Follow us

Janda Militan Filipina Jalani Deradikalisasi di Indonesia

Seorang pakar menyebut Minhati Madrais sebagai orang yang mengendalikan keuangan pengepungan Marawi.
Amy Chew
Kuala Lumpur
2020-09-30
Email
Komentar
Share
Seorang petugas pasukan keamanan memeriksa ruangan yang rusak di sebuah rumah apartemen di Kota Marawi yang terletak di selatan Filipina. Rumah ini diduga disewa oleh dua orang militan pro-ISIS, Omarkhayam Maute dan Isnilon Hapilon, sebelum kota tersebut diduduki, 27 Oktober 2017.
Seorang petugas pasukan keamanan memeriksa ruangan yang rusak di sebuah rumah apartemen di Kota Marawi yang terletak di selatan Filipina. Rumah ini diduga disewa oleh dua orang militan pro-ISIS, Omarkhayam Maute dan Isnilon Hapilon, sebelum kota tersebut diduduki, 27 Oktober 2017.
Reuters

Minhati Madrais, 39 tahun, istri pemimpin kelompok pro-ISIS yang menduduki Kota Marawi di selatan Filipina telah dideportasi ke Indonesia sekitar dua pekan lalu.

Sejumlah sumber di jajaran pemerintahan mengatakan Warga Negara Indonesia yang merupakan janda pemimpin Kelompok pro-ISIS Maute, Omarkhayam Maute, itu kini tengah menjalani program deradikalisasi.

Omarkhayam sendiri tewas di tangan aparat keamanan Filipina dalam pertempuran lima bulan lamanya demi merebut kembali kota itu pada 2017.

Pemerintah Indonesia kini tengah menyelidiki peran Minhati dalam jaringan tersebut. Bahkan seorang pakar keuangan terorisme di FIlipina menggambarkannya sebagai pemasok dana tragedi pendudukan Marawi iutu.

Seorang sumber di jajaran pemerintah Indonesia yang enggan disebutkan namanya mengatakan Minhati kini tengah menjalani program deradikalisasi.

Sumber tersebut menilai Minhati sangat kooperatif sejauh ini, terlihat normal, dan cenderung terlihat tak bersalah. Program deradikalisasi yang dijalani Minhati juga tidak memiliki batas waktu, karena tergantung pada perkembangan yang ditunjukkannya.

Pemerintah Indonesia, lanjut sumber itu, kini berada di tahap awal investigasi untuk menentukan apakah Minhati tokoh kunci yang mengatur segala aset dan dana yang berada dalam jumlah cukup besar yang dimiliki Kelompok Maute.

Hubungannya dengan Kelompok Maute pun juga tengah diselidiki.

Seorang sumber lainnya di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang juga enggan disebutkan namanya menilai Minhati tidaklah radikal.

Penilaian tersebut berbanding terbalik dengan apa yang diungkapkan Mimi Fabe, seorang profesor di bidang pendanaan terorisme dan kejahatan terorganisir transnasional di Perguruan Tinggi Polisi Nasional Filipina.

Minhati dinilai Fabe sebagai tokoh penting dalam aspek keuangan Kelompok Maute, yang mengatur dana sekitar 100 juta hingga 400 juta peso (2 juta hingga 8,2 juta dolar AS) dalam bentuk tunai dan mata uang crypto/digital.

Peran Minhati, lanjut Fabe, tak tergantikan meski dirinya telah dideportasi, walaupun uang tersebut kini berkurang.

"Dia pasti bekerja sama dengan warga negara Filipina dalam pendanaan terorisme ini. Dia bisa jadi saat ini menggunakan cara yang populer dalam mengirimkan uang, yakni transfer dalam bentuk valuta asing."

Di Indonesia, Fabe menambahkan, Minhati bisa jadi "melanjutkan perannya sebagai pemain kunci pendanaan terorisme".

"Jika program rehabilitasi tersebut sukses, maka satu lagi tokoh penting dalam pendanaan terorisme berkurang," tutur Fabe yang memuji program rehabilitasi Indonesia yang dinilainya amat baik.

Partner baru?

Minhati bertemu dan menikah dengan Omar Maute ketika keduanya masih menjadi mahasiswa di Kairo, Mesir. Mereka memiliki enam orang anak. Ayah Minhati adalah tokoh ulama penting yang mengelola pesantren di Bekasi, Jawa Barat.

Fabe menggambarkan Minhati sebagai wanita berpendidikan yang terpapar radikalisme sebelum dirinya pindah ke Filipina.

"Menjadi wanita yang berpendidikan baik, dia mestinya paham benar dalam menangani keuangan. Saat dirinya terpapar oleh para pejuang asing pro-ISIS yang terlatih di Mindanao, dia mungkin belajar lebih banyak cara untuk mengirimkan uang," ujar Fabe.

Kelompok Maute dan sempalan pro-ISIS yakni Kelompok Abu Sayyaf (ASG) bersama-sama menduduki kota Marawi bulan Mei 2017 silam dan menguasai sebagian wilayah selama lima bulan sebelum tentara militer Filipina kembali mengambil alih.

Pendudukan Marawi menandakan keseriusan ISIS untuk menancapkan tajinya di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah berbagai negara di wilayah ini sempat khawatir akan keberanian kelompok ini, serangan-serangannya yang terencana baik, serta pasokan logistik yang banyak selama pendudukan Marawi.

Pertempuran di Marawi menewaskan lebih dari 1.100 warga sipil, militan dan tentara pasukan keamanan. Pertempuran itu diikuti oleh pejuang jihad asing dari sejumlah negara, yakni Indonesia, Malaysia, India, Arab Saudi, Moroko dan Chechnya.

Minhati ditahan bulan November 2017 di Kota Iligan di selatan Filipina dan dijerat dengan pasal kepemilikan bahan-bahan peledak ilegal.

Dalam penggerebekan di rumahnya, polisi menemukan empat detonaor, dua kawat detonator, dan sebuah sekering. Minhati pun membantah tuduhan kepemilikan komponen-komponen peledak itu.

Pada akhir bulan Juni, pengadilan di Kota Iligan mencabut dakwaan kepemilikan bahan-bahan peledak atas Minhati. Hal ini disampaikan oleh Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Joedha Nugraha.

Seorang sumber lainnya mengatakan kembalinya Minhati ke Indonesia akan memberikan dampak pada kelompok-kelompok militan di tanah air.

Fabe memperingatkan bahwa "kelompok-kelompok pro-ISIS di Indonesia seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pasti menginginkan bekerja sama" dengan Minhati.

"Peran suksesnya sebagai penyuplai dana pendudukan Marawi memberikannya kredibilitas tinggi," ujar Fabe.

JAD sendiri saat ini adalah kelompok pro-ISIS paling aktif di Indonesia yang berada di hampir semua serangan teror besar di Indonesia sejak tahun 2016, termasuk serangkaian bom bunuh diri di gereja-gereja dan kantor polisi di Surabaya pada bulan Mei 2018 lalu yang dilakukan oleh beberapa keluarga.

Menurut sumber tersebut, "belum ada seorang pun" dari kelompok-kelompok militan tersebut yang telah mencoba menghubunginya.

"Sejauh ini, belum ada yang mencoba mengontaknya kecuali keluarganya," ujar sang sumber.

Tampilan selengkapnya