Kerusuhan di Lapas Langkat, Polisi Tangkap 98 Napi yang Kabur

Amukan warga binaan di Lapas Langkat adalah yang kedua dalam sepekan terakhir.
Arie Firdaus
Jakarta
2019-05-16
Share
190516_ID_Prisonbreak_1000.jpg Polisi bersenjata menjaga sejumlah narapidana setelah terjadinya kerusuhan di Rutan Kelas II-B Siak Sri Indrapura, Riau, yang menyebabkan kaburnya ratusan tahanan di penjara itu, 11 Mei 2019.
AFP

Aparat kepolisian telah berhasil menangkap 98 narapidana yang kabur usai kerusuhan di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas III Hinai di Langkat, Sumatra Utara (Sumut), Kamis, 16 Mei 2019.

Mereka yang kembali tertangkap dititipkan di sejumlah kantor kepolisian dan rumah tahanan di wilayah Sumut.

"Untuk yang kabur, kami masih mendata sampai sekarang," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo kepada BeritaBenar.

"Karena jumlah yang kabur belum dipastikan. Petugas lapas ada menyebut lebih dari 100. Itu (jumlah) yang sedang kami coba pastikan."

Kerusuhan di Lapas Kelas III Hinai Langkat yang dihuni 1.634 orang dari seharusnya 915 narapidana, terjadi pada Kamis siang sekitar pukul 13.00 WIB.

Menurut Dedi, kerusuhan bermula dari penemuan narkotika jenis sabu di tangan salah seorang warga binaan bernama Fery Koto alias Ajo. Namun, saat hendak dibawa untuk diperiksa, Fery melarikan diri.

Ia berhasil ditangkap kembali, tapi beroleh tendangan dan pukulan dari petugas Lapas.

Tak terima rekannya mendapat kekerasan fisik oleh sipir, narapidana lain mendobrak pintu dan membawa kembali Fery ke dalam kerumunan.

Tak hanya itu, para tahanan juga membakar sejumlah ruangan di kompleks Lapas, tiga mobil, satu ambulans, dan 12 sepeda motor. Beberapa lainnya melarikan diri.

Pernyatan serupa juga disampaikan seorang  napi berinisial G di laman Tribun Medan, yang menyebut kekerasan sipir sebagai pemicu amukan para narapidana.

"Semua napi ngamuk karena mereka (petugas Lapas) sudah kelewatan. Main pukul dan tendang. Petugas lapas itu arogan," katanya.

Desak copot Kalapas

Meski sejumlah narapidana masih kabur, Dedi mengatakan situasi di Lapas Kelas III Hinai Langkat sudah dapat dikendalikan.

Kepolisian sebelumnya menerjunkan hampir 500 personel gabungan dari beragam satuan untuk mengamankan kerusuhan di lapas.

"Situasi tadi aman dan terkendali sekitar pukul 17.00 WIB setelah dilakukan negosiasi antara warga binaan dan Kepala Divisi Administrasi Kementerian Hukum dan HAM Sumatra Utara," kata Dedi.

Lewat negosiasi itu pula, lanjut Dedi, para tahanan menyuarakan tuntutan mereka agar kepala Lapas dicopot, serta petugas yang menganiaya diproses hukum.

Dia menambahkan, para tahahan mengaku bahwa kepala Lapas kerap memperjual-belikan makanan dan pulsa, mengenakan biaya untuk perpindahan ruangan, serta tak memperjelas remisi dan pengurusan pembebasan bersyarat.

Istri kepala Lapas pun disebut kerap merecoki urusan lapas dengan memiliki usaha di dalam lapas dan menginstruksikan pemeriksaan tahanan.

"Tuntutan itu sudah mereka sampaikan ke pihak terkait dalam negosiasi," ujar Dedi.

BeritaBenar menghubungi juru bicara Direktorat Jenderal Pemasyaratan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto terkait kasus ini tapi tak beroleh balasan.

Kepala Polda Sumut Irjen Pol. Agus Andrianto berharap para narapidana yang kabur dapat menyerahkan diri.

"Lari bukan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah baru. Jadi daripada menyesal, mari menyerahkan diri," kata Agus kepada wartawan.

Agus juga mengatakan telah menginstruksikan polisi bersenjata lengkap untuk menyisir kawasan perbatasan Langkat dan Aceh untuk mencari narapidana yang kabur.

"Kami juga sudah mengontak Polda Aceh untuk menyisir dan razia, mengantisipasi warga binaan lari ke Aceh," ujarnya.

Kedua dalam sepekan

Amuk warga binaan di Lapas Kelas III Hinai Langkat merupakan yang kedua sepekan terakhir.

Pada Sabtu dini hari lalu, kerusuhan berujung pembakaran gedung Lapas juga terjadi di Rutan Kelas II-B Siak Sri Indrapura, Riau.

Serupa dengan di Langkat, huru hara di Lapas itu dipicu oleh kekerasan sipir terhadap tahanan.

Sebanyak 153 tahanan dari total 648, dilaporkan kabur, tapi sebagian besar berhasil ditangkap dan menyerahkan diri. Enam orang di antaranya kini masih diburu polisi.

Dalam kunjungan ke Siak pada Senin lalu, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah meminta anak buahnya  tak bersikap arogan kala bertugas guna menghindari pertikaian dengan warga binaan.

Merujuk data Kemenkumham hingga Desember 2018, tahanan dan narapidana di seluruh Indonesia tercatat berjumlah 256 ribu orang atau dua kali lipat kapasitas total rutan dan lembaga pemasyarakatan (LP) yang ada.

Dari keseluruhan narapidana itu, 63 persen terlibat kasus narkoba.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya