Follow us

Jokowi Siap Berdialog dengan Tokoh Pro-Referendum Papua

Ketua ULMWP Benny Wenda sambut usulan itu namun menyasratkan seluruh pasukan TNI/Polri harus ditarik dari Papua.
Arie Firdaus & Victor Mambor
Jakarta & Jayapura
2019-09-30
Email
Komentar
Share
Pengungsi sedang antri untuk menumpang pesawat Hercules milik TNI AU di Bandara Kota Wamena sebelum berangkat ke Jayapura, Papua, 30 September 2019.
Pengungsi sedang antri untuk menumpang pesawat Hercules milik TNI AU di Bandara Kota Wamena sebelum berangkat ke Jayapura, Papua, 30 September 2019.
Anyong/BeritaBenar

Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengatakan pada Senin, 30 September 2019, bahwa ia siap berdialog dengan para tokoh pro-referendum Papua, sementara ribuan warga pendatang di Wamena dievakuasi ke Jayapura menyusul kerusuhan minggu lalu di tempat itu yang mengakibatkan 33 orang tewas.

Protes yang melibatkan ratusan siswa SMA di Wamena 23 September lalu itu yang dipicu oleh dugaan ujaran rasisme oleh seorang guru berubah menjadi rusuh ketika massa membakar kantor-kantor pemerintah dan toko-toko, demikian kata pejabat setempat.

Pada hari yang sama sejumlah mahasiswa Papua juga bentrok dengan aparat yang menyebabkan tiga pelajar dan seorang tentara tewas, demikian menurut sumber polisi.

"Siapa pun akan saya temui kalau memang ingin bertemu. Tidak ada masalah," kata Jokowi, mengacu pada tokoh pendukung kemerdekaaan Papua baik itu dari Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat (ULMWP) ataupun dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Jokowi menyatakan hal itu kepada wartawan di Istana Kepresidenan Bogor, Senin.

Situasi Papua semakin memanas sejak insiden persekusi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, pertengahan Agustus lalu.

Desakan dialog untuk menyelesaikan masalah Papua terus digaungkan sejumlah pihak.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), misalnya, juga meminta pemerintah pusat di Jakarta bersedia menggelar dialog dengan tokoh-tokoh Papua untuk meredam gejolak yang masih terjadi.

"Langkah itu adalah solusi terbaik. Jika tidak diselesaikan dengan dialog, saya khawatir akan memicu dampak lebih besar, termasuk respons dunia internasional," kata Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Sebelumnya, desakan dialog juga disuarakan Ketua DPRD Kabupaten Maybrat di Papua Barat, Ferdinando Solossa, ketika bertemu Kepala Staf Presiden Moeldoko di Jakarta, Selasa pekan lalu.

Ferdinando meminta Presiden Jokowi segera memulai diskusi penyelesaian dengan melibatkan pihak ketiga yang independen, netral, dan objektif.

Menanggapi pernyataan Jokowi itu, Benny Wenda menanggapi positif dan siap untuk berdialog.

"Kami sambut baik apa yang disampaikan oleh Pemerintah Indonesia. Namun kami hanya akan berdialog jika seluruh pasukan TNI/Polri ditarik terlebih dahulu dari Tanah Papua tanpa syarat," kata Benny saat dihubungi BeritaBenar.

 

 

Banyak pengungsi

"Saya ucapkan duka mendalam meninggalnya korban di Wamena, 33 meninggal," kata Jokowi, merespons kerusuhan di Wamena.

Ia menambahkan aparat keamanan bekerja keras untuk melindungi warga dan meminta tidak ada pihak yang mengarahkan kerusuhan itu sebagai konflik antar-etnis.

"Ini adalah Kelompok Kriminal Bersenjata turun dari gunung dan melakukan pembakaran-pembakaran rumah warga," katanya, menambahkan beberapa tersangka yang melakukan pembunuhan dan pembakaran telah ditangkap.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan polisi telah menangkap lima tersangka kerusuhan di Wamena.

"Dari hasil pemeriksaan, lima tersangka sudah ditetapkan oleh Polres Wamena," katanya.

Sedangkan dalam bentrokan di Jayapura, Senin lalu, tiga mahasiswa dan satu anggota TNI tewas.

Komnas HAM mencatat bahwa terdapat 43 orang yang masih dirawat di Rumah Sakit Wamena.

"Adapula 5.000 pengungsi yang berada di Mapolres Wamena, 2.700 pengungsi di Kodim Wamena, dan 500 pengungsi di bandar udara Wamena," jelas Ahmad Damanik.

"Makanya Komnas HAM mengutuk keras sekaligus berbelasungkawa atas tragedi tersebut."

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua menyatakan sebanyak 7.278 orang masih berada di 59 titik pengungsian seperti markas kepolisian dan tentara, gereja, serta kampung-kampung di sekitar Wamena.

Situasi Wamena, terang John, kini telah berangsur kondusif dan warga mulai beraktivitas seperti biasa.

"Mereka bekerja di kebun dan tidak terganggu dengan situasi yang terjadi. Semoga situasi ini pulih dan provokator ditindak sesuai aturan," katanya

Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto dalam keterangan pers di Jakarta berharap warga yang mengungsi dapat kembali ke kediaman masing-masing karena situasi telah kondusif.

Wiranto mengkhawatirkan, jika para pengungsi tidak kembali ke rumah masing-masing, situasi Wamena akan semakin parah karena ekonomi tidak berjalan.

"Bisa dibayangkan, kalau mereka berbondong-bondong keluar dari Wamena, lalu siapa yang menggerakkan roda perekonomian daerah itu?" katanya.

Presiden Jokowi juga meminta warga Wamena tetap tenang dan kembali ke daerah masing-masing karena aparat keamanan telah berhasil mengendalikan situasi.

"Tentu masih ada yang merasa takut, tapi kami terus mengimbau agar masyarakat tidak keluar dari Wamena," katanya.

"Kepala suku Lembah Baliem di Wamena juga telah mengajak, mengimbau untuk seluruh warga agar tidak mengungsi ke luar Wamena. Saya kira itu sebuah imbauan yang baik."

Namun, ratusan warga dikabarkan telah keluar dari Wamena dan sebagian dari mereka ada yang sudah kembali ke daerah asalnya.

Kisah pengungsi

Seorang pengungsi, Nani Susongki saat ditemui di Lapangan udara SPR Jayapura mengisahkan, ia selamat dari kericuhan di Wamena setelah dibantu seorang perempuan asli Papua yang biasa disapa Mama Manu.

“Mama Manu sembunyikan kami di honai (rumah tradisional),” kata perempuan asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Nani mengaku, ia berada di rumah saat anak perempuannya yang kerja di toko ponsel menelponnya agar tidak keluar rumah karena akan ada demonstrasi.

“Tidak lama kemudian, ada yang bilang daerah Homhom sudah terbakar. Situasi kota sudah kacau. Terdengar bunyi tembakan, sehingga saya ajak keluarga keluar rumah lewat pintu belakang untuk bersembunyi,” kata Nani yang telah menetap di Wamena selama 17 tahun.

Saat meninggalkan pintu belakang rumahnya, dia melihat tiga orang berjalan ke arahnya sambil membawa alat tajam.

Ia dan keluarganya merasa takut. Namun ketiga orang yang merupakan warga asli Papua ingin menolong Nani dan keluarganya. Mereka pun disembunyikan di kediaman Mama Manu selama hampir dua jam.

Seorang warga lain bernama Islami, yang memilih tidak mengungsi dan tetap berada di Wamena, mendapati motor yang diparkir di halaman rumahnya sudah disirami bensin dan solar.

Ia juga mendengar ajakan berdemonstrasi yang disuarakan sekelompok siswa SMA. Tak lama kemudian, bunyi tembakan terdengar dan kondisi kota Wamena menjadi kacau.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena saya sibuk mengungsikan keluarga saya sejak mendapati motor saya disirami solar dan bensin,” ujar Islami yang sudah tinggal di Wamena selama lima tahun.

Tampilan selengkapnya