Video Propaganda ISIS, Anak Laki-laki Dilatih Membunuh Non-Muslim


2015.03.17
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
ID_PROPAGANDA_ISIS_VIDEO_BAHASA_MELAYU_305_MARCH2015.jpg Anak-anak laki-laki mengambil bagian dalam latihan senjata tampak di sebuah video yang diunggah oleh al-Azzam Media.
Al-Azzam

Sebuah video yang konon diproduksi oleh Divisi Media Khalifah Islamiyah Berbahasa Melayu memperlihatkan  anak laki-laki yang dilatih untuk mengobarkan jihad melawan kafir.

Video tersebut disebarkan oleh pendukung the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), the New Straits Times melaporkan tanggal 17 Maret. Dalam video  berskala 2 menit tersebut, dengan sulih suara dan teks dalam bahasa Melayu, memperlihatkan sekitar 20 anak laki-laki belajar, berdoa, dan menjalani latihan pertahanan dan penggunaan senjata.

Video tersebut diakhiri dengan suara anak laki-laki menunjuk pistol ke arah kamera dan mengatakan “Kepada para thogut di seluruh dunia, ini untuk kamu,” sebuah tembakkan mengakhiri video tersebut.

Rekaman "Cahaya Tarbiyah di Bumi Khilafah,"  diunggah akhir pekan lalu dalam Bahasa Melayu oleh divisi media ISIS, according to the New Straits Times.

“Anak-anak kami adalah anak-anak yang akan kembali ke negri kami untuk menegakkan panji Allah,” kata seorang pria yang namanya tidak disebut dalam video tersebut.

Pria ini juga mengatakan bahwa anak-anak ini akan didik untuk menegakkan Syariat Islam.

“Akan memastikan syariat Islam didirikan dan melumat habis kebatilan,” katanya.

Analisa Pakar ISIS meluaskan sayapnya ke Asia Tenggara

Menurut analisa pakar, rekaman ini dirilis untuk mempercepat sayap operasi ISIS di Asia Tenggara. ISIS Unit Malay Archipelago didirikan tahun lalu dan mereka menamakan organisasi tersebut  “Katibah Nusantara,” Portal the Star melaporkan tanggal 17 Maret.

"Telah terjadi suatu gelombang besar materi berbahasa Indonesia dan Malaysia yang diunggah oleh ISIS secara online," kata Jasminder Singh, seorang analis dan peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies, kepada the New Straits Times.

"Sebelumnya terdapat video yang menampilkan anak-anak Arab dan Asia Tengah, dan ini jelas bahwa mereka menjangkau dukungan di Asia Tenggara," katanya.

Keputusan untuk menyebarkan video rekrutmen dalam Bahasa Melayu dan bukan Bahasa Indonesia, menunjukkan bahwa ISIS mempunyai target propaganda yang lebih luas, bukan hanya Indonesia tetapi juga Malaysia dan Thailand Selatan, the New Strait Times melaporkan.

"Mereka ingin mencari dukungan keuangan, dan untuk menarik orang Indonesia dan Malaysia untuk bermigrasi mendukung kekhalifahan," kata analis Robi Sugara dari Barometer Institute seperti dikutip oleh the New Strait Times tanggal 17 Maret.

Video ini adalah untuk yang pertama menunjukkan bagaimana ISIS mulai mendidik dan melatih anak-anak di Asia Tenggara untuk bertempur secara aktif.

“Anak-anak ini akan menjadi generasi penerus pejuang (ISIS-red). Kalian bisa menangkap kami (ISIS), membunuh kami (ISIS), tetapi kami (ISIS) akan terus beregenerasi seberapapun kerasnya kalian mencoba?” kata Jasminder Singh.

ISIS meresahkan

Video ini juga menayangkan bagaimana anak-anak kecil sudah didik untuk menjadi mujahid. Mereka juga telah dicuci otaknya untuk membenci orang lain yang tidak sepaham.

“Besok kamu ingin menjadi apa kalau suda besar?” kata pria dalam video tersebut yang dijawab lantang dengan anak didiknya.

“Mujahid” kata anak tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman menyatakan, BIN langsung berkoordinasi dengan agensi lainnya.

"Langsung kita (koordinasikan) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika," ujar Marciano di kompleks Istana Kepresidenan seperti dikutip oleh CNN Indonesia tanggal 17 Maret.

Marciano tidak menjelaskan secera rinci langkah apa yang akan diambil oleh Indonesia untuk mengatasai hal ini.

Anggota Komisi VIII DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) meminta kepada semua pihak, termasuk media, untuk tidak menyamakan pemberitaan tentang ISIS dengan Islam.

"Ini tentu saja bisa direpresentasikan sebagai penolakan resmi umat Islam pada ISIS. Namun tentu kearifan para pengelola media juga penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Karena itu, pemberitaan tentang ISIS perlu didudukkan dalam konteks politik, bukan agama," kata Saleh Partaonan Daulay seperti dikutip oleh Portal Beritasatu tanggal 17 Maret, 2015.

Saleh juga berkata bahwa ISIS adalah organisasi politik yang menggunakan terminologi dan simbol Islam untuk meluaskan jaringan kekuasaannya termasuk melibatkan anak-anak yang tidak berdosa.

Oleh BenarNews staf dengan masukan dari media lokal dan international

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya