Follow us

Wakil Walikota Solo yang Sempat Ditemuinya Positif COVID-19, Jokowi Lakukan Tes Swab

Epidemiologis mengatakan rapid test, yang menjadi salah satu syarat sebelum bertemu Presiden, tidak akurat.
Tia Asmara
Jakarta
2020-07-24
Email
Komentar
Share
Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengenakan masker sebagai langkah pencegahan penularan COVID-19 dalam sebuah acara di Istana Merdeka di Jakarta, 30 April 2020.
Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengenakan masker sebagai langkah pencegahan penularan COVID-19 dalam sebuah acara di Istana Merdeka di Jakarta, 30 April 2020.
AP

Presiden Joko “Jokowi” Widodo melakukan test usap (swab) pada Jumat (24/7) setelah Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo dinyatakan terinfeksi COVID-19 setelah bertemu dengannya pekan lalu, demikian disampaikan Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono.

Selain Presiden, ujarnya , Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, dan seluruh keluarga juga ikut melakukan tes usap di waktu yang sama, ujar Heru dalam keterangan pers di Istana, tanpa menjelaskan kapan hasil tes keluar.

“Hari ini Presiden dijadwalkan untuk melakukan tes kesehatan, termasuk di antaranya swab test," kata Heru.

Heru tidak menjelaskan bagaimana Purnomo, yang bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana pada Kamis, 16 Juli lalu, tertular virus COVID19. Namun, ujar dia, pihaknya akan lebih fokus untuk menjaga Presiden dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kami tegaskan di sini, setiap pejabat, menteri, ataupun masyarakat yang akan bertemu dengan Bapak Presiden, kami lakukan protokol kesehatan yang sangat ketat,” ujar Heru.

“Pertama adalah dilakukan rapid test, kedua tentunya kita mau mengenakan masker, ketiga adalah selalu menjaga jarak. Di dalam istana pun, kursi dan tata letak meja dan kursi itu sudah dilakukan jaga jarak dan lainnya," katanya.

Sementara itu, jumlah kasus harian COVID 19 pada Jumat bertambah 1.761, menjadikan total kasus terkonfirmasi sebanyak 95.418. Sedangkan jumlah pasien sembuh bertambah 1.781 menjadikan total pasien sembuh sebanyak 53.945.

Sedangkan angka kematian nasional akibat COVID-19 adalah 4.665 dengan bertambah 89 orang yang meninggal pada hari ini.

Heru mengatakan Presiden beserta para perangkat yang melayaninya pun selalu melakukan tes kesehatan secara rutin, termasuk swab test maupun rapid test.

Selain itu, pergantian perangkat yang melayani Presiden Jokowi secara langsung juga dilakukan dengan rentang waktu dua bulan sekali.

"Seperti yang dekat dengan Bapak Presiden yang memasak, termasuk Paspamres, itu dua bulan baru berganti. Setiap pergantian kami lakukan swab. Termasuk juga Paspampres kami lakukan swab," imbuhnya.

Selain itu, ujar dia ruangan yang setiap hari digunakan oleh Presiden untuk bekerja maupun bertemu masyarakat dan pejabat pasti telah disterilisasi, termasuk menggunakan disinfektan ultraviolet.

"Misalnya Bapak Presiden akan bekerja hari-hari di Istana Negara, berarti jam 6 kami lakukan sterilisasi dan orang tidak boleh masuk. Saya rasa sudah ketat, ini sudah maksimum," ungkapnya.

Untuk ke depannya, Heru juga menyebut bahwa pihak Istana mempertimbangkan untuk mengurangi tamu yang akan bertemu Presiden Jokowi.

"Mungkin tidak mengurangi intensitas kerja Beliau, tetapi mungkin jumlah orang yang kami kurangi. Walaupun sekarang itu kami sudah, contohnya setiap ketemu dengan warga kan tadi sore jam 3 di Bogor 30 (orang). Mungkin kami akan pikirkan kami kurangkan (menjadi) 20 (orang) dengan jarak yang mungkin agak lebih jauh lagi. Kira-kira seperti itu," ujarnya.

Tak bergejala

Dalam kesempatan berbeda, Purnomo mengatakan dirinya tidak merasakan gejala apapun walaupun dinyatakan terinfeksi COVID-19.

Purnomo mendapatkan hasil test swab COVID19 terakhir pada Kamis (23/7).

“Saya merasa sehat, tidak ada gejala apapun,” ujar dia seperti ditayangkan KompasTV.

Ia mengatakan dirinya menjalani rapid test sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta minggu lalu.

“Hasilnya negatif. Kemudian saat kembali dari Jakarta, saya melakukan test swab di Solo dan hasil kedua dinyatakan positif,” ujar dia.

Saat ini, dirinya tengah menjalani isolasi mandiri di kediamannya mengingat tidak ada kondisi darurat dirinya untuk pergi ke RS.

Dikritik

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengkritik penggunaan rapid test yang dilakukan untuk memenuhi protokol kesehatan karena dinilai sangat tidak akurat.

“Rapid test tidak ada gunanya, seharusnya Istana tidak menggunakan itu karena rapid test tidak mendeteksi orang dengan virus. Saat hasil non reaktif belum tentu ia tidak membawa virus,” ujar dia kepada BenarNews.

Ia menjelaskan, rapid test hanya mendeteksi antibodi yang terkadang muncul terlambat saat virus COVID-19 sudah ada di dalam tubuh.

Ia menyerukan agar setiap pejabat negara yang berkepentingan juga tidak berbohong soal kondisi kesehatannya. “Pak Purnomo di-swab karena apa? Bisa jadi dia sebagai penelusuran contact tracing dari kasus sebelumnya, atau saat dia ke Jakarta dia sudah positif,” ujar dia.

Pandu memperkirakan hasil Presiden sudah bisa keluar pada malam ini.

Hal senada disampaikan oleh pakar epidemiologi lainnya, Tri Yunis Miko Wahyono, yang mengatakan rapid test bukan diagnostik suatu penyakit tapi hanya screening awal saja.

“Sekelas pengamanan Presiden seharusnya tahu. Namun kalau PCR atau swab bisa tiga hari jadinya, jika kepentingan mendadak tidak keburu,” ujar dia.

Ia menyarankan seharusnya semua petugas yang berhubungan dengan Presiden tidak pulang ke rumah demi menjaga kondisi kesehatan semua pihak.

“Kalau pulang ke rumah masing-masing ya pasti ada kemungkinan positif di Istana. Harusnya semua yang dekat dengan Presiden tinggal di sana. Protokol kesehatan di Istana saya rasa sudah cukup baik,” kata dia.

Tampilan selengkapnya