Follow us

PBB: Rekrutmen ISIS di Asia Tenggara Beralih ke Afghanistan

Laporan menyatakan ISIS sekarang tidak lagi memfokuskan pada merekrut orang untuk pergi ke Suriah dan Irak.
Ahmad Syamsudin, Tia Asmara, dan Muzliza Mustafa
Jakarta dan Kuala Lumpur
2020-02-08
Email
Komentar
Share
Otoritas Afghanistan memperlihatkan kepada media di Kabul, 21 Desember 2019, militan-militan Negara Islam (ISIS) yang ditangkap oleh pasukan pemerintah Afghanistan atau yang menyerah kepada mereka.
Otoritas Afghanistan memperlihatkan kepada media di Kabul, 21 Desember 2019, militan-militan Negara Islam (ISIS) yang ditangkap oleh pasukan pemerintah Afghanistan atau yang menyerah kepada mereka.
AP

Polisi Indonesia mengatakan pada hari Jumat (7/2/2020) bahwa mereka sedang mengawasi setiap warga negara Indonesia (WNI) yang berencana untuk bergabung dengan Negara Islam (ISIS) cabang Afghanistan setelah pejabat anti-terorisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa ISIS sekarang fokus untuk merekrut teroris lintas batas asal Asia Tenggara untuk operasinya di Afghanistan.

Komite Anti Terorisme Dewan Keamanan PBB, menyebutkan minggu lalu dalam laporannya ke PBB bahwa ada upaya ISIS untuk merekrut teroris lintas batas asal Asia Tenggara yang "dilaporkan telah berubah fokusnya dari perjalanan ke Irak dan Suriah ke bergabung dengan ISIL -K [Negara Islam Irak dan Levant di Afghanistan - Khorasan]."

"Hal itu sudah diketahui oleh Polri dan sebagai tindak lanjutnya, Polri akan terus melakukan pengawasan terhadap adanya upaya-upaya WNI yang akan pergi ke Khorasan," ujar juru bicara Polri Asep Adi Saputra kepada BenarNews, merujuk pada suatu daerah di Afghanistan yang telah memproklamirkan diri sebagai wilayat (provinsi) ISIS.

Kepala pasukan kontra-teroris kepolisian nasional Malaysia, Ayob Khan Mydin Pitchay, mengatakan di Kuala Lumpur, bahwa pihaknya tidak melihat ada tren baru bahwa kalangan militan Malaysia sekarang condong ke Afghanistan.

Beberapa dekade yang lalu Afghanistan adalah magnet bagi para ekstremis Muslim dari seluruh dunia, termasuk yang berasal dari Asia Tenggara, untuk ikut bertempur dalam konflik pada masa itu atau dilatih di sana oleh al-Qaeda.

“Sejauh ini kami tidak melihat warga Malaysia ikut dalam perubahan tren ini. Kami akan terus memantau individu yang diyakini mendukung ISIS,” ujar Ayob kepada BenarNews.

“ISIL-K ini tidak begitu populer di kalangan militan asal Malaysia, Indonesia, atau Filipina. Sebagian besar anggotanya berasal dari Pakistan, Afghanistan, dan India,” tambahnya.

Laporan komite PBB yang diterbitkan pada 31 Januari tersebut memberikan informasi terbaru kepada DK PBB tentang ancaman akan ISIS di seluruh dunia, setelah wilayah pertahanan terakhir kelompok itu di Suriah ditaklukkan pada Maret 2019 dan pemimpin utamanya, Abu Bakar al-Baghdadi, tewas dalam serangan oleh pasukan khusus AS, Oktober lalu.

"Masalah tentang teroris lintas batas ini tetap akut, dengan negara-ngara anggota PBB terus menelaah bahwa antara setengah dan dua pertiga dari lebih dari 40.000 orang yang bergabung dengan 'kekhalifahan'diperkirakan masih hidup," kata laporan itu. "Ini diperkirakan akan memperburuk ancaman global yang ditimbulkan oleh ISIS, dan mungkin juga [al-Qaeda] di tahun-tahun mendatang."

Terlepas dari adanya perubahan geografis dalam upaya perekrutan ISIS (ISIL) yang menargetkan orang-orang di Asia Tenggara, "kelompok yang berafiliasi dengan ISIL khususnya tetap menjadi ancaman yang terus ada dan berkembang di kawasan tersebut," demikian dituliskan dalam laporan itu.

"Mereka yang kembali ke wilayah Asia Tenggara dari Irak dan Republik Arab Suriah adalah sangat berbahaya, karena mereka dapat meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok setempat dan mengubah metodologi serangan," laporan itu menjelaskan lebih lanjut.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa sebagian besar teroris lintas batas yang memasuki wilayah konflik di Filipina selatan berasal dari tempat-tempat lain di Asia Tenggara. Di 2017, militan pro-ISIS sempat merebut kota Marawi di Filipina selatan selama lima bulan sampai pasukan pemerintah menggulingkan mereka dalam pertempuran yang menghancurkan kota itu.

Setelah ISIS terbentuk di 2014, ratusan militan dari Asia Tenggara dan keluarga mereka meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan ISIS.

Namun hampir setahun setelah Baghuz, sebuah kota di Suriah yang menjadi benteng terakhir ISIS di Timur Tengah, jatuh ke pasukan Kurdi Suriah, pemerintah Indonesia dan Malaysia masih bergulat dengan pertanyaan apakah akan memulangkan sejumlah warga mereka yang telah mendekam di kamp-kamp di berbagai lokasi di wilayah tersebut, menyusul kekalahan teritorial ISIS. Namun, selama bertahun-tahun, jumlah yang telah diizinkan untuk pulang tetap relatif kecil.

Pejabat-pejabat Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) di Indonesia dan militer di Filipina menolak permintaan BenarNews untuk mengomentari temuan laporan AS tentang rekrutmen militan Asia Tenggara untuk dibawa ke cabang ISIS di Afghanistan.

Pejabat-pejabat AS menyebutkan bahwa ISIL-K, yang didirikan oleh mantan pejuang Taliban, mengumumkan pendirian kelompoknya pada Januari 2015 dalam video daring. Sejak itu, kelompok tersebut telah melakukan pemboman dan penyerangan di Afghanistan dan Pakistan.

Sidney Jones, direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC), sebuah lembaga analisis di Jakarta, mengatakan bahwa wilayat Khorasan yang didirikan ISIS awalnya meliputi India, Pakistan, dan Afghanistan.

"Sebelumnya, nama Khorasan diterapkan untuk semua area itu, tetapi setelah Mei 2019, hanya merujuk ke Afghanistan," katanya.

Menurut seorang peneliti di Institute for International Peace Building di Jakarta, Thayep Malik, "sejak ada pengganti Abu Bakar al-Baghdadi, tidak pernah ada pengumuman untuk pindah ke Khorasan."

Namun beberapa militan Indonesia telah bepergian ke Afghanistan, katanya.

“Mereka mungkin mencari wilayah yang aman untuk basis mereka. Namun Taliban tidak akan tinggal diam karena ISIS adalah musuh mereka juga,” ujar Thayep kepada BenarNews.

“Tidak mudah kalau mereka mau mendirikan basisi di Afghanistan karena mereka akan berhadapan dengan Taliban.”

Tampilan selengkapnya