Follow us

Titik Api Baru di Sumatra, Sekolah Diliburkan, Penerbangan Dibatalkan

BNPB menduga kembalinya kebakaran hutan karena ada pihak yang memanfaatkan masa terakhir untuk membakar sebelum pergantian musim.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-10-16
Email
Komentar
Share
Anak-anak berangkat ke sekolah di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan yang kembali melanda Palembang, 14 Oktober 2019.
Anak-anak berangkat ke sekolah di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan yang kembali melanda Palembang, 14 Oktober 2019.
AFP

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan baru di Sumatra telah memaksa Pemerintah Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan menutup sekolah serta dua pesawat komersial batal mendarat di Bandara Sultan Thaha, Jambi, karena terganggu jarak pandang yang membahayakan keselamatan penumpang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menjelaskan, kebakaran hutan dan lahan di Jambi, Sumatra Selatan, dan Riau telah menyebabkan kualitas udara di beberapa wilayah sangat tidak sehat.

“Titik kebakarannya baru semua ini. Yang kemarin kan sudah sempat padam karena hujan. Sekarang kondisinya sangat terik di sana. Kemungkinan besar mereka sedang memanfaatkan masa terakhir untuk membakar sebelum pergantian musim,” kata Agus kepada BeritaBenar di Jakarta, Rabu, 16 Oktober 2019.

Tim penegak hukum dilaporkan tengah mengusut pihak dibalik kebakaran hutan tersebut.

Berdasarkan data satelit modis-catalog Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang terpantau selama 24 jam terakhir, kualitas udara di Sumatra Selatan yang diukur dengan PM 2,5 berada pada tingkat 195, atau masuk katagori sangat tidak sehat.

Sementara tingkat kualitas udara di Jambi berada di level 170 dan Riau 160. Sedangkan, titik panas atau hot spot di wilayah Sumatra Selatan berjumlah 96, Jambi 52 dan Riau 10.

Karena kualitas udara buruk, Pemerintah Provinsi Jambi mengeluarkan edaran untuk menghentikan proses belajar mengajar sekolah dasar sederajat dan sekolah menegah pertama.

Masyarakat juga dimbau untuk tidak banyak beraktivitas di luar rumah, karena kualitas udara sangat berbahaya bagi kesehatan.

“Untuk sementara diliburkan sebagian beberapa hari ke depan, dengan melihat keadaan yang ada. Masyarakat juga diimbau memakai masker saat beraktivitas di luar rumah,” Juru bicara Kota Jambi, Abu Bakar, seperti dikutip dari laman Antaranews.

Pemerintah Kota Palembang di Sumatra Selatan juga mengeluarkan kebijakan serupa dalam dua hari terakhir.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Palembang, Herman Wijaya mengatakan, ada sekitar 500 sekolah yang terkena kebijakan itu, untuk menghindari risiko terganggunya kesehatan anak sekolah.

"Kalau ke depan masih dan semakin parah, libur sekolah akan diperpanjang," ujarnya.

Agus mengaku pihaknya belum memiliki data jumlah sekolah yang terpaksa harus tutup akibat kabut asap tersebut.

“Masih kita data berapa keseluruhan sekolah yang ditutup karena dampak kabut asap. Laporan mengenai dampak terhadap kesehatan warga juga akan kita pantau terus,” katanya.

Penerbangan ditunda

Sementara itu, pesawat Garuda Indonesia dan Lion Air dari Jakarta batal mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu, karena terganggu jarak pandang dan kembali ke bandara pemberangkatan.

Eksekutif General Manajer Angkasa Pura II M Hendra Irawan menyebut, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha pada Rabu pagi hanya 400 meter, sementara fisibility terendah pesawat dapat mendarat minimal jarak pandangnya 800 meter.

"Siang ini, jarak pandang sudah semakin meningkat, dan sudah ada pesawat yang mendarat,” jelasnya.

Tidak hanya pesawat yang batal mendarat, beberapa penerbangan turut dibatalkan dari Jambi seperti Lion Air JT 809 tujuan Jakarta yang seharusnya berangkat pukul 09.50 WIB dan Lion Air JT808 tujuan Jakarta-Jambi.

Selain itu, pesawat Wings Air IW 1150 Jambi-Bungo-Kerinci dan Wings Air IW 1281 Pekanbaru-Jambi juga ditunda keberangkatannya.

Hasan Mabruri, seorang penumpang Garuda Indonesia tujuan Jambi mengaku pesawat sempat berputar beberapa kali di atas Bandara Sultan Thaha Jambi, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Upaya pemadaman

Agus menyatakan bahwa BNPB dibantu relawan dan masyarakat terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Khusus di Sumatra, jelasnya, tujuh helikopter beroperasi guna melakukan pengeboman air dengan 390 kali pengeboman dan total air berjumlah 1,5 juta liter.

“Proses pemadaman jalan terus, bahkan kekuatannya di Sumatra Selatan dan Jambi itu ditambah pesawat. Di Sumatra Selatan, saat ini paling parah kebakaran hutannya,” ujarnya.

Agus mengimbau warga untuk tidak membakar hutan dan lahan untuk membuka ladang baru.

Aparat keamanan juga terus melakukan penindakan hukum bagi warga dan perusahaan yang melakukan pembakaran lahan.

“Ini mereka kucing-kucingan dengan aparat. Di Sumatra begitu, di Kalimantan juga seperti itu. Kita berharap tidak ada lagi pembakaran,” ujarnya.

Hingga akhir September lalu, Polri telah menetapkan 15 perusahaan sebagai pelaku pembakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah, sementara jumlah tersangka individu mencapai 334 orang.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati mengatakan bahwa berdasarkan data analisis yang dikumpulkan Walhi Jambi, luas lahan yang terbakar di daerah itu mencapai 100.000 hektar lebih.

“Ini lebih parah dibandingkan yang terjadi September lalu,” katanya saat dihubungi.

Kebakaran antara lain terjadi di lahan gambut Kabupaten Muaro, Jambi, wilayah konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) dan perkebunan sawit.

“Malah Taman Nasional Berbak dan Tahura Sekitar Tanjung juga ikut terbakar,” ujarnya. Nur mendesak pemerintah dan kepolisian menindak tegas pelaku pembakaran hutan dan lahan.

“Kasusnya masih sama dari tahun ke tahun. Jadi, pemerintah harus tegas mencabut izin perusahaan yang membakar hutan dan membuka data siapa saja mereka. Kalau tidak ini akan terus terjadi setiap tahun,” pungkasnya.

Tampilan selengkapnya