Follow us

Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Aceh, 5 Provinsi Tetapkan Siaga

Kesengajaan membakar untuk membuka lahan disinyalir menjadi penyebab utama bencana tahunan tersebut.
Nurdin Hasan
Banda Aceh
2017-07-27
Email
Komentar
Share
Tim pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di lahan gambut di Meulaboh Aceh, 26 Juli 2017.
Tim pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di lahan gambut di Meulaboh Aceh, 26 Juli 2017.
AFP

Tim gabungan dikerahkan untuk berusaha memadamkan api yang membakar hutan dan lahan gambut di Kabupaten Aceh Barat. Sementara itu, lima provinsi di Indonesia telah menetapkan siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati Aceh Barat, Teuku Alaidinsyah, ketika dihubungi BeritaBenar, Kamis, 27 Juli 2017, mengatakan upaya pemadaman karhutla yang mulai mengganggu aktivitas warga sejak sepekan terakhir karena kabut asap, dilakukan melalui darat dan udara.

“Tim gabungan bahu-membahu terus berusaha memadamkan api,” jelasnya, “syukur Alhamdulillah, hari ini hujan mengguyur Aceh Barat meski intensitasnya sedang dan ringan.”

Tim gabungan itu, menurutnya, terdiri dari personel TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana baik nasional maupun daerah (BNPB dan BPBD), petugas Badan SAR Nasional (Basarnas), dan pihak-pihak terkait lain.

 

Ditanya penyebab kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di Aceh Barat itu, Alaidinsyah menyatakan masyarakat membuka lahan untuk perkebunan dengan cara membakar sehingga api menjalar cepat karena musim kemarau panjang.

Pembukaan lahan sebagai penyebab umum karhutla di Indonesia juga dinyatakan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran pers yang diterima BeritaBenar.

“Upaya preventif sudah banyak dilakukan. Namun luasnya wilayah yang harus dijaga dan terbatasnya sarana prasarana menyebabkan karhutla masih terjadi di beberapa daerah. Sebagian besar penyebab karhutla adalah kesengajaan untuk membuka lahan," katanya.

Sutopo menyebutkan, lima provinsi – Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan telah menetapkan status darurat untuk mengantisipasi karhutla dan memudahkan penanggulangan bencana asap.

Ia menyebutkan, titik api di Indonesia terus meningkat karena cuaca yang makin kering sehingga hutan dan lahan mudah terbakar.

Menurutnya, pada 23 Juli 2017, terpantau 150 hotspot (titik api, yang menjadi penanda sebuah wilayah sedang mengalami kebakaran), tapi sehari kemudian menjadi 170 titik dan terus meningkat menjadi 179 hotspot pada 25 Juli.

Untuk memantau kebakaran hutan dan lahan di Indonesia atau di tempat lain, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menyediakan layanannya, melalui link ini NASA Worldview.

23 orang sempat dirawat

Menurut Alaidinsyah karhutla telah membuat sejumlah sekolah terpaksa harus menghentikan proses belajar-mengajar karena kabut asap cukup pekat menyelimuti enam kecamatan yang terjadi kebakaran. Selain itu, jarak pandang bagi pengendara juga terbatas.

Akibat karhutla di enam kecamatan itu, 23 warga sempat dirawat di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, Meulaboh, ibukota Aceh Barat, sejak 17 Juli lalu, karena menderita sesak nafas.

“Sebanyak 17 orang di antaranya merupakan anak-anak,” kata dr. Eman Tuahta Surbakti, Kepala Bidang Pelayanan Medis di rumah sakit tersebut, saat dihubungi.

“Tak ada warga harus dirawat inap karena setelah diobati di unit gawat darurat, mereka diperbolehkan pulang.”

Ia menyatakan pihaknya sudah mengimbau warga untuk tidak ke luar rumah bila tak ada sesuatu yang mendesak karena kabut asap yang dapat mengganggu pernafasan. Kalau memang harus bepergian, warga disarankan memakai masker.

Dekat permukiman

Kepala BPBD Aceh Barat, T. Syahluna Polem, menyatakan bahwa pemadaman lewat darat dilakukan di daerah-daerah dekat permukiman penduduk untuk mengantisipasi agar api tidak menjalar ke rumah warga.

“Titik api memang sudah mendekati 100 meter dari permukiman penduduk, tapi sejauh ini tak ada warga yang harus dievakuasi karena tim gabungan terus memadamkan api,” katanya kepada BeritaBenar.

Menurutnya, sejak Rabu, 26 Juli 2017, helikopter MI-172 milik BNPB melakukan operasi pemadaman melalui udara dengan 26 kali penyiraman yang mencapai 94.000 liter air di Kecamatan Meureubo, daerah karhutla terparah.

“Hari ini, sudah tiba satu lagi helikopter untuk membantu memadamkan api di titik-titik api yang tidak bisa dijangkau tim pemadaman darat,” jelasnya.

Dia menambahkan meski sudah berulang-ulang dilakukan pemboman air, lahan gambut tetap mengeluarkan asap. Namun, upaya pemadaman terus dilakukan berbagai pihak.

“Luas hutan dan lahan milik masyarakat yang terbakar sekitar 70 hektar. Tidak ada lahan perusahaan. Umumnya lahan gambut sehingga sulit dipadamkan,” kata Syahluna, seraya menambahkan kebakaran mulai terdeteksi sejak awal Juli lalu.

Hotspots lebih sedikit

Sutopo mengatakan walaupun lebih dari 100 hospot sudah terdeteksi sejauh ini, jumlahnya tidak sebesar dua tahun lalu.

“(Tetapi) jumlah hotspot ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015,” katanya.

Seperti diketahui bahwa pada 2015, luas lahan terbakar di Sumatera dan Kalimantan mencapai 1,7 juta hektar yang menimbulkan bencana kabut asap selama beberapa bulan hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Bahkan, beberapa provinsi di Indonesia terpaksa harus meliburkan sekolah dan banyak penerbangan dibatalkan.

Bank Dunia menyebutkan akibat karlahut 2015, Indonesia mengalami kerugian US$15,72 miliar atau Rp221 triliun. Angka itu dua kali lipat dari dana untuk membiayai rekonstruksi Aceh paska tsunami tahun 2004.

Untuk mendukung operasi karhutla, tambahnya, BNPB mengerahkan 18 unit helikopter pemboman air (water bombing). Selain itu, hujan buatan juga digelar di Riau dan Sumatera Selatan.

“Total 68,4 ton bahan semai natrium chloride disebarkan ke dalam awan-awan potensial dengan menggunakan pesawat Casa-212 untuk memicu hujan,” paparnya.

Tampilan selengkapnya