Keluarga Minta Tebusan Dibayar pada Abu Sayyaf

K. Ayuningtyas & I. Tisnadibrata
2016.04.05
Klaten & Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
160405_ID_ABK_1000 Bupati Klaten, Sri Hartini (kiri) menyerahkan bantuan kepada keluarga Rahayu ketika bertandang ke rumahnya di Desa Mendak, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, 5 April 2016.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Orang tua salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina mengharapkan Presiden Joko “Jokowi” Widodo secepatnya membebaskan anak sulung mereka dan rekan-rekannya, dalam keadaan selamat.

"Kepada Bapak Joko Widodo di Istana Negara, kami memohon semaksimal mungkin mengusahakan kesepuluh ABK segera dibebaskan dengan selamat," ungkap Sutomo, saat membaca teks yang tampaknya sudah disiapkan di rumahnya di Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 5 April 2016.

Sutomo ialah ayah kandung Bayu Oktavianto (23), seorang dari 10 anak buah kapal (ABK) tug boat Brahma 12 yang disandera Abu Sayyaf sejak hampir dua pekan lalu.  Kapal itu dibajak saat dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Filipina.

Sebelumnya, Abu Sayyaf dilaporkan telah mengultimatum bakal membunuh sandera jika sampai 8 April, uang tebusan senilai 50 juta peso atau sekitar Rp15 milyar yang mereka tuntut, tidak dibayar.

Batas waktu pembayaran tebusan yang makin dekat dan belum ada kontak lagi dari perusahaan tempat Bayu bekerja maupun pemerintah membuat Sutomo was-was.

Kekhawatirannya makin bertambah bila mengetahui berbagai pemberitaan tentang rencana operasi militer untuk membebaskan sandera. Dia khawatir kalau operasi itu gagal menyelamatkan anaknya.

"Kami mohon dengan sangat kepada pemerintah agar semua ABK bisa dibebaskan dengan selamat. Berikan saja apa yang mereka minta sebagai tebusan," ujar Sutomo.

Sedangkan istrinya, Rahayu mengaku sudah sepekan memilih berdiam di rumah saja karena perasaannya tidak tenang dan selalu teringat Bayu – yang merupakan tulang punggung keluarga tersebut.

Rahayu mengatakan dia dan suaminya, terakhir berkomunikasi dengan perusahaan tempat Bayu bekerja empat hari lalu. Dalam pembicaraan telepon, tuturnya, pihak perusahaan menyebutkan kondisi Bayu dan sembilan sandera lain baik-baik saja.

“Pihak perusahaan juga bilang mereka akan mengusahakan semaksimal mungkin,” kata perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik tekstil itu.

Sutomo dan Rahayu mengaku selama ini mereka belum pernah menghubungi sendiri perusahaan tempat Bayu bekerja di Banjarmasin maupun Kementerian Luar Negeri. (Kemlu). Selama ini pihak perusahaan dan Kemlu yang menghubungi mereka.

Perhatian pemerintah daerah

Bupati Klaten, Sri Hartini, pada hari Selasa menyempatkan diri menjenguk keluarga Sutomo untuk menyampaikan keprihatinannya. Dia juga memberikan bantuan sembako dan sejumlah uang, yang diterima Rahayu.

"Saya ikut berdoa semoga Bayu bisa segera kembali dengan selamat secepatnya," ucap Hartini.

Sejak mengetahui Bayu disandera, keluarga Sutomo rutin menggelar pengajian tiap malam untuk mendoakan putranya dan sembilan ABK lain agar segera dibebaskan kelompok Abu Sayyaf.

Kedatangan Bupati Klaten diakui Sutomo memberikan sedikit harapan. Dia merasa tenang karena Pemerintah Daerah ikut memperhatikan nasib keluarganya.

"Saya berterima kasih dengan perhatian diberikan Ibu Bupati. Semoga Pak Presiden mendengar pesan kami dan Bayu segera pulang dengan selamat untuk berkumpul lagi bersama kami," tutur Sutomo dengan mata berkaca-kaca.

Kapal tongkang ditemukan

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, menyatakan kapal tongkang berbendera Indonesia, Anand 12 yang disandera Abu Sayyaf telah ditemukan pada 4 April 2016 di perairan Lahat Datu, negara bagian Sabah, Malaysia.

“Kapal telah ditarik ke Pelabuhan Lahad Datu dan saat ini berada di tangan Agensi Penguat Kuasaan Maritim Malaysia untuk dilakukan uji forensik yang akan memakan waktu sekitar tujuh sampai 10 hari. Menurut informasi sementara, isi kapal dalam kondisi utuh,” ujarnya.

Kapal itu membawa 7.000 ton batubara yang diangkut dari Banjarmasin ke Batangas di selatan Filipina dan berlayar bersama kapal tarik Brahma 12 saat dibajak, 26 Maret 2016. Kapal Brahma 12 langsung dilepas tidak lama setelah pembajakan, namun 10 ABKnya disandera.

Retno mengatakan selain menjalin komunikasi dengan Pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan para ABK yang dikabarkan ditawan di Pulau Sulu, pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan Menlu Malaysia sejak 31 Maret.

Dia meminta kerjasama mengingat lokasi terjadinya perompakan dan penyanderaan berdekatan dengan perairan Malaysia. Apalagi, pada akhir pekan lalu, empat warga Malaysia dilaporkan juga disandera kelompok Abu Sayyaf.

“Komunikasi saya dengan Menteri Luar Negeri Malaysia terbukti sangat berguna dalam menindaklanjuti ditemukannya kapal tongkang Anand 12,” ujar Retno.

Dia menambahkan saat berkunjung ke Manila, ia diterima Presiden Filipina Benigno Aquino, rekannya Menlu Jose Rene D. Almendras dan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina pada 1 dan 2 April untuk membahas koordinasi tentang upaya pembebasan para sandera.

“Kami menekankan mengenai pentingnya keselamatan 10 warga negara Indonesia, dan menyampaikan apresiasi atas kerjasama yang telah diberikan otoritas Filipina dalam rangka koordinasi dan pelepasan sandera,” ujar Retno.

“Dalam pertemuan dengan Presiden Filipina, Menteri Luar Negeri dan Panglima Angkatan Bersenjata, tampak jelas komitmen kuat Pemerintah Filipina untuk melakukan yang terbaik dalam upaya pelepasan sandera WNI,” tambahnya.

Untuk menindaklanjuti kunjungannya ke Filipina, Retno mengatakan pejabat terkait telah melakukan rapat pada 4 April untuk koordinasi lintas sektoral yang dipimpin Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan.

“Setiap hari kami melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Filipina. Dalam setiap komunikasi, prinsip utama telah dipahami yaitu keselamatan sandera merupakan acuan utama dari berbagai opsi yang ada,” ujar Retno.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya