Jenazah 54 Korban Kecelakaan Pesawat Trigana Dievakuasi Rabu

Oleh Zahara Tiba
2015.08.18
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150818_ID_ZAHARA_PLANE_CRASH_700.jpg Foto dari Basarnas memperlihatkan puing-puing pesawat Trigana Air ATR 42-300 bertebaran di hutan belantara pegunungan Oksibil sehari setelah hilang, 17 Agustus 2015
Photo: Benar

Jenazah 54 korban kecelakaan pesawat Trigana Air yang jatuh pada tanggal 16 Agustus lalu akan diterbangkan ke Jayapura pada hari Rabu ini, setelah ditemukan oleh tim pencari yang dikoordinasi oleh Badan SAR Nasional (Basarnas).

Pihak kepolisian juga telah mengirimkan tim forensik untuk mengidentifikasi jenazah korban yang terdiri dari 44 penumpang dewasa, dua anak serta tiga bayi dan lima kru pesawat itu ke Jayapura.

Sementara keluarga korban telah mengirimkan 45 data antemortem.

Ketika dihubungi BeritaBenar pada hari Selasa 18 Agustus Kepala Basarnas Bambang Soelistyo memperkirakan evakuasi dapat cepat dilakukan.

“Kondisi evakuasi termasuk cepat karena jarak dari Oksibil ke lokasi jatuhnya pesawat hanya tujuh mil. Hanya saja memang medan yang berat. Cuaca juga menentukan,” jelas Bambang.

Bambang mengapresiasi timnya yang telah bekerja dengan sangat baik.

“Misi utama kami untuk evakuasi korban dan menemukan black box sudah terpenuhi,” tegasnya.

Pada hari Selasa tim SAR akhirnya berhasil mencapai lokasi puing-puing pesawat naas dengan rute Sentani- Oksibil itu, di Pegunungan Bintang setelah pencarian sempat dihentikan akibat cuaca buruk.

Tantangan dalam proses identifikasi

Di hari ketiga pencarian,  tim pencari dan penyelamat akhirnya dapat mencapai lokasi kecelakaan.

Tim yang berjumlah 320 orang tersebut memastikan tidak ada korban yang selamat dari kecelakaan tersebut. Proses evakuasi yang dibantu sekitar 50 warga lokal selanjutnya akan dilakukan lewat jalan darat atau dengan helikopter.

Basarnas sudah menyiapkan dua helikopter untuk mengangkut jenazah ke Jayapura.

Hanya saja dalam proses identifikasi korban, ujar Bambang, ada sedikit tantangan.

“Sebagian keluarga korban ingin identifikasi dilakukan di Oksibil, sementara kami ingin memusatkan di Jayapura. Tentu saja ini akan menyulitkan tim DVI [Disaster Victim Identification] kepolisian. Kami akan coba diskusikan lagi dengan keluarga korban,” tuturnya.

Tim juga telah menemukan kotak hitam pesawat dan telah menyerahkannya ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk diselidiki lebih lanjut.

Ketika dihubungi BeritaBenar secara terpisah lewat sambungan telepon, Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan kotak hitam rencananya akan diterbangkan ke Jakarta pada hari Kamis mendatang.

“Dalam waktu sehari atau dua hari, data [kotak hitam] bisa dikumpulkan. Tapi untuk analisa butuh waktu lama, bisa lebih dari sebulan,” ungkapnya.

Tatang juga mengapresiasi kinerja tim Basarnas yang mampu bergerak cepat dalam menemukan kotak hitam pesawat.

Selain penumpang, pesawat tersebut juga dikabarkan mengangkut dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera senilai Rp. 6,5 miliar. Basarnas mengatakan uang itu hangus terbakar.

Kementerian Sosial sendiri menyatakan siap menggantikan uang yang ikut terbakar bersama pesawat tersebut.

Penerapan peraturan harus diawasi

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan kondisi topografi di Papua memang sulit dengan daerah pegunungan terjal dan hutan lebat. Karena itu penerbangan jadi solusi terbaik untuk transportasi, baik transportasi barang maupun orang.

Kecelakaan seperti ini, menurut Gerry, memang risiko dalam penerbangan, meskipun peraturan dibuat seketat apapun.

“Masalahnya bukan di peraturan, tapi penerapannya. Sudah benar atau tidak. Peraturan penerbangan di Indonesia sendiri sudah sama dengan di Amerika Serikat. Menambah peraturan tanpa adanya penyamaan persepsi malah menambah masalah,” tutur Gerry kepada BeritaBenar.

Namun Gerry mengakui topografi yang sulit dan supervisi yang masih lemah menjadi tantangan sendiri bagi penerbangan di Papua.

“Saya sendiri juga tidak mau diminta menerbangkan pesawat di sana. Dari segi keamanan di bandara lokal saja masih belum sepenuhnya sesuai standar. Bisa saja ketika pesawat mau take off ada babi melintas. Kalau kita menabrak babinya, pasti akan jadi masalah dengan penduduk lokal,” tukas Gerry.

Gerry meyakini tugas tim SAR memang jadi sulit dengan lokasi jatuhnya pesawat yang terpencil, pegunungan terjal, hutan lebat, dan hewan-hewan liar. Belum lagi faktor cuaca yang mudah berubah.

“Tadi pagi saya dapat kabar proses evakuasi terhambat karena ada badai, namun cuaca kembali cerah,” tukasnya.

Meski demikian, lanjut Gerry, penerbangan tetap akan dibutuhkan di sana.

“Ke depannya butuh duduk bersama baik dari pihak operator maupun regulator untuk menyamakan persepsi,” saran Gerry.

Sebelumnya Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan akan meminta pertanggungjawaban semua pejabat dan aparat yang terkait dengan hilangnya pesawat Trigana.

"Setiap aparatur yang terkait hilangnya pesawat, harus bertanggungjawab. Saya tidak mentoleransi kelalaian dalam pekerjaan apapun," ujarnya kepada BeritaBenar di Kantor Kementerian Perhubungan pada hari Senin.

Pesawat jenis ATR 42 milik Trigana bernomor penerbangan IL 257 tersebut diterbangkan oleh Kapten Pilot Hasanudin dan Co-Pilot Ariadin.  Tiga awak pesawat lain yang menjadi korban adalah dua pramugari, Ika N dan Ditta A, serta seorang teknisi bernama Mario.

Desember tahun lalu, Indonesia juga berduka dengan jatuhnya pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura.

Pesawat yang mengangkut 155 penumpang tersebut jatuh ke perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Cuaca buruk dituding menjadi penyebab utama jatuhnya pesawat.

Kecelakaan pesawat di Papua menambah runtutan jumlah pesawat Indonesia yang mengalami kecelakaan total.

Dunia international ikut menyoroti hal ini karena pasalnya Indonesia merupakan negara kepulauan yang menjadi salah satu tujuan bisnis di Asia dan sedang mengalami perkembangan pesat dalam dunia penerbangan, menurut laporan Associated Press (AP).

Bulan Juli lalu, pesawat milik TNI Hercules C-130 jatuh menimpa sejumlah bangunan dan mewaskan setidaknya 142 orang.

Sebelumnya, di bulan Desember 2014 lalu, penerbangan Air Asia QZ8501  rute Surabaya - Singapura juga dinyatakan hilang, setelah akhirnya diketahui kandas di laut Jawa dan menewaskan seluruh penumpang dan krew pesawat.

Kandasnya Pesawat Trigama, merupakan kecelakaan kelima Maskapai Asia, kutip AP.

Yenny Herawati ikut memberikan kontribusi dalam artikel ini.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya