Upacara Kasada Digelar di Tengah Erupsi Bromo

Anton Muhajir
Probolinggo
2016-07-22
Share
160722_ID_Kasada_1000.jpg Warga melemparkan uang sebagai bentuk persembahan dalam upacara Kasada di kawah Gunung Bromo, Jawa Timur, 21 Juli 2016.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Aroma dupa menyeruak di puncak kawah Gunung Bromo, Jawa Timur, Kamis pukul 4:30 WIB, 21 Juli 2016. Dari puncak gunung setinggi 2.300-an meter di atas permukaan laut, matahari belum terlihat.

Namun, situasi di sekeliling kawah Bromo sudah riuh menjelang pagi itu. Ribuan warga memecah kegelapan, mendaki dari Pura Luhur Poten menuju kawah yang berjarak sekitar 500 meter.

Melewati tanjakan, mereka membawa sesajian atau ongkek berupa hasil bumi, bahkan hewan ternak dan uang untuk dipersembahkan di kawah. Butuh waktu 30 menit untuk mendaki hingga tiba di samping kawah.

Setelah berdoa dalam gumam, mereka melempar bawang, kentang, pisang, ayam, uang, bahkan kambing ke dalam kawah Gunung Bromo. Dari dalam kawah selebar 800 meter, asap membumbung tinggi. Harum dupa bercampur aroma belerang dari gunung, yang sedang erupsi sejak beberapa pekan terakhir.

Itulah puncak upacara Yadnya Kasada. Selama dua hari pada bulan Kasada dalam penanggalan Jawa, warga Tengger membawa persembahan sesaji untuk Sang Hyang Widhi dan leluhur mereka.

Kasada merupakan ritual tahunan suku Tengger, salah satu sub suku Jawa. Suku ini tersebar di empat daerah yaitu Malang, Pasuran, Lumajang, dan Probolinggo. Mereka tinggal di sekitar kawasan pegunungan Bromo dan Semeru. Selama dua hari, mereka berduyun-duyun ke Bromo untuk memberikan persembahan.

Marjaya, warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Probolinggo, termasuk salah satunya. Mengendarai sepeda motor dua jam dari desanya, dia membawa hasil bumi bawang dan kentang untuk dipersembahkan ke kawah Bromo.

“Ini sebagai rasa terima kasih atas hasil panen tahun ini,” kata Marjaya kepada BeritaBenar usai melakukan persembahan.

Para pemimpin umat Hindu Tengger menyampaikan doa dalam ritual Kasada, 21 Juli 2016. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Penghormatan

Upacara Kasada terdiri dari dua tahap yaitu persembahyangan di Pura Luhur Poten yang berada di wilayah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, pada pukul 12 tengah malam dan persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo

Di pura yang dianggap paling luhur di kawasan Bromo, pemuka agama Hindu dari berbagai desa di kawasan Tengger berdoa. Warga Tengger yang datang dengan sesembahan meminta doa kepada mereka.

Misanya, pasangan suami istri Marsuno dan Ngatuma selain menghaturkan syukur ke Sang Hyang Widhi, mereka juga meminta didoakan supaya mereka bisa segera membelikan sepeda motor untuk anak-anaknya.

Setelah berdoa di Pura Luhur Poten, pasangan yang sudah berusia lebih dari 50 tahun itu, membawa persembahan ke kawah, tidak peduli pada hujan saat itu.

Menurut Sutomo, seorang pemimpin agama di Tengger, ritual Kasada digelar untuk menghormati leluhur, Roro Anteng dan Jaka Seger, pasangan suami istri dari mana nama suku ini berasal.

Dalam Bahasa Jawa halus ia membacakan sejarah Kasada.

Kasada bermula saat Roro Anteng dan Jaka Seger tidak juga mengorbankan anak bungsunya, Kusuma, kepada Dewa. Padahal, mereka sudah menjanjikan hal itu jika mereka memiliki anak.

Janji itu tak mereka tepati setelah punya 25 anak. “Penjaga” Gunung Bromo marah dengan menyemburkan api dan bebatuan. Si bungsu pun diambil Sang Dewa. Dia masuk kawah.

“Lalu munculah suara gaib yang mengajak suku Tengger untuk memberikan sesaji tiap hari ke-15 bulan Kasada agar tidak terkena bencana,” tutur Sutomo.

Sejak itulah, suku Tengger melakukan ritual Kasada dengan membawa hasil buminya.

Kendati digelar berdasarkan kepercayaan Hindu, ada juga warga yang ikut dari agama lain, termasuk Muslim, seperti Karmawan. Ia ikutmelemparkan sesaji ke kawah Bromo.

“Saya tetap melakukan Kasada untuk terima kasih sekaligus menghormati leluhur kami,” katanya.

Bersama ribuan warga Tengger, Karmawan melaksanakan ritual Kasada di antara hujan air dan abu yang sesekali disertai semburan asap pekat dari dalam kawah.

Seorang warga berdoa di sebuah penunggun karang, tempat suci umat Hindu, di dekat kawah Gunung Bromo, 21 Juli 2016. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Erupsi

Suasana ritual Kasada kali ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain hujan, pelaksanaan Kasada juga diwarnai erupsi Gunung Bromo yang hingga kini masih dalam status waspada.

Selama dua hari terakhir, gunung itu masih mengeluarkan asap pekat maupun putih setinggi 900 meter dari puncak gunung.

Berdasarkan pemantauan di Pos Pantau Bromo Cemorolawang, Gunung Bromo masih memberikan aktivitas seismik berupa tremor dengan amplitudo maksimal 0,5 mm-7 mm.

Menjelang pelaksanaan Yadnya Kasada, Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan imbauan tentang status Gunung Bromo.

Warga dan turis yang melaksanakan ritual Kasada dilarang memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah Gunung Bromo. Papan-papan informasi mengenai imbauan untuk menjaga jarak terpasang mengelilingi gunung itu.

Nyatanya saat pelaksanaan Kasada, Karmawan, Marjaya, dan ribuan warga berbaur bersama para wisatawan, bebas masuk hingga bibir kawah.

“Kami sudah mengimbau, tapi kami tidak bisa melarang warga melakukan ritual,” kata Agus Dwi Andono, Kepala Resor Pengelolaan TNBTS Wilayah Tengger Laut Pasir.

Tidak ada kejadian seperti dikhawatirkan. Ritual Kasada berlangsung di tengah erupsi, dengan harapan “penguasa Bromo tidak marah lagi”.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya