Follow us

Penculikan WNI di Perairan Sabah, Indonesia Panggil Dubes Malaysia

Seorang nelayan yang dibebaskan dari cengkeraman Abu Sayyaf diserahterimakan oleh Kemlu kepada keluarganya.
Tia Asmara
Jakarta
2020-01-23
Email
Komentar
Share
Muhammad Farhan (ketiga dari kanan), nelayan asal Indonesia yang berhasil dibebaskan dari cengkeraman sandera kelompok Abu Sayyaf, saat serah terima dirinya oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (ketiga dari kiri) kepada keluarganya di Kantor Kementerian Luar Negeri RI, di Jakarta, 23 Januari 2020.
Muhammad Farhan (ketiga dari kanan), nelayan asal Indonesia yang berhasil dibebaskan dari cengkeraman sandera kelompok Abu Sayyaf, saat serah terima dirinya oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (ketiga dari kiri) kepada keluarganya di Kantor Kementerian Luar Negeri RI, di Jakarta, 23 Januari 2020.
Tia Asmara/BenarNews

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (23/1/2020) mengatakan telah memanggil duta besar Malaysia di Jakarta terkait penculikan lima awak kapal nelayan asal Indonesia di perairan Sabah beberapa waktu lalu, sementara pada hari yang sama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI juga menyerahkan seorang sandera warga negara Indonesia yang berhasil dibebaskan minggu lalu kepada keluarganya.

"Kami mohon pihak otoritas di sana meningkatkan kemanan di perairan Malaysia agar tidak terjadi korban penculikan lagi," kata Retno kepada wartawan di Jakarta.

"Kalau tidak maka korban akan terus terjadi dan ini tidak bisa dibiarkan terus menerus karena jika terjadi penculikan, mereka ini (para pemilik) kapal tidak mau bertanggung jawab," ujarnya.

Para penculik dari kelompok militan bersenjata Abu Sayyaf di Filipina selatan membawa kapten kapal Arsyad Dahlan, dan empat orang anak buah kapal yaitu Arizal Kastamiran, La Baa, Riswanto Hayano, dan Edi Lawalopo, dari perairan Tambisan di Sabah pada 16 Januari lalu.

Sedangkan tiga nelayan lainnya, dilepaskan dan dibiarkan tetap berada di kapal mereka sendiri. Ketiganya kemudian kembali ke Sabah keesokan harinya.

Penculikan itu terjadi hanya sehari setelah Muhammad Farhan yang saat itu merupakan nelayan asal Indonesia yang terakhir disandera kelompok militan Abu Sayyaf, berhasil dibebaskan pasukan keamanan Filipina pada 15 Januari 2020, setelah diculik September lalu.

Dari 13 kasus penculikan Abu Sayyaf terhadap 44 WNI sejak 2016, hampir semua terjadi di wilayah perairan Sabah, negara bagian Malysia yang terletak di utara pulau Kalimantan, kata Retno.

Dari 44 yang diculik tersebut, 38 di antaranya berhasil dibebaskan. Satu orang tewas saat upaya pembebasan akhir tahun lalu dan lima orang, mereka yang diculik pada 16 Januari lalu, masih ditawan.

Merespons seringnya terjadi penculikan di wilayah perairan yang berbatasan dengan Indonesia, Malaysia dan Filipina itu, ketiga negara meluncurkan patrol laut bersama pada tahun 2017. Hanya saja beberapa bulan terakhir penculikan kembali terjadi.

Malaysia: Akan lakukan segala upaya

Dubes Malaysia Zainal Abidin Bakar mengatakan pihaknya sudah mengadakan rapat bersama dengan Kemlu untuk membicarakan bagaimana menguatkan koordinasi dan kerjasama antara tiga negara.

"Kami juga akan mereview mekanisme antara petugas di tiga negara. Kami juga menyayangkan peristiwa ini terjadi lagi," kata dia kepada wartawan di Kemlu di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Malaysia juga akan mengevaluasi prosedur operasi standar sehingga bisa menentukan penanganan yang lebih efektif dan langkah apa yang diambil jika insiden serupa terjadi, kata Zainal.

Zainal mengatakan pihaknya akan mengetatkan peraturan antar nelayan agar tidak memasuki area yang rawan penculikan.

Otoritas Malaysia berjanji akan melakukan segala upaya untuk menyetop penculikan ini, kata dubes.

Ia mendapatkan informasi bahwa nelayan yang diculik itu melaut saat pemberlakuan jam malam. Oleh karenanya otoritas setempat tidak dapat melakukan penanganan yang semestinya.

"Kami sadar kami harus menasehati lebih keras lagi kapal Malaysia dan pemilik kapal kalau mereka itu harus mentaati peraturan yang ada," ujar dia.

"Sangat sulit mengontrol pemilik kapal dan nelayan kalau mereka saja memutuskan tapi akibatnya akan mereka tanggung sendiri," kata dia.

Lebih intensif

Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Joedha Nugraha, mengatakan pemerintah juga meminta Malaysia untuk mengintensifkan patroli malam hari dan penegakan hukum.

“Kejadian terakhir itu juga malam jam 20.00 waktu setempat dan saat itu tidak ada penjagaan,” ujarnya.

Ia menambahkan mayoritas awak kapal yang bekerja di Sabah merupakan WNI, mulai dari nakhoda hingga awak kapal.

“Jadi memang secara sosiologis warga Malaysia tidak tertarik lagi bekerja sebagai awak kapal, banyak dari mereka menjadi pemilik. Sehingga posisi awak kapal diisi WNI. Kemungkinan tertinggi yang diculik jadi WNI,” kata dia.

Meskipun pemerintah Malaysia sudah menerapkan pelarangan jam malam hanya, dalam pelaksanaannya banyak yang melanggar.

“Banyak pemilik kapal yang meminta untuk melaut di daerah sana atau bahkan nakhoda kapalnya yang nekat ke sana karena banyak ikan walaupun dilarang,” kata dia.

Menurut data Kemlu, jumlah WNI yang bekerja sebagai awak kapal di daerah Sabah diperkirakan 1.000-1.500 orang.

Malaysia, Indonesia dan Filipina dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi kejadian penculikan ini, kata Joedha.

“Solusinya tentunya ada alternatif ekonomi nanti kita pikirkan. Tidak aman bagi mereka melaut tapi dia perlu penghidupan, ini yang sedang dibahas juga,” ujar dia.

Kembali ke keluarga

Pada hari yang sama Kemlu juga menyerahkan selayan yang sempat disandera Abu Sayyaf, Muhammad Farhan, kepada keluarganya.

Farhan Farhan, 27, bersama ayahnya, Maharudin Lunani (48) dan rekannya Samiun Maneu (26) diculik kelompok Abu Sayyaf saat sedang mencari udang di perairan Lahad Datu, Malaysia, pada 23 September 2019.

Maharudin dan Samiun lebih dulu bebas pertengahan Desember lalu dan dipulangkan kepada keluarga pada 26 Desember 2019.

Saat kedua sandera lain berhasil dibebaskan pasukan keamanan Filipina pertengan Desember itu, Farhan melarikan diri, tersesat dan akhirnya ditangkap kembali oleh Abu Sayyaf, hingga ia akhirnya berhasil dibebaskan  olek tentara Filipina pada 15 Januari lalu.

Kepulangan Farhan diantar duta besar Indonesia untuk Filipina, Sinyo Sarundajang, dengan dihadiri keluarga korban, salah satunya adalah Sri Wahyuni, kakak nya.

“Terima kasih kepada pemerintah, akhirnya adik saya bisa tiba di sini dengan keadaan selamat. Kami sekeluarga sangat bersyukur,” kata Sri.

Tampilan selengkapnya