Follow us

CCTV Memperlihatkan Terdakwa Berlatih Sebelum Pembunuhan Kim Jong-nam

Penyidik memberi kesaksian tentang aksi Doan Thi Hoang yang mengarah pada pembunuhan Jong-nam.
Hareez Lee & Fadzil Aziz
Shah Alam, Malaysia
2017-10-10
Email
Komentar
Share
Petugas polisi mengawal tersangka asal Vietnam Doan Thi Hoang (tengah), ke kompleks pengadilan Shah Alam di luar Kuala Lumpur, 5 Oktober 2017.
Petugas polisi mengawal tersangka asal Vietnam Doan Thi Hoang (tengah), ke kompleks pengadilan Shah Alam di luar Kuala Lumpur, 5 Oktober 2017.
FadzilAziz/BeritaBenar

Rekaman kamera CCTV memperlihatkan salah seorang dari dua perempuan Asia yang diadili karena pembunuhan Kim Jong-nam sedang melakukan simulasi aksi serangan tersebut  di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 (KLIA 2) dua hari sebelum pembunuhan Jong-nam, demikian kesaksian seorang polisi penyidik Malaysia di persidangan kasus tersebut, Selasa.

Doan Thi Huang berkewarganegaraan Vietnam dan Siti Aisyah yang berasal dari Indonesia didakwa bertanggung jawab atas meninggalnya saudara tiri diktator Korea Utara, Kim Jong-un, dengan mengusap wajah Jong-nam dengan bahan kimia mematikan, agen saraf VX, di KLIA 2 pada 13 Februari 2017. Keduanya bisa dihukum mati, jika terbukti bersalah.

Wan Azirul Nizam Che Wan Aziz, seorang perwira investigasi senior, mengatakan Doan terlihat di kamera CCTV pada 11 Februari.

"OKT (Orang Kena Tuduh) Doan terlihat mendekati dari belakang seseorang yang dia pilih secara acak, dan mengusapkan sesuatu di wajah orang itu," Wan Azirul bersaksi menanggapi pertanyaan Wakil Jaksa Penuntut Umum Wan Shaharuddin Wan Ladin.

"Ketika orang tersebut menoleh ke arahnya, dia memberi isyarat seperti meminta maaf, dengan menundukkan kepala dan meletakkan kedua tangannya di depan, sebelum berjalan beberapa langkah dan pergi," katanya.

Saksi kesembilan dalam persidangan itu, Wan Azirul, mengatakan kepada pengadilan Shah Alam di dekat Kuala Lumpur, bahwa Doan tampak lebih santai pada 11 Februari daripada saat dia menyerang Kim Jong-nam di bandara dua hari kemudian, ketika Jong-nam bersiap melakukan penerbangan ke Macau.

Ketika ditanya tentang perbedaan antara aksi pada 11 Februari dan saat pembunuhan pada 13 Februari, Wan Azirul memberi kesaksian bahwa Doan "lebih agresif” terhadap Jong-nam.

"Tindakan OKT cukup agresif. Perbedaan lainnya adalah OKT Doan berjalan cepat," katanya, mengacu pada Doan ketika ia mendekati Jong-nam.

Dalam pernyataan pembukaan, jaksa mengatakan mereka ingin membuktikan bahwa kedua terdakwa terlibat dalam sebuah aksi lelucon bersama empat orang lainnya yang mengakibatkan kematian Jong-nam. Tak lama setelah pembunuhan tersebut, para penyidik mengatakan empat pria Korea Utara yang terlihat di bandara, terbang meninggalkan Malaysiapada hari itu juga, demikian menurut  polisi Malaysia.

Doan dan Aisyah telah mengklaim dalam laporan-laporan sebelumnya bahwa mereka ditipu oleh beberapa orang untuk berpikir bahwa mereka memainkan lelucon pada Kim Jong-nam sebagai bagian dari acara reality show. Keduanya mengaku mereka tidak tahu bahwa mereka mengusapkan agen saraf yang mematikan di wajah Jong-nam saat mereka mendekatinya di bandara.

Penyidik tersebut memberi kesaksian bahwa 23 DVD berisi rekaman CCTV diperoleh dari bandara, dimana 22 diambil pada hari Kim Jong-nam meninggal sementara satu pada 11 Februari.

171010-MY-trial-inside.jpg

Perwira penyidik senior, Wan Azirul Nizan Che Wan Aziz, 10 Oktober 2017. (FadzilAziz/BenarNews)

Ahli kimia melanjutkan kesaksiannya

Dalam kesaksian yang diberikan pada hari Selasa, hari keenam persidangan, ahli kimia pemerintah, Raja Subramaniam, kembali memberikan kesaksian bahwa analisis pada kulit korban menemukan jejak agen saraf VX pada dosis yang lebih tinggi daripada jumlah yang diketahui mematikan.

Raja, pimpinan ahli kimia di Pusat Analisis Senjata Kimia di Departemen Kimia Kerajaan Malaysia, memberi kesaksian bahwa jumlah agen saraf pada kulit Kim 1,4 kali lebih tinggi daripada dosis yang diketahui mematikan. Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa dosis mematikan sebelumnya didasarkan pada sebuah kasus di Osaka, Jepang, pada tahun 1994.

Raja juga mengatakan bahwa dia diberitahu bahwa barang-barang dari korban, termasuk jaket, tas, sepatu, celana jins, sebuah cincin dan sebuah jam tangan telah dikembalikan ke Korea Utara. Jenasah Kim Jong-nam dikirim ke negara itu enam minggu setelah serangan fatal tersebut yang memicu perseturuan politik antara kedua negara.

Pada hari Senin, tim pembela terdakwa mengemukakan kekhawatiran kepada wartawan tentang tidak diketahuinya keberadaan jaket yang dipakai Jong-nam pada hari dia terbunuh, setelah mereka menjalani persidangan di laboratorium Raja untuk melihat barang bukti yang mengandung agen VX.

"Kami akan menanyakan nanti mengapa diserahkan ke Korea Utara dan di bawah perintah siapa," kata pengacara Aisyah, Good Soon Seng, kepada wartawan.

Tampilan selengkapnya