perkembangan di Timur Tengah.

“Bagaimana mereka pulang juga belum ada keputusan,” ujarnya.

“Kami juga bertugas melakukan soft power approach terhadap WNI yang digolongkan bukan sebagai FTF dengan melakukan deradikalisasi dan pembinaan di departemen sosial,” jelasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Suhardi Alius menyatakan kekhawatiran juga dialami semua negara yang warganya pernah bergabung dengan ISIS.

“Tapi tidak semudah itu (lolos), mereka tidak punya dokumen sama sekali dan tidak mudah mengembalikan,” katanya saat dihubungi BeritaBenar.

Ia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah rapat dan melibatkan semua kementerian terkait karena ada langkah-langkah yang tidak mudah untuk memastikan seberapa parah mereka terpapar paham radikal.

“Contoh negara lain yang dipulangkan hanya anak-anak, seperti negara Eropa dan kita belum tahu jumlah persis WNI di sana, karena tak punya akses masuk ke sana,” jelas Suhardi.

Terkait informasi pengikut ISIS dan kemungkinan di dalamnya ada WNI yang kabur dari penjara di Suriah menyusul serangan militer Turki, dia menyebutkan masalah itu sudah dipantau dan ada yang melarikan diri ke Afghanistan.

“Kita monitor ketat, tapi jangan salah, mereka nggak gampang keluar, mereka di bawah otoritas di Suriah,” ujarnya.

“Jumlah yang ke Afghanistan tidak terlalu banyak, tapi menunjukkan tingkat yang sudah radikal pindah ke daerah konflik terus.”

Suhardi menambahkan pemerintah Indonesia tidak punya akses untuk bertemu dengan WNI di kamp-kamp penggungsian di perbatasan Suriah dan Irak, sehingga harus menggunakan jasa perantara.

Sejauh ini belum ada keputusan yang diambil pemerintah apakah akan memulangkan WNI terlibat ISIS ke Indonesia atau tidak.

"Lokasi kamp itu dibawah SDF dan secara teknik sangat sulit. Sampai saat ini masih diupayakan verifikasi. Kami butuh waktu karena situasi sedang konflik ditambah lagi kamp tersebut tidak berada di bawah otoritas Suriah," kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Joedha Nugraha.

"Walau bagaimanapun tugas dan tanggung jawab negara memberikan perlindungan bagi WNI yang ada di luar negeri tapi kita juga harus melihat situasi keamanan setempat, akan upayakan segala macam cara untuk melindungi mereka,” ujar Joedha.

‘Ancaman’

Pakar terorisme dan inteligen dari Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta menyatakan selain akan kembali ke negara asal, kemungkinan kuat ISIS akan berkembang di Afganistan dan Asia Tenggara.

“Yang berpindah ke negara ketiga, anggota ISIS yang kombatan karena mereka tetap ingin melakukan perang sebagai jihad mereka,” katanya.

Ia memperkirakan, anggota ISIS yang bukan kombatan saat sudah sulit berada di Suriah, kemungkinan akan kembali ke negara asal selama menemukan celahnya.

“Anggota ISIS dari Indonesia tentu kemungkinan besar akan kembali ke Indonesia atau sementara akan transit di Filipina karena jaringan simpatisan ISIS Indonesia di Filipina sangat kuat,” jelasnya.

Alasannya, ujar dia, kembali ke Indonesia karena Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah ideal bagi mereka untuk mewujudkan cita-cita berjihad.

“Ini ya mau tidak mau Indonesia harus waspada, sangat penting bagi pemerintah untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan para WNI yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah untuk kembali ke Indonesia,” pungkas Stanislaus.

Zam Yusa di Sabah, Malaysia, turut berkontribusi dalam laporan ini.

Tampilan selengkapnya