Follow us

BNPB: Kerugian Gempa dan Tsunami Sulteng Capai Rp13,82 Triliun

Hingga kini relawan Basarnas masih menemukan korban jiwa baik di reruntuhan bangunan maupun dalam lumpur likuefaksi.
Tria Dianti
Jakarta
2018-10-22
Email
Komentar
Share
Seorang perempuan berjalan di samping deretan rumah yang rusak berat akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, 12 Oktober 2018.
Seorang perempuan berjalan di samping deretan rumah yang rusak berat akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah, 12 Oktober 2018.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Selain menewaskan ribuan orang, gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 28 September 2018 juga mengakibatkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 13,82 triliun.

“Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana mencapai lebih Rp13,82 triliun,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam rilis, Minggu malam, 21 Oktober 2018.

“Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan kajian cepat untuk menghitung dampak bencana.”

Menurutnya, dampak kerugian dan kerusakan itu meliputi lima sektor pembangunan yaitu di permukiman mencapai Rp 7,95 triliun, infrastruktur Rp 701,8 miliar, ekonomi produktif Rp 1,66 triliun, sosial Rp 3,13 tiliun, dan lintas sektor mencapai Rp 378 miliar.

Berdasarkan sebaran wilayah, kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp 7,63 trilyun, Kabupaten Sigi Rp 4,29 trilyun, Donggala Rp 1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp 393 milyar.

“Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah sementara. Kerugian dan kerusakan sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana,” kata Sutopo.

Ia mengatakan saat gempa dan tsunami menerjang, hampir seluruh bangunan di sepanjang pantai Teluk Palu rata dengan tanah dan rusak berat.

Terjangan tsunami dengan ketinggian 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman.

Hingga kini, tambahnya, tercatat 2.256 orang tewas, 1.309 warga dinyatakan hilang, 4.612 orang terluka dan 223.751 masyarakat mengungsi di 122 titik.

Jumlah korban hilang termasuk mereka yang tinggal di desa terdampak oleh liquefaksi yaitu Balarao, Petobo dan Jono Oge, kata Sutopo.

“Itu semua berdasarkan pengakuan keluarga yang menyatakan anggota keluarganya hilang, baik di daerah liquefaksi maupun bukan,” jelasnya.

Evakuasi

Juru bicara tim SAR Nasional Indonesia (Basarnas), Yusuf Latif, mengatakan bahwa sejak operasi pencarian dan evakuasi korban dihentikan pada 11 Oktober lalu, tim SAR Palu masih terus membantu warga.

“Tim SAR masih berada di Palu, meski tidak banyak dan tidak full kekuatan,” katanya kepada BeritaBenar.

Dijelaskan bahwa sekitar 70 tim SAR Palu yang dibantu relawan dari mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) masih bersiaga di kantor SAR Palu.

“Masih banyak yang melapor kehilangan keluarganya dan kami memantau laporan masyarakat yang meminta bantuan SAR terkait penemuan jenazah,” imbuhnya.

Hingga kini, lanjutnya, masih ada korban jiwa ditemukan, terutama di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge yang terkena dampak likuefaksi.

“Hampir setiap hari kami menemukan korban jiwa baik di reruntuhan bangunan maupun dalam lumpur likuefaksi, terakhir kami temukan enam mayat di Petobo,” paparnya yang menyebutkan 251 alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan.

Selain itu, tim gabungan Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan penyemprotan disinfektan di wilayah terdampak parah gempa, tsunami dan likuefaksi sebagai upaya antisipasi penyebaran penyakit.

Seorang pengendara sepeda motor berusaha menghindar dari jalan yang hancur akibat gempa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 7 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)
Seorang pengendara sepeda motor berusaha menghindar dari jalan yang hancur akibat gempa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 7 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

Bantuan

Sementara itu, sebagian korban selamat akibat gempa dan tsunami mulai menempati hunian sementara (huntara) di saat bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak.

Sekitar 100 huntara telah dibangun BPBD Jawa Tengah di Petobo. Rumah-rumah itu dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam jangka waktu delapan hari.

Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, mengucapkan terima kasih atas semua dukungan, bantuan dan partisipasi pemerintah daerah serta masyarakat internasional.

“Saat ini kami sementara dalam proses pembangunan huntara sejak tanggap darurat kedua dimulai,” kata dia seperti dikutip dari Kompas TV.

Sebelumnya, Sutopo mengatakan sekitar 5.000 huntara akan didirikan di Palu dan sekitarnya. Pembangunannya masih terus dikerjakan.

Sedangkan total bantuan internasional yang telah diterima Pemerintah Indonesia sebanyak 980 ton dengan kategori pangan dan nonpangan.

Tercatat 20 negara membantu Indonesia selama penanganan darurat pascagempa.

Tampilan selengkapnya