Aparat Keamanan Masih Buru Pembunuh Prajurit TNI dan Istrinya di Papua

Sayap militer separatis, TPNPB, menyangkal sebagai pelakunya, walaupun dalam laporan sebuah media sebelumnya mengatakan mereka bertanggung jawab.
Arie Firdaus
2022.04.01
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Aparat Keamanan Masih Buru Pembunuh Prajurit TNI dan Istrinya di Papua TNI dan polisi mengangkat peti mati dari seorang prajurit yang tewas dalam sebuah serangan di Kenyam, Kabupaten Nduga, setibanya di Timika, Papua, 28 Maret 2022.
AFP

Pejuang separatis di Papua, Jumat (1/4) menyangkal keterlibatan kelompok mereka dalam penyerangan yang menewaskan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan istrinya, serta melukai anak mereka, sementara pemerintah masih menyelidiki siapa dibalik kekerasan itu.

Prajurit bernama Eka Andrianto (28) tewas setelah ditembak orang tak dikenal pada Kamis di Kabupaten Yalimo, sementara istrinya meninggal dunia dalam perjalanan ke Puskesmas usai disabet senjata tajam pada bagian leher, kata pejabat militer setempat.

Penyerang juga melukai satu dari dua anak korban, dengan memotong jari tangannya, ujar Wakil Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Letkol Candra Kurniawan. 

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, mengatakan kelompoknya tidak berada di balik penyerangan itu.

"TPNPB tidak terlibat. Itu mungkin kelompok kriminal dan teroris. Kami perang sesuai aturan,” ujar Sambom kepada BenarNews. Pengakuan sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka ini berbeda dari apa yang diliput dalam sebuah media internasional sebelumnya yang mengutip Sambom mengatakan bahwa kelompoknya bertanggung jawab atas serangan itu yang dikatakannya sebagai bagian dari perjuangan untuk memerdekakan diri dari Indonesia.

“Masih diselidiki”

Letkol Candra Kurniawan mengatakan otoritas keamanan belum mengetahui siapa pelaku penyerangan.

"Kami masih memburu pelaku. Belum berhasil diidentifikasi, tapi petugas telah memeriksa sejumlah saksi," ujar Candra kepada BenarNews.

"Tindakan mereka sangat biadab karena korban adalah nakes (tenaga kesehatan) di Puskesmas Elelim di Yalimo yang sering membantu masyarakat sekitar," ujarnya, merujuk pada istri korban yang juga tewas.

Peristiwa ini berselang dua hari usai aparat keamanan menembak mati seorang pejuang separatis bernama Toni Tabuni yang dituduh terlibat dalam rangkaian serangan di Papua dalam dua tahun terakhir, di Nabire.

Toni, antara lain, dituduh terlibat dalam penembakan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Papua I Gusti Putu Danny pada April 2021.

Daerah Papua tidak pernah sepi dari gejolak konflik antara kelompok separatis dan aparat kemaanan Indonesia. Akhir minggu lalu TPNPB mengaku bertanggungjawab atas penyerangan terhadap pos marinir di Kenyam, Kabupaten Nduga, yang menewaskan dua personel TNI dan melukai delapan lainnya.

Menurut Candra, serangan kepada Eka yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Elelim dan istrinya, Sri Lestari Indah Putri (33), yang bekerja sebagai bidan di Puskesmas setempat, berlangsung di kios milik korban.

Candra menolak merinci lebih lanjut kronologis kejadian dengan dalih aparat masih melakukan investigasi.

Pun, juru bicara Kepolisian Daerah Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal yang mengatakan bahwa insiden tersebut ditangani militer.

"Insiden kemarin, karena korban tentara maka ditangani tentara. Kami hanya membantu," ujar Kamal kepada BenarNews.

Kepala Polres Yalimo Ajun Komisaris Besar Hesman Napitupulu mengaku terkejut dengan insiden tersebut karena menjadi peristiwa perdana di wilayah hukumnya. 

"Situasi di Yalimo siaga satu. Kami bersama TNI akan bersinergi mengantisipasi serangan berikutnya oleh para pelaku," kata Hesman, seperti dikutip Kompas.

Saat ditanya apakah kelompok sipil bersenjata aktif di Yalimo, baik Candra maupun Kamal tidak menjawab dengan alasan masih penyelidikan.

Harus diusut tuntas

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, Emanuel Gobay mengatakan penyerangan tersebut harus diusut tuntas demi penegakan hukum.

"Karena sejauh ini dilaporkan bahwa pelaku adalah masyarakat sipil, hal itu menjadi pelanggaran hukum lain karena mereka memiliki senjata tanpa izin. Aparat harus tegas menangkap mereka demi penegakkan hukum dan memberi efek jera," ujarnya kepada BenarNews.

Lebih lanjut, Gobay pun berharap pemerintah melaksanakan rekomendasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) --kini bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) – dalam menyelesaikan konflik di Papua.

“Pemerintah pusat harus menyelesaikan masalah berkepanjangan ini dengan berpijak pada penelitian ilmiah LIPI, sebuah lembaga independen yang punya kredibilitas," kata Gobay.

Menurut hasil penelitian LIPI yang dirilis pada 2008, orang Papua tidak merasa proses integrasi wilayah itu menjadi bagian dari Indonesia berlangsung dengan seharusnya, dan rangkaian kekerasan negara dan pelanggaran hak asasi membuat masyarakat Papua memupuk rasa sakit hati terhadap Jakarta.

Selain itu, orang asli Papua merasa dimarjinalkan karena merasa tidak dilibatkan dalam pembangunan.

"Negara tidak hadir di bagian-bagian di mana orang Papua membutuhkannya," kata pemimpin penelitian akar konflik Papua, Muridan Widjojo, dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 2011.

Konflik separatis telah berlangsung di Papua sejak tahun 1960-an. Papua resmi menjadi bagian dari Indonesia sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di bawah pengawasan PBB pada 1969, namun sebagian warga Papua dan pegiat hak asasi manusia memandang Pepera tidak sah lantaran hanya melibatkan sekitar seribu orang.

Pada 2003, Papua dibagi menjadi dua provinsi – Papua dan Papua Barat.

Kekerasan di Papua dan Papua Barat mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, yang mengakibatkan korban tewas dari pihak aparat keamanan, kelompok separatis dan rakyat sipil serta ribuan warga terpaksa mengungsi ke hutan untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, petugas Kesehatan di Puskesmas Elelim mengaku terpukul atas serangan yang menewaskan Sri Lestari dan merasa takut untuk bekerja.

"Kini banyak rekan kami, khususnya perempuan, merasa trauma dan ketakutan,” kata Yandry Pamangin, salah seorang rekan kerja Sri, seperti dikutip Kompas.

Ia mengatakan bahwa Sri tergolong tenaga kesehatan senior dan kerap membantu proses persalinan masyarakat di Elelim.

Kepala Seksi Keperawatan Rumah Sakit Daerah Wamena Ming Sumarah Isham mendesak aparat keamanan mengusut tuntas kematian Sri demi kesinambungan pelayanan kesehatan di sana.

Kabupaten Wamena berjarak sekitar 200 kilometer dari Yalimo.

"Bila kasus itu tidak diusut tuntas, kami tidak akan memerintahkan siapa pun, termasuk bidan, ke pos-pos untuk melayani masyarakat. Kami hadir untuk masyarakat, tapi tidak ada perlindungan untuk kami," ujar Isham, dikutip Merdeka.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya