Follow us

Analis: ISIS Perbanyak Rekrutmen di Indonesia, Malaysia, Filipina

Pejabat kontraterorisme AS: ISIS terus berekspansi.
Noah Lee, Tia Asmara, Ronna Nirmala, Mark Navales & Shailaja Neelakantan
Kuala Lumpur, Jakarta, Manila & Washington
2020-09-23
Email
Komentar
Share
Tentara-tentara Filipina berjaga di lokasi serangan dua bom bunuh diri di Pulau Jolo, 24 Agustus 2020.
Tentara-tentara Filipina berjaga di lokasi serangan dua bom bunuh diri di Pulau Jolo, 24 Agustus 2020.
Reuters

Kelompok ekstremis ISIS terus memperbanyak rekrutmen di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia dan juga di Filipina, di tengah perhatian masyarakat yang teralihkan dengan adanya pandemi, ujar sejumlah pengamat isu keamanan di negara-negara tersebut kepada BenarNews.

Mizan Aslam, pakar kontraterorisme di Universiti Perlis Malaysia mengatakan bahwa ada sejumlah tanda yang menunjukkan bahwa ISIS sedang mengondolisasi anggota-anggotanya setelah tahun lalu mereka terpukul keluar dari wilayahnya di Suriah dengan meningkatkan upayanya menarik anggota-anggota baru Malaysia, beberapa wilayah lain di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika Utara.

“ISIS tidak pernah mati,” ujar Aslam. “Kita saja yang mengatakan mereka sudah mati, tapi mereka sendiri tidak pernah menyatakan seperti itu. Warga Malaysia dan ribuan militan lainnya masih ada di sana [Suriah dan Irak].”

“Dengan semua negara sedang berfokus pada masalah kesehatan dan ketahanan pangan, ISIS mendapat celah untuk menyusup masuk. Hal ini dapat menjadi masalah yang nyata bagi Malaysia di masa yang akan datang,” ujarnya kepada BenarNews.

Menurutnya, kelompok ini terus dengan aktif melakukan rekrutmen dan indoktrinasi melalui sejumlah platform daring seperti Facebook.

“Rekrutmen dilakukan di media sosial tidak saja di Malaysia tapi juga di seluruh dunia yang masyarakatnya terdampak dengan adanya karantina wilayah [akibat COVID-19],” ujar Aslam.

“Masyarakat lebih banyak tinggal di rumah dan mereka menjelajah media sosial terus menerus, dan disitu muncul kesempatannya. ISIS juga terlihat telah meningkatkan upaya mereka untuk menyebar propaganda mereka di media sosial.”

Kepala badan kontraterorisme Indonesia mengatakan pada Juni lalu bahwa militan pro-ISIS terus mencoba untuk ekspansi dan melakukan serangan.

Polisi di Sulawesi Tengah – provinsi yang merupakan sarang aktivitas kelompok ekstremis – mengatakan pada BenarNews di April lalu bahwa para militan Indonesia “melihat bahwa pandemi ini benar-benar memberikan mereka peluang.”

Beberapa pengamat mengatakan bahwa sejumlah kelompok Indonesia yang terafiliasi dengan ISIS sudah menyatakan sumpah setia kepada pimpinan ISIS yang baru, Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurashi, atau yang dikenal oleh pemerintah AS sebagai Amir Muhammad Sa’id ‘Abd-al-Rahman al-Mawla.

Sementara itu, pejabat militer senior Filipina mengatakan kepada BenarNews bahwa mereka yang terlibat dalam merencanakan dan melakukan dua serangan yang dilakukan oleh perempuan pelaku bom bunuh diri, dan membunuh setidaknya 15 orang dan melukai lebih dari 70 orang di Pulau Jolo bulan lalu adalah anggota kelompok Daulah Islamiya, yang merupakan nama lokal bagi ISIS, atau bagi kelompok-kelompok lainnya di Filipina yang terafiliasi dengannya, termasuk kelompok Abu Sayyaf.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan yang berpartisipasi dalam serangan baru-baru ini dan penyebaran pelaku bom bunuh diri yang jauh lebih baik dan akurat, ujar seorang analis.

Pejabat militer Filipina tersebut mengatakan ada sekitar dua lusin kelompok pro-ISIS aktif di wilayah selatan seperti Jolo, Basilan dan Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao yang merupakan wilayah mayoritas Muslim.

"Mereka adalah dua faksi ISIS yang paling menonjol," ujar pejabat itu, merujuk pada Abu Sayyaf dan Pejuang Kebebasan Islam Bangsamoro (BIFF).

“Namun semuanya berada di bawah Daulah Islamiya dalam berbagai cara atau bentuk, mungkin untuk mencari dukungan, dan memperbanyak jumlahnya untuk menggagalkan agresi militer di lapangan. Kelompok Maute, yang terkenal di Marawi, juga masuk daftar ini,” ujarnya.

Dia juga merujuk pada pengepungan oleh pejuang Filipina pro-ISIS dan militan asing di Marawi pada tahun 2017 yang menyebabkan pertempuran selama lima bulan dan mengakibatkan kota itu hancur berantakan.

Seorang polisi berjaga-jaga ketika tim penjinak bom membawa seekor anjing pelacak saat melakukan penyisiran menjelang libur Natal di Gereja Katolik The Good Shepherd di Surabaya, Indonesia, Senin, 23 Desember 2019. [AP]
Seorang polisi berjaga-jaga ketika tim penjinak bom membawa seekor anjing pelacak saat melakukan penyisiran menjelang libur Natal di Gereja Katolik The Good Shepherd di Surabaya, Indonesia, Senin, 23 Desember 2019. [AP]

Kesaksian kepala kontraterorisme AS

Analisis oleh Aslam dan pakar keamanan lainnya sejalan dengan intelijen yang diterima oleh pejabat kontraterorisme di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa terlepas dari upaya AS dan koalisi, ISIS dan kelompok-kelompok terkait masih menjalankan strategi global yang agresif.

Benteng pertahanan terakhir ISIS di Suriah jatuh pada Maret 2019, dan pemimpinnya saat itu, Abu Bakar al-Baghdadi, tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Pasukan Khusus AS Oktober lalu.

Sejak itu, AS dan negara mitranya telah berhasil menargetkan tokoh ISIS terkemuka lainnya, namun kelompok itu terus bertahan, ujar Christopher Miller, direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional AS, pada pekan lalu.

"Terlepas dari keberhasilan ini, ISIS telah berulang kali menunjukkan kemampuan mereka untuk bangkit dari kekalahan besar selama enam tahun terakhir dan bertahan dengan mengandalkan kader veteran komandan di tingkat menengah yang berdedikasi, jaringan klandestin yang luas, dan penurunan tekanan kontraterorisme," ujar Miller dalam rapat dengar pendapat dengan Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS.

Dia mengatakan bahwa kelompok militan ini pada Mei lalu menyerukan serangan di Suriah dan Irak di bawah pemimpin baru mereka, al-Mawla, dan bahkan mereka menjanjikan akan memperbanyak serangan serupa di seluruh dunia.

Di luar wilayah Timur Tengah, ISIS "terus memprioritaskan ekspansi dan penguatan misi globalnya, yang sekarang telah mencakup sekitar 20 cabang dan jaringan," tambah Miller.

Miller juga mengatakan bahwa sejak tahun lalu, cabang-cabang ISIS ini telah meluncurkan lima kampanye global yang menggembar-gemborkan klaim serangan teror dan mengedarkan video propaganda.

Pasukan khusus mendemonstrasikan keahlian mereka dalam latihan penanganan terorisme dari helikopter sesudah peluncuran patroli gabungan antara Malaysia, Indonesia dan Filipina di pangkalan militer Subang, di Petaling Jaya, Malaysia, 12 Oktober 2017. [AP]
Pasukan khusus mendemonstrasikan keahlian mereka dalam latihan penanganan terorisme dari helikopter sesudah peluncuran patroli gabungan antara Malaysia, Indonesia dan Filipina di pangkalan militer Subang, di Petaling Jaya, Malaysia, 12 Oktober 2017. [AP]

'Ancaman ISIS masih ada di Indonesia'

Boy Rafli Amar, yang baru menjabat sebagai kepala badan kontraterorisme Indonesia pada Juni lalu, meminta dukungan parlemen untuk mendapat kenaikan 65 persen dalam anggaran lembaganya, dengan alasan bahwa upaya kontraterorisme membutuhkan lebih banyak dana dan sumber daya, dan mengingatkan bahwa para militan ini terus meningkatkan perekrutan selama pandemi virus korona.

“Kelompok radikal masih aktif melakukan propaganda rekrutmen baik daring maupun luring selama pandemi COVID-19,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

"Kami melihat hari ini penyalahgunaan dunia maya untuk menyebarkan ideologi terorisme telah merajalela."

Hal ini juga diamini oleh analis terorisme Sidney Jones, direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC ) yang berbasis di Jakarta, yang mengatakan kepada BenarNews bahwa ancaman dari ISIS terus berlanjut di Indonesia.

Sidney mengatakan bahwa beberapa sel pro-ISIS terus aktif di Jawa, Sumatera dan Sulawesi, seperti juga Mujahidin Indonesia Timur pro-ISIS, atau MIT, yang bergerilya di kawasan hutan di kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

MIT juga melancarkan serangkaian serangan awal tahun ini yang merupakan "akibat langsung dari ekstremis lokal yang melihat COVID-19 sebagai sekutu dalam perang melawan musuh-musuh Islam," kata IPAC dalam laporannya.

“Datangnya virus korona memberi Mujahidin Indonesia Timur (MIT) harapan baru bahwa kemenangan sudah dekat, dan mereka memulai serangkaian serangan yang didukung oleh penambahan anggota baru.”

Sidney mengatakan juga bahwa kematian al-Baghdadi dan berakhirnya kekhalifahan yang diproklamasikan oleh ISIS tidak mengakibatkan adanya penurunan dukungan terhadap ISIS di Indonesia seperti yang diharapkan beberapa orang.

“Beberapa kelompok pro-ISIS di Indonesia telah memperbarui bai'at [janji setia] mereka kepada al-Quraishi [pemimpin baru ISIS yang juga dikenal sebagai al-Mawla],” kata Jones, mengomentari MIT dan pro-ISIS lainnya seperti kelompok garis keras, Jamaah Ansharut Daulah.

"Mereka mengerti bahwa kepemimpinan dapat berubah dalam perang, karena sebagian besar anggota kelompok juga telah mengalami perubahan kepemimpinan.”

Muhammad Taufiqurrohman, peneliti senior di Center for Radicalism and Deradicalization Studies (PAKAR), mengatakan kepada BenarNews bahwa kelompok yang harus diawasi adalah Jamaah Ansyaarut Khalifah (JAK) yang aktif di Solo dan Bekasi di Jawa, dan Palembang, Sumatra Selatan.

“Kelompok moderat ini hampir tidak pernah terlibat dalam kekerasan atau serangan terencana, tetapi itu tidak berarti mereka tidak berbahaya,” ujarnya.

“Mereka selama ini fokus pada dakwah dan perekrutan, tapi sekarang mereka sedang menyusun rencana untuk mengirim militan ke Filipina. Dalam jangka panjang, JAK lebih berbahaya karena terorganisir dan memiliki jaringan yang lebih luas. ”

Pejabat di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Luar Negeri Indonesia menolak menanggapi pertanyaan untuk laporan ini. Sementara itu, BenarNews juga sudah mengontak Menteri Dalam Negeri Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi, dan kepala kontraterorisme namun tidak dibalas.

Rekrutmen melalui media sosial di Malaysia

Di Malaysia, tidak ada indikasi bahwa ancaman teror telah meningkat tetapi seorang analis lain setuju bahwa ISIS berusaha merekrut lebih banyak anggota di sana melalui media sosial.

“Tidak adanya aktivitas terbuka dan penangkapan tidak berarti upaya perekrutan ISIS telah berhenti. Perekrutan berskala rendah di Malaysia tetap menjadi masalah besar bagi polisi kami,” ujar Ahmed El Muhammady, spesialis kontraterorisme di Universitas Islam Internasional Malaysia, kepada BenarNews.

“Mungkin tidak ada peningkatan ancaman teror tetapi upaya perekrutan dengan menyebarkan propaganda di media sosial selama penutupan wilayah akibat COVID-19 sedang terjadi. ISIS menanam benih ideologinya secara global melalui propaganda ekstensif melalui media sosial, dan dengan  cara itu, mereka memiliki jangkauan global dan oleh karenanya memiliki pengikut global, ”katanya.

Bahkan sebelum pandemi, tampaknya media sosial telah digunakan sebagai alat perekrutan anggota ISIS di Malaysia, kata polisi pada tahun lalu.

Ayob Khan Mydin Pitchay, kepala kontra-terorisme polisi nasional saat itu mengatakan bahwa 16 tersangka militan yang ditangkap oleh polisi Malaysia pada September tahun lalu telah secara aktif mempromosikan ISIS dan merekrut anggota baru melalui media sosial.

ISIS tetap dan selalu bahaya

Di Filipina, militan pro-ISIS telah memanfaatkan peluang yang tercipta dengan adanya pandemi untuk memperkuat barisan mereka, di saat tugas pasukan keamanan dialihkan untuk membantu pemerintah memerangi COVID-19, menurut International Alert, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi resolusi konflik dan berbasis di London, dalam laporannya di bulan April.

Namun, bahkan sebelum pandemi melanda, laporan dari daerah otonom Bangsamoro di bagian selatan Filipina menunjukkan adanya kehadiran kelompok-kelompok baru yang berafiliasi dengan ISIS dan munculnya kembali kebangkitan kekerasan secara umum yang dilakukan oleh mereka, ujar Nikki C. de la Rosa, Manajer Perdamaian di International Alert Philippines, kepada BenarNews.

Serangan bom bunuh diri kembar yang direncanakan Abu Sayyaf di Jolo pada Agustus lalu adalah pertanda bahwa akan ada lebih banyak serangan mematikan seperti itu, ujarnya.

“Yang pasti sekarang ini adalah bahwa serangan teroris [terbaru] ini merupakan pesan yang jelas bahwa ISIS masih aktif, tetap komitmen, dan berbahaya sejak mereka bersembunyi [setelah pengepungan Marawi pada 2017] dan bahwa bahaya pembom bunuh diri belum selesai,” ujar de la Rosa tentang penyerangan yang dilakukan oleh dua wanita pengebom tersebut.

"Serangan [di provinsi Sulu] ini memiliki ciri khas dari jenis serangan teroris yang dilakukan oleh kelompok yang diilhami ISIS yang terkait dengan Kelompok Abu Sayyaf," ujar de la Rosa.

Dia merujuk pada dua serangan serupa sebelumnya pada Januari dan Juni tahun lalu di provinsi Sulu, yang melibatkan dua pelaku bom bunuh diri yang menyerang sasaran mereka di saat yang bersamaan.

“Melancarkan serangan pengeboman asinkron yang efektif seperti yang terjadi di Sulu mungkin merupakan pendahuluan dari hal-hal yang lebih buruk yang akan datang,” kata de la Rosa.

Terlebih lagi, ASG tampaknya telah memperluas operasinya untuk meradikalisasi perempuan, dan keterlibatan perempuan pelaku bom bunuh diri adalah "hal yang perlu diperhatikan,” katanya.

“Beberapa penjelasan menggambarkan hal ini sebagai bukti meningkatnya radikalisasi perempuan dan kemampuan yang lebih tinggi dari kelompok [ekstremis brutal] lokal untuk mempersiapkan, menyediakan logistik, dan mengerahkan pelaku bom bunuh diri.”

Meskipun ini mungkin benar, de la Rosa mengingatkan bahwa keterlibatan perempuan tidak boleh terlalu disederhanakan.

“Analisisnya tidak bisa lepas dari konteks - atau kontribusi faktor kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dirasakan lebih intens oleh perempuan dan merupakan inti dari tesis tentang hubungan gender yang berpotensi signifikan akan timbulnya konflik kekerasan khususnya di antara perempuan miskin yang juga berperan sebagai kepala keluarga di wilayah Mindanao."

Tampilan selengkapnya