Jokowi Merayakan Lebaran di Aceh

Oleh Paramita Dewiyani dan Yenny Herawati
2015.07.16
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150716_ID_JOKOWI_LEBARAN+ACEH_700.jpg Presiden Joko Widodo dengan Ibu Negara Iriana Widodo saat berkunjung ke Nol Kilometer, titik paling utara dari kepulauan Indonesia, di Sabang, Aceh tanggal 10 Maret 2015
AFP

Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan merayakan Idul Fitri di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk menjalin kedekatan dengan masyarakat Aceh.

"Kali ini saya ingin berlebaran di Aceh. Indonesia itu terbentang dari Sabang sampai Merauke. Oleh sebab itu, saya tidak ingin merayakan Lebaran hanya di Jakarta. Saya awali tahun ini dari Aceh,” kata Jokowi kepada wartawan di Aceh Tengah, Kamis tanggal 16 Juli.

“Tahun depan bisa saja saya merayakan Idul Fitri di Sumatera Barat, berikutnya di Nusa Tenggara Barat, lalu ke Maluku dan seterusnya. Ini saya lakukan agar kita masyarakat merasa sebagai bagian bangsa Indonesia, dan Jokowi adalah Presiden Indonesia," katanya.

Aceh Memanas

Tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafi'i Ma'arif mengatakan bahwa keputusan Presiden Jokowi perlu dihargai.

“Tentunya ini harus dihargai bahwa beliau ingin menjalin kedekatan dengan seluruh masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya,” katanya di Jakarta.

“Sebaiknya keputusan ini jangan dipolitisasi, tidak perlu dikaitkan dengan isu politik di Aceh, atau isu yang belakangan ini berkembang tentang Negara Islam,” katanya merujuk sejumlah anggota mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan ingin bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Aceh yang juga dikenal sebagai “Serambi Mekah” adalah satu-satunya propinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Propinsi bagian paling barat Indonesia ini belakangan ini juga menjadi sorotan karena sekitar seratus mantan GAM menyatakan ingin bergabung dengan tentara ISIS.

“Saya dan sekitar 100 mantan kombatan GAM siap pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS karena tidak ada lagi yang dapat kami kerjakan di Aceh,” kata Fakhruddin Bin Kasem, mantan wakil panglima GAM kepada BeritaBenar, tanggal 7 Juli.

Disambut gembira oleh masyarakat Aceh

Penggiat Hak Azasi Manusia (HAM) Aceh, Muhammad Usman, mengatakan mudik ke Aceh adalah yang pertama kali dilakukan oleh Presiden Indonesia.

“Semua presiden Indonesia mempunyai akar dari Jawa yang kuat. Jadi biasanya mereka mudiknya kembali ke Jawa. Untuk itu keputusan ini merupakan keputusan unik yang harus dihargai,” katanya kepada BeritaBenar hari Kamis tanggal 16 Juli.

Usman (nama panggilan) mengatakan sebaiknya kunjungan silaturahmi ini juga diikuti dengan observasi keberadaan Aceh.

“Termasuk meninjau pelaksanaan hukum syariah yang masih tidak adil karena tidak mengikat seluruh umat Muslim di Aceh, terutama para pejabat. Selain ini juga meninjau beberapa daerah  yang mengalami banjir,” katanya lanjut.

Kedatangan Presiden Jokowi beserta rombongan kepresidenan disambut gembira oleh masyarakat Aceh.

“Semoga Bapak Presiden betah di Aceh. Kami merasa diperhatikan dengan kedatangan beliau di Aceh,” kata Hanifah (21), warga Aceh.

“Belum pernah ada presiden Indonesia dari Aceh, jadi dikunjungi oleh Presiden Jokowi merupakan kebangaan,” katanya lanjut.

Hiruk Pikuk Jakarta

Sementara itu di Jakarta pemudik tahunan akan mencapai puncaknya malam ini.

Ratusan ribu penduduk ibu kota diperkirakan sudah meninggalkan Jakarta sejak awal minggu ini.

Untuk mencegah semakin banyaknya korban yang tewas di jalan, Kepala Polisi Indonesia (Kapolri) Badrodin Haiti mengimbau agar tokoh agama tidak membawa rombongan berkonvoi dan melaksanakan takbir keliling.

Badrodin meminta para pemuka agama memikirkan baik buruknya kegiatan tersebut.

"Kita menghimbau untuk tidak konvoi. Kalau tidak memberikan manfaat, tidak usah dilakukan," kata Badrodin di Jakarta.

"Cukup lakukan takbir di kantor atau di lapangan ini lebih bagus karena lebih aman," jelasnya.

Untuk menjamin keamanan dan kelancaran mudik dan Idul Fitri 2015, Polri dan TNI telah mengerahkan 145.676 personel dalam pelaksanaan Operasi Ketupat 2015 yang berlangsung selama 16 hari, 10 Juli – 25 Juli.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, mengimbau masyarakat agar tertib jika mereka bersi keras melakukan takbir keliling.

Ia meminta masyarakat yang bertakbir keliling menggunakan pakaian putih.

"Supaya kelihatan mana yang mau takbiran mana yang tidak," ujar Amirsyah di Jakarta.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.