Follow us

Filipina-Indonesia Gelar Patroli Untuk Cegah Militan ke Marawi

Jeoffrey Maitem dan Richel V. Umel
Marawi, Filipina
2017-07-03
Email
Komentar
Share
Tentara Filipina membawa mayat rekan mereka yang tewas dalam pertempuran dengan militan dukungan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Kota Marawi, Filipina Selatan, 3 Juli 2017.
Tentara Filipina membawa mayat rekan mereka yang tewas dalam pertempuran dengan militan dukungan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Kota Marawi, Filipina Selatan, 3 Juli 2017.
Richel V. Umel/BeritaBenar

Pemerintah Filipina menyatakan bahwa pihaknya akan memulai “patroli gabungan terkoordinasi” pada pekan ini dengan TNI Angkatan Laut di perairan Laut Sulawesi, yang berbatasan antara kedua negara.

Patroli itu digelar di tengah kekhawatiran militan dari negara-negara tetangga Asia Tenggara akan menyeberangi perbatasan untuk bergabung dengan teroris yang didukung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Kota Marawi, Filipina Selatan.

Juru bicara Kepresidenan Filipina, Ernesto Abella mengatakan, patroli bersama itu “bertujuan untuk memperkuat keamanan kedua negara, terutama di perbatasan.”

“Kami juga akan memperbaiki interoperabilitas pasukan kami dengan berbagi informasi dan pertukaran praktik-praktik terbaik,” ujar Abella kepada wartawan, Senin, 3 Juli 2017.

Latihan bersama dimulai Selasa, 4 Juli 2017, dari Kota Davao. Pasukan kedua negara akan melakukan berbagai manuver untuk memperkuat keamanan perbatasan kedua negara.

Menurut militer Filipina, patroli terkoordinasi ini diharapkan akan memperkuat dan mempertajam  “interoperabilitas” antar-pasukan.

Salah satu bagian latihan ini adalah misi medis oleh anggota dari kedua angkatan laut, dan latihan ini akan berakhir di Manado, Indonesia, pada 12 Juli.

Sebelumnya, angkatan laut kedua negara juga pernah melakukan kegiatan serupa pada Mei lalu.

Patroli bersama Indonesia dan Filipina kali ini dilaksanakan setelah patroli bersama angkatan laut Filipina dan Amerika Serikat (AS).

Tidak ada pernyataan resmi dari TNI terkait patroli bersama dengan militer Filipina tersebut.

Korban tewas

Latihan ini juga dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa militan dari Indonesia dan Malaysia akan mencoba menyusup ke wilayah selatan Filipina untuk membantu rekan-rekan mereka yang terlibat pertempuran dengan pasukan Filipina di Kota Marawi.

Kelompok bersenjata Abu Sayyaf dan Maute, yang didukung para militan dari Asia Tenggara dan Timur Tengah, sedang bertempur dengan membawa nama ISIS di Marawi. Mereka masih mengontrol sebagian daerah, yang sudah ditinggalkan oleh penduduknya yang berjumlah 200,000.

Abellla mengatakan pertempuran yang dimulai 23 Mei lalu telah mengakibatkan 39 warga sipil meninggal dunia, setelah sebelumnya diberitakan 44 masyarakat tewas pada Jumat karena ada kesalahan di laporan polisi.

Sementara itu, dalam bentrokan sengit akhir pekan lalu mengakibatkan dua tentara dan 14 terduga teroris tewas sehingga menambah total korban pihak pemerintah menjadi 84 dan 336 orang di kalangan militan.

Filipina melakukan latihan militer rutinnya dengan AS walaupun Presiden Rodrigo Duterte mengeluarkan pernyataan anti-Amerika demi memperkuat hubungan dengan Rusia dan China.

Pesawat intai Amerika terus membantu militer Filipina untuk melakukan serangan dan beberapa pasukan diberikan bantuan teknis di lapangan. Mereka dilarang untuk terlibat langsung dalam pertempuran, namun dipersenjatai dan dapat melindungi diri bila diserang.

Menteri Pertahanana Delfin Lorenzana mengatakan, Senin, bahwa pertempuran kini dikonsentrasikan di pusat bisnis Marawi, dimana kelompok bersenjata dikabarkan telah menguasai sejumlah bangunan, termasuk masjid-masjid dimana mereka menempatkan para penembak jitu.

Lorenzana mengaku pasukan yang diterjunkan terus bergerak maju dan 70 hingga 100 rumah diamankan setiap hari meski “akan perlu waktu beberapa lama untuk membersihkan wilayah” tersebut dari petempur militan.

“Diperlukan waktu yang panjang untuk pemulihan dan rehabilitasi karena banyak bangunan yang telah rusak akibat serangan bom udara dan akibat aksi pihak musuh yang meledakkan bangunan dan membakar rumah-rumah,” ujarnya.

Namun, dia menambahkan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang juga diakui sebagai pemimpin ISIS di Filipina, diyakini “masih ada di Marawi”. Ini berlawanan dengan laporan militer sebelumnya yang menyebutkan Isnilon sudah melarikan diri.

“Bahkan, kami menerima informasi pagi ini dia bersembunyi di salah satu mesjid di Marawi,” ujar Lorenzana, sambil menambahkan agen intelijen yang ditempatkan di Pulau Basilan melaporkan mereka belum melihat pimpinan kelompok pemberontak tersebut.

“Jadi kami meyakini dia masih ada di Marawi,” tegasnya.

Dari 200 anggota kelompok Maute yang dicari pihak pemerintah karena ada kaitan dengan pemberontakan, 66 sudah ditangkap, termasuk orangtua pimpinan mereka, yaitu ibunya, Farhana dan ayahnya, Cayamora, ujar Lorenzana.

Juru bicara militer setempat, Letkol. Joar Herrera mengatakan pergerakan pasukan yang lambat mengindikasikan mereka sedang “mengunci” target musuh.

“Tapi kami terus melakukan operasi pembersihan pertempuran. Kami juga sudah menemukan sejumlah materi perang dan senjata yang ditinggalkan pihak musuh,” katanya.

“Kami akan sampai di satu posisi dimana kami tidak perlu lagi menggunakan serangan udara. Tujuan utama menggunakan serangan udara adalah untuk memperlemah posisi pertahanan musuh yang kuat.”

Herrera mengatakan mereka akan mengecek keberadaan Isnilon di dalam wilayah pertempuran. Dia bersikeras bahwa dia tidak dapat dikontak dan bahwa dia “telah kehilangan komando mereka.”

Hentikan penculikan

Juru bicara militer Brigjen Restituto Padilla mengatakan bahwa patroli keamanan yang diperkuat di laut dengan bantuan sekutu asing Filipina telah membantu untuk menghentikan “aktivitas kriminal” Abu Sayyaf di perairan lepas.

“Penculikan di lautan lepas adalah aktivitas kriminal yang terus mereka lakukan dan kami ingin mengatasinya karena telah membuat malu negara,” ujarnya.

Dalam tiga bulan terakhir sudah tidak ada berita tentang penculikan yang dilakukan militan Abu Sayyaf.

“Kami telah berhasil menurunkan kapasitas dan kapabilitas kelompok ini untuk melakukan aktivitas kriminal mereka di laut lepas,” ujarnya.

Dia juga mengimbau agar mereka yang masih terus bertempur di Marawi untuk melakukan gencatan senjata dan menyerah.

“Kami tidak suka membunuh. Tapi bila mereka terus melawan dan melakuan tindakan kriminal, kami akan melakukan apa yang harus kami lalukan,” pungkasnya.

Tampilan selengkapnya