KNKT Ungkap Masalah pada Throttle Otomatis Sebelum Sriwijaya Air Jatuh

CVR masih dicari untuk bisa mengungkapkan penyebab pasti kecelakaan pesawat itu.
Tia Asmara
Jakarta
2021-02-10
Share
KNKT Ungkap Masalah pada Throttle Otomatis Sebelum Sriwijaya Air Jatuh Keluarga korban penerbangan Sriwijaya Air SJ-182 menaburkan bunga di Laut Jawa lokasi jatuhnya pesawat tersebut pada 9 Januari lalu yang menewaskan keseluruhan 62 orang penumpang dan awaknya, dalam peringatan mengenang para korban musibah tersebut, 22 Januari 2021.
AP

Tuas otomatis pengatur tenaga mesin atau yang disebut dengan automatic throttle mengalami masalah sebelum pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu bulan lalu dan menewaskan keseluruhan 62 orang di dalamnya, demikian disampaikan Komite National Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait laporan awal kecelakaan, Rabu (10/2).

Namun belum diketahui apakah hal itu menjadi pemicu jatuhnya pesawat tersebut di Laut Jawa pada 9 Januari. Diharapkan cockpit voice recorder (CVR) yang hingga saat ini masih dicari bisa mengungkapkan penyebab musibah tersebut.  

Catatan Flight Data Recorder (FDR) menunjukkan saat melewati ketinggian 8.150 kaki, tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri bergerak mundur dengan sendirinya saat autopilot diaktifkan, sehingga mengurangi daya mesin yang dikeluarkan pesawat, kata Ketua Sub-Investigator Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo dalam keterangan persnya.

“Saat ini yang kita ketahui autothrottle bergerak mundur. Keduanya mengalami anomali yaitu yang sebelah kiri mundur terlalu jauh. Sementara yang sebelah kanan tidak bergerak, atau seolah-olah macet,” ujarnya.

Percakapan terakhir pilot dengan pengatur lalu lintas udara sekitar 4 menit setelah lepas landas, ketika awak pesawat menanggapi instruksi untuk naik ke ketinggian 13.000 kaki. FDR menunjukkan pesawat mencapai ketinggian 10.900 kaki dan kemudian mulai menurun, kata Nurcahyo.

Saat menggunakan autopilot, tenaga ke mesin kiri berkurang dan pilot berusaha untuk naik, tetapi pesawat berguling ke sisi kiri, tambahnya.

Semenit kemudian, perekam data menunjukkan bahwa throttle otomatis telah dilepaskan saat pesawat jatuh. Perekam data penerbangan berhenti merekam beberapa detik kemudian.

Nurcahyo menyebut cuaca bukanlah menjadi salah satu penyebab jatuhnya pesawat karena data menunjukkan bahwa jalur penerbangan SJ-182 tidak melintasi awan atau cuaca yang membahayakan.

Dia mengatakan pilot penerbangan sebelumnya telah melaporkan dua kali masalah dengan sistem throttle otomatis pada jet berusia 26 tahun itu, tapi semuanya berhasil diperbaiki. 

Laporan awal itu memaparkan data dan informasi faktual terkait penerbangan, namun tidak menyebutkan faktor penyebab kecelakaan. Laporan akhir diperkirakan akan diumumkan awal tahun depan, atau setahun setelah kecelakaan.  

Pesawat Sriwijaya Air tersebut tidak terbang selama hampir sembilan bulan tahun lalu karena pengurangan penerbangan selama pandemi COVID-19.

Kementerian Perhubungan mengatakan pesawat telah menjalani inspeksi sebelum melanjutkan penerbangan pada bulan Desember.

Saat ini, KNKT bekerja sama dengan Boeing dan pembuat mesin General Electric untuk menginvestigasi perekam data penerbangan (FDR). Tim dari Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS dan Administrasi Penerbangan Federal juga telah bergabung dalam penyelidikan.

Tentara Angkatan Laut membawa kantong jenazah yang berisi potongan tubuh korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 21 Januari 2021. [AP]
Tentara Angkatan Laut membawa kantong jenazah yang berisi potongan tubuh korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 21 Januari 2021. [AP]

CVR masih dicari

Hingga saat ini, data memori dari cockpit voice recorder (CVR) masih belum dapat ditemukan dan upaya pencarian masih terus dilakukan, kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Soerjanto mengatakan pihaknya belum bisa membuat analisa apapun terkait penyebab jatuhnya pesawat tanpa bukti yang jelas. “Datanya saja masih jauh dari kurang, karena CVR belum ditemukan,” ujar dia.

Soerjanto mengatakan sejumlah faktor penyebab sulitnya menemukan CVR antara lain karena cuaca yang dalam beberapa hari ini sangat buruk sehingga menghambat pencarian.

“Cuaca buruk menyebabkan angin kencang, ombak tinggi dan arus bawah laut yang kuat. Bahkan lumpur dari sungai bisa terbawa ke lokasi kejadian. Jarak pandang juga buruk,” paparnya.

Apalagi, tambahnya, dua sinyal ping dari FDR dan CVR yang selama ini menjadi petunjuk keberadaan black box sudah ditemukan dalam keadaan terpisah. “Jadi tidak ada lagi petunjuk sinyal keberadaaan CVR. Kami hanya bisa mencari secara manual,” ujarnya.

Oleh karena itu, ujarnya, pihaknya akan mencoba untuk menyedot lumpur yang ada di dasar laut di lokasi yang diduga terdapat CVR.

Bukan penyebab tunggal

Pakar penerbangan dari Federasi Pilot Indonesia, M. Ali Nahdi mengatakan kemungkinan ada masalah lainnya yang menyebabkan pesawat jatuh beberapa menit setelah lepas landas.

“Kalau semua bagus, pesawat layak terbang, nggak mungkin itu pesawat bisa jatuh, pasti ada masalah dan kerusakan, dan penyebabnya tidak mungkin hanya di autothrottle,” ujarnya.

Analis penerbangan lainnya, Gerry Soejatman, mengatakan hal serupa.

Menurutnya, masalah throttle otomatis seharusnya tidak menyebabkan pesawat jatuh karena pilot dapat mematikan fungsi itu.

“Faktor lain pasti ikut berperan, kalau memang disebutkan hanya itu sebabnya agak terlalu maksa,” kata Soejatman kepada BenarNews.  “pilot dilatih untuk memperhatikan ini dan mencegah kehilangan kendali.”

Ia menjelaskan adanya masalah auto throttle membuat pesawat tidak bisa mengendalikan kecepatan dan berakibat pesawat kehilangan keseimbangan.

“Pilot dilatih untuk memperhatikan ini dan mencegah kehilangan kendali,” tambahnya.

Harapan

Sementara itu salah satu keluarga korban, Irfan Syahrianto (34) berharap dengan temuan KNKT tersebut, musibah serupa tidak akan terjadi lagi.

“Semoga masalah-masalah seperti itu tidak terjadi di pesawat lainnya. Semuanya sudah terjadi. Saya pasrah,” ucapnya.

Ia kehilangan lima anggota keluarga sekaligus dalam kecelakaan pesawat tersebut yaitu Toni Ismail (ayah), Rachmawati (ibu), Ratih Windania (adik), dan Jumna dan Atar (keponakan)

Ia menyerahkan masalah penyebab kecelakaan dan kompensasi keluarga kepada pihak terkait.  

“Saya belum berpikir ke arah sana, kejadian ini bikin saya syok, tapi kalau memang ada ya kami serahkan saja baiknya bagaimana,” ujarnya.

Kecelakan Sriwijaya merupakan kejadian besar kedua dalam tiga tahun terakhir.  

Pada Oktober 2018, sebuah Boeing 737 MAX-8 milik maskapai Lion Air jatuh ke Laut Jawa, menewaskan 189 orang di dalamnya. Cacat desain dan kurangnya panduan bagi pilot pada fitur sistem penerbangan Boeing 737 tersebut disinyalir sebagai penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya