Follow us

JI Disebut Sedang Bangun Kekuatan Sebelum Beraksi

Arie Firdaus
Jakarta
2019-07-12
Email
Komentar
Share
Para peselancar bergandengan dalam event "Paddle for Peace" di Pantai Kuta untuk mengenang para korban dalam menandai 10 tahun bom Bali. 12 Oktober 2012.
Para peselancar bergandengan dalam event "Paddle for Peace" di Pantai Kuta untuk mengenang para korban dalam menandai 10 tahun bom Bali. 12 Oktober 2012.
Reuters

Pejabat berwenang mengatakan mereka sedang menyelidiki apakah Jemaah Islamiyah, kelompok yang melakukan bom bali 2002 dan serangan teror lain di Indonesia, terlibat dalam usaha kebun kelapa sawit dan usaha-usaha lain yang dapat menjadi summer dana operasi mereka.

"Kami menduga mereka tengah membangun fondasi ekonomi yang kuat guna nantinya merealisasikan rencana kelompok. Meski saat ini kami mendeteksi belum ada rencana ke sana dalam waktu dekat," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo kepada BeritaBenar di Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019.

Dugaan itu tersingkap setelah penyidik Polri mendalami keterangan tersangka Para Wijayanto yang ditangkap, Sabtu dua pekan lalu di Bekasi, Jawa Barat.

Para disebut sebagai pimpinan atau amir JI tingkat nasional dan pernah terlibat dalam sejumlah teror di Indonesia seperti bom Bali yang menewaskan 202 orang, bom malam Natal 2000, bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta 2004, dan kerusuhan Poso pada 2005-2007.

"Salah satunya (fondasi ekonomi) dengan perkebunan sawit yang dimiliki di daerah Kalimantan dan Sumatera," tambah Dedi.

Dia menambahkan polisi masih memeriksa seseorang yang disebut sebagai bendahara JI dengan inisial SA, yang ditangkap di Magetan, Jawa Timur, pada 3 Juli lalu.

SA mengelola keuangan JI di bawah struktur yang didirikan Para, kata Dedi.

Namun, dia tak memerinci sejak kapan JI memulai bisnis perkebunan, total luas lahan, dan keuntungan yang didapat dari bisnis tersebut. Termasuk kemungkinan bisnis lain yang dimiliki anggota JI untuk menghidupi kelompoknya.

"Apapun yang disita dari kelompok teroris akan digunakan sebagai bukti di persidangan. Itu bisa disita atau dihancurkan, tergantung pada perintah pengadilan,” kata Dedi.

“Jika kita merampas atau menghancurkan perkebunan itu, tentu akan mempengaruhi pendapatan kelompok itu sampai batas tertentu. Tapi sekali lagi, kita masih menyelidiki seberapa besar perkebunan mereka atau apakah mereka memiliki bisnis lain.”

Yang pasti, katanya, hasil berbisnis perkebunan membuat JI mampu menggaji sejumlah anggotanya Rp10-15 juta setiap bulan dan memberangkatkan enam kelompok ke Suriah untuk menjalani latihan militer sepanjang 2013 hingga 2018.

"Berapa total orang yang diberangkatkan (ke Suriah), itu masih didalami," kata Dedi lagi.

Para ditangkap Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri pada pukul 06.12 WIB, bersama istrinya yang bernama Masitha Yasmin dan tangan kanannya Bambang Suyoso di Hotel Adaya di Jalan Raya Kranggan, Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat.

Dalam keterangan tak lama usai penangkapan, polisi menyatakan Para sudah diburu sejak 2003.

"JI masih ada karena impian mereka mendirikan negara Islam selalu ada," ungkap Noor Huda Ismail, pakar terorisme yang juga pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian.

“JI bukan hanya organisasi teroris, tetapi gerakan sosial. Mereka memiliki sumber daya sendiri, termasuk sekolah dan perkebunan. ”

“Tentu, kita harus waspada. Kita perlu memahami mereka, tetapi menangkap mereka semua bukan hal yang efisien untuk dilakukan, ” tambahnya.

Potensi Ancaman

Merujuk laporan International Crisis Group, JI di masa lalu mengumpulkan dana untuk aksi mereka, antara lain, dengan merampok atau di kalangan internal jaringan tersebut disebut sebagai fa'i.

Hal ini pernah dilakukan Toni Togar bersama enam anak buahnya yang merampok mobil pembawa uang milik Bank Lippo pada 2003. Dalam aksinya, Toni ketika itu menembak mati dua satpam, melukai sopir, dan membawa kabur Rp113 juta.

"Anggota JI memang sudah lebih adaptif dalam menjalankan organisasi. Salah satunya dengan perkebunan," kata mantan anggota JI, Sofyan Tsauri.

“Mereka tidak lagi menggelar aksi mencolok. Bisa jadi mereka memang menyiapkan kekuatan dan finansial."

Hal serupa disampaikan pengamat Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), Adhe Bhakti yang mengatakan bahwa JI memang melemah sejak dinyatakan terlarang di Indonesia.

Sejumlah tokoh yang pernah berlatih di Afganistan dan Filipina cenderung menghindari kontak dengan sisa anggota jamaah lain.

"Mereka mencoba hidup dengan cara ‘biasa’," kata Adhe.

Kendati begitu, ia menilai potensi ancaman dari JI tetap ada dan harus diwaspadi karena JI di bawah kepemimpinan Para Wijayanto telah mengirim enam kelompok orang untuk berlatih militer di Suriah.

Selain itu, mereka juga terus membina kelompok sayap militer --disebut Asykari-- yang tersebar di seluruh provinsi di Jawa dan Lampung di Sumatera.

"Jumlah tepat (anggota asykari) saya tidak tahu. Tapi setidaknya, di setiap wilayah ada antara 10 hingga 20 personel asykari," kata Adhe.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones juga menyuarakan hal sama.

Menurutnya, JI di bawah Para Wijayanto memang menghindari aksi kekerasan untuk mengakibatkan penangkapan massal.

Mereka lebih berfokus pada dakwah, pendidikan, dan rekrutmen anggota baru untuk membangkitkan kembali organisasi di masa mendatang.

"Mereka memutuskan untuk sementara, kekerasan di Indonesia adalah sesuatu yang harus dihindari," kata Sidney.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyatakan terorisme dan radikalisme masih menjadi ancaman di tengah masyarakat Indonesia.

"Segenap anggota Polri yang saya cintai, saya perlu menegaskan bahwa terorisme dan radikalisme masih menjadi potensi ancaman yang serius," katanya saat jadi inspektur upacara pada peringatan puncak HUT ke-73 Bhayangkara di Lapangan Monas, Jakarta, Rabu lalu.

Masa Depan JI

Terkait masa depan JI di Indonesia, menyusul penangkapan Para dan sejumlah orang kepercayaannya, Sidney mengatakan JI dan kelompok yang terafiliasi Al-Qaeda tidak otomatis akan berhenti.

"Kalau satu atau dua orang ditangkap walaupun orang yang paling senior, tidak berarti organisasi akan mati," katanya.

Begitu juga penilaian Adhe Bhakti yang menyebut JI masih memiliki banyak kader.

Adhe mencatat setidaknya JI kini masih memiliki sekitar 1.000 orang pengikut.

"Berakhir untuk sebentar. Tapi kepemimpinan pasti akan berganti seiring ditangkapnya Para Wijayanto," pungkas Adhe.

Tia Asmara dan Rina Chadijah di Jakarta turut berkontribusi dalam artikel ini.

Tampilan selengkapnya