Follow us

Berpacu dengan Waktu Menangani Asap Jelang Asian Games

Sistem tebang dan bakar masih sering dilakukan petani dan perusahaan karena menjadi cara termurah.
Ahmad Syamsudin
Jakarta
2018-07-31
Email
Komentar
Share
Petugas memadamkan kebakaran lahan gambut di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, 27 Juli 2018.
Petugas memadamkan kebakaran lahan gambut di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, 27 Juli 2018.
AFP

Petugas di Sumatra bekerja keras berpacu dengan waktu dalam memadamkan kebakaran hutan untuk memastikan pelaksanaan Asian Games tidak terganggu kabut asap.

Kebakaran hutan dan lahan gambut telah terjadi di beberapa wilayah di Sumatra dalam beberapa hari lalu, kata para pejabat, termasuk di sebuah kabupaten di dekat Palembang, di mana beberapa cabang olahraga Asian Games akan dipertandingkan.

Di Provinsi Jambi, kebakaran telah terjadi di kawasan hutan seluas 160 hektar, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi, Bachyuni Deliansyah.

"Kita bekerja siang malam memadamkan api. Kebanyakan api sudah dipadamkan, tapi ancaman kebakaran baru tetap ada karena ada saja yang melanggar peringatan untuk tidak membakar lahan,” kata Bachyuni.

Ia menambahkan petugas pemadaman terdiri dari tentara, polisi, staff pemadam kebakaran dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang tergabung dalam Manggala Agni.

Sistem tebang dan bakar yang diklaim menjadi pemicu kebakaran hutan adalah ilegal namun menjadi cara yang termurah bagi petani kecil dan perusahaan untuk membersihkan lahan untuk penanaman.

Bersama Jakarta, Palembang, ibukota Provinsi Sumatra Selatan, akan menjadi tuan rumah Asian Games yang akan berlangsung pada 18 Agustus – 2 September. Sekitar 11.000 atlet dan ribuan pengunjung dari manca negara diprediksikan akan hadir.

Kebakaran hutan terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir sekitar 70 km dari Palembang, menyebabkan kekhawatiran bahwa kabut asap bisa mencapai kota dan mengganggu perhelatan internasional tersebut.

“Kebakaran ditangani secara efektif,” kata Raffles Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK.

“Kita yakin kalo semua stakeholder bersinergi asap tidak akan mengganggu Asian Games.”

Selain petugas pemadam di darat, lima helikopter telah dikerahkan untuk menjatuhkan bom air di wilayah Sumatra Selatan, Heri Sutrisno, kepala TNI Angkatan Udara (AU) setempat mengatakan kepada Detik.com.

Panglima AU Marsekal Udara Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat dengan teknologi modifikasi cuaca dikirim ke Sumatra pada hari Senin untuk menciptakan hujan melalui penyemaian awan.

“Karena kita lihat sesuai laporan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika) adanya siklon di atas Filipina yang akan kita manfaatkan ekornya siklon itu sampai ke Indonesia. Kita tangkap dan semai supaya terjadi hujan di wilayah Sumsel,” ujar Hadi.

Menurun sejak 2015

Kebakaran hutan adalah bahaya tahunan di Indonesia dan kabut asap yang dihasilkan terkadang sampai ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand, menyebabkan polusi udara di wilayah tersebut.

Tetapi kebakaran hutan telah banyak berkurang sejak tahun 2015, ketika 2,5 juta hektar hutan dan lahan gambut terbakar karena musim kemarau diperburuk oleh fenomena El Nino.

Sekitar 450.000 hektar lahan gambut dan hutan di Indonesia terbakar pada 2016 dan hanya 150.000 hektar tahun lalu, kata Herry Purnomo, seorang ilmuwan di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

"Usaha pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan sudah cukup berhasil,” kata Herry kepada BeritaBenar, “tidak mungkin menghilangkan kebakaran sama sekali."

"Tahun ini isu ini emang kritis karena kita menjadi tuan rumah Asian Games. Pemerintah di semua level bekerja keras untuk memadamkan apil” tambahnya.

Kebakaran gambut, khususnya, sangat sulit dipadamkan karena dapat terbakar hingga kedalaman beberapa meter, kata Bachyuni.

“Sekitar 22 persen dari kebakaran tahun ini di Jambi terjadi di lahan gambut,” katanya, "kami harus segera memadamkannya sebelum kebakaran menjadi lebih besar dan diluar kendali."

Kelompok lingkungan mengecam rencana pemerintah untuk memberikan lahan baru bagi perusahaan kayu dan kertas jika konsesi mereka yang ada mencakup setidaknya 40 persen pemuihan lahan gambut.

Sebuah analisis yang dirilis minggu lalu oleh koalisi kelompok lingkungan hidup, menyebutkan bahwa sekitar seperempat dari 921.000 hektar akan diberikan kepada perusahaan sebagai imbalan untuk memulihkan lahan gambut di hutan alami.

“Ini bertolak belakang dengan janji pemerintah untuk moratorium ijin pengelolaan hutan alami,” kata Syahrul Fitra, seorang aktivis dari Yayasan Auriga, anggota dari koalisi tersebut.

Purnomo mengatakan, daerah-daerah yang ditetapkan untuk pertukaran lahan harus mengalami degradasi lahan hutan.

“Ada banyak lahan rusak tidak produktif. Setengah hutan produksi itu rusak,” ujarnya, merujuk pada lahan yang telah kehilangan sebagian dari produktivitas alaminya karena kegiatan manusia.

Tampilan satelit

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, telah menciptakan media yang mempu memperlihatkan hotspot (titik panas, yang menjadi penanda sebuah wilayah sedang mengalami kebakaran) dengan memberikan data suhu pada saat yang hampir menyamai waktu sebenarnya.

Untuk melihat hotspot hari ini bisa dengan membuka tautan NASA Worldview.

Titik merah mewakili hotspot atau aktivitas gunung berapi.

Untuk mendapatkan keadaan hotspot pada hari tertentu geser alat petunjuk abu-abu di bagian bawah layar ke kanan.

Ilmuwan mengatakan, tidak semua kebakaran bisa teridentifikasi, karena terselubung awan atau intensitasnya relatif rendah.

"Kebakaran gambut bisa sudah membara di bawah permukaan selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sejak awal terbakar, namun karena suhu terlalu rendah sering tidak terdeteksi secara akurat dari ruang angkasa," demikian sebuah kajian di Universitas Columbia dan Harvard, Amerika Serikat.

Citra satelit NASA yang meperlihatkan kebakaran dan titik panas di Indonesia dan di negara-negara tetangganya (Foto dok: NASA Worldview)
Citra satelit NASA yang meperlihatkan kebakaran dan titik panas di Indonesia dan di negara-negara tetangganya (Foto dok: NASA Worldview)

Tampilan selengkapnya