Follow us

Kebakaran Hutan di Riau Meluas, Empat Pelaku Ditangkap

Seratus personel komando cadangan strategis TNI Angkatan Darat diterjunkan ke lokasi kebakaran hutan di Bengkalis.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-02-25
Email
Komentar
Share
Foto udara yang diambil pada 22 Februari 2018 ini memperlihatkan kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Riau.
Foto udara yang diambil pada 22 Februari 2018 ini memperlihatkan kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Riau.
AFP

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan seluas 996,41 hektar di Riau terus dilakukan, sementara aparat keamanan telah menangkap empat orang yang diduga sebagai pelaku pembakaran dalam dua bulan terakhir.

Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau, Brigjen TNI Mohammad Fadjar, mengatakan dua tersangka dititipkan di rumah tahanan Polri di Meranti dan Dumai.

Sedangkan satu tersangka sudah diserahkan ke kejaksaan dan satu lagi baru tertangkap oleh jajaran Polres Bengkalis.

"Dari beberapa kasus kebakaran yang terjadi sudah diamankan empat orang tersangka yang merupakan pelaku pembakaran lahan," kata Fadjar saat dihubungi BeritaBenar, Senin, 25 Februari 2019.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau kian parah dalam sepekan terakhir.

Daerah terparah ada di Kabupaten Bengkalis, yang mencapai 742,5 hektar. Kualitas udara memburuk dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, kebakaran hutan juga terjadi di wilayah Rokan Hilir yang mencapai 118 hektar, Dumai 53 hektar, Kepulauan Meranti 20,4 hektar, Pekanbaru 17,51 hektar, Siak 30 hektar serta Kampar sebanyak 15 hektar.

Menurut Fajar, selain membantu proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan, Satgas terus bekerja untuk memburu para pelaku pembakaran hutan.

Ia menambahkan, keempat orang yang telah ditangkap adalah petani.

“Kami membantu sebagai tindakan preventif supaya tidak terjadi kebakaran dan menghindari orang untuk ditangkap dan menjadi tersangka," ujarnya.

Di Riau terdapat sejumlah perusahaan perkebunan kepala sawit yang memiliki lahan cukup luas.

Fajar mengatakan, hingga kini belum ada penanggung jawab koorporasi yang terindikasi melakukan atau menyuruh melakukan pembakaran lahan dan hutan.

“Belum ada sejauh ini. Tentu itu menjadi tugas Kepolisian untuk menyelidiki lebih jauh. Kami ikut membantu semua pihak dalam menangani kebakaran hutan ini,” katanya.

Tahun 2018 lalu, tercatat tercatat 5.776,46 hektar hutan dan lahan terbakar di hampir seluruh Kabupaten di Provinsi Riau.

Sepanjang tahun lalu itu tim Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan terdiri dari TNI/Porlri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur pemerintah setempat telah menangkap 38 orang pelaku pembakaran hutan.

“Kami terus bekerja untuk mencegah untuk mengantisipasi serta melakukan upaya-upaya pemadaman,” kata Fajar.

Sekolah diliburkan

Sementara itu, kabut asap yang diakibatkan kebakaran hutan di Pulau Rupat, Bengkalis, mengakibatkan aktivitas belajar mengajar di sekolah terhenti.

Pihak sekolah terpaksa meliburkan para siswanya karena khawatir asap menganggu kesehatan mereka.

Sekolah yang terpaksa ditutup sementara itu adalah Sekolah Dasar Desa Terkutul, yang berada sangat dekat dengan titik kebakaran lahan.

Asap pekat menyelimuti kawasan itu sejak sepekan terakhir, sehingga menganggu aktivitas warga sekitar.

Camat Rupat, Hanafi menyatakan kabut asap menyelimuti perkampungan dan memaksa sekolah tidak melanjutkan kegiatan belajar mengajar meskipun siswa sudah mulai berdatangan.

"Sejauh ini yang terpantau liburkan sekolah baru itu karena memang sekolah itu paling dekat dengan titik api dan berbahaya untuk anak-anak kita," katanya seperti dikutip kantor berita Antara.

Dia menjelaskan kebijakan sekolah meliburkan aktivitas belajar baru dilakukan Senin meski kebakaran hutan dan lahan telah berlangsung dua pekan.

Kebijakan meliburkan siswa diambil karena hari ini kabut asap semakin parah. "Jarak pandang hari ini hanya 100 sampai 200 meter," ujarnya.

Selain itu, kesehatan masyarakat Pulau Rupat juga terpantau terganggu.

Puskesmas dilaporkan telah menerima ratusan pasien yang terserang sejumlah penyakit dan infeksi saluran pernapasan.

"Ada beberapa pasien yang mulai batuk-batuk, flu akibat dampak asap. Ada juga anak dan balita yang juga harus dirawat karena pernapasannya terganggu," katanya.

Meski terus terpapar udara tidak sehat hingga berbahaya, belum ada laporan warganya yang mengungsi.

Pemerintah setempat juga mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

Hujan buatan

Untuk membantu proses pemadaman api, 100 personel komando cadangan strategis TNI Angkatan Darat diterjunkan ke lokasi kebakaran hutan di Bengkalis.

Panglima TNI Marskal Hadi Tjahjanto juga telah turun langsung untuk melihat dan membantu upaya pemadaman api.

Ia mengatakan, pihaknya akan berupaya maksimal untuk membantu memadamkan titik api di Riau, termasuk dilakukan lewat udara oleh TNI.

“Kita akan upayakan hujan buatan, kita akan lakukan water bombing. Kita akan evaluasi apakah bisa menggunakan Hercules untuk melakukan pemadaman,” katanya kepada wartawan.

Atas perintah panglima TNI tersebut, TNI Angkatan Udara mengirimkan pesawat Casa 212 untuk melakukan hujan buatan, yang bertugas memadamkan titik kebakaran hutan di Rupat, Bengkalis.

Komandan pangkalan udara Roesmin Nurjadin, Riau, Marskal Pertama Ronny Irianto Moningka, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk melakukan pemadaman lewat udara.

“Hasil pengamatan lewat udara memang daerah pulau Rupat masih ada titik-titik api yang harus segera dipadamkan. Dan memang daerah itu cukup kering sejak Januari kemarin,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya