Kritisi 'Agresi' Cina Lagi, Pompeo Tegaskan Komitmen AS di Asia Tenggara

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat itu juga menuduh Beijing menguasai aliran Sungai Mekong selama musim kering.
Staf BenarNews
Washington
2020-09-12
Share
200911-pompeo-620.jpg Menteri Luar Negeri Vietnam Pham Binh Minh (kiri) dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo (posisi tengah layar video) berpartisipasi dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Amerika Serikat yang digelar secara daring, 10 September 2020.
AFP

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menegaskan kembali komitmen Washington di Asia Tenggara dan menuduh melakukan agresi di Laut Cina Selatan. Pompeo juga menuduh Beijing menguasai aliran Sungai Mekong saat musim kering.

Selain membahas investasi Amerika Serikat di Asia Tenggara dan dukungan upaya penanganan COVID-19 oleh Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), Pompeo mengatakan Washington akan membahas ancaman Cina akan kemampuan negara-negara berdaulat dalam membuat berbagai pilihan bebas.

"Kami mendukung negara-negara partner kami di ASEAN dan mendorong penerapan hukum dan menghormati kedaulatan di Laut Cina Selatan, dimana Beijing secara agresif memaksakan kepentingannya serta merusak lingkungan hidup di sana," tegas Pompeo, Jumat (12/9) dalam pernyataannya saat pertemuan tingkat tinggi para diplomat ASEAN yang digelar secara daring pekan ini di Vietnam.

Diplomat papan atas Amerika Serikat itu bahkan menuduh Cina memperparah musim kering di negara-negara Asia Tenggara yang dilewati Sungai Mekong.

"Kami berharap adanya transparansi dan rasa saling menghormati di kawasan Mekong, dimana CCP [Partai Komunis Cina] membiarkan perdagangan senjata dan narkotika serta menguasai waduk-waduk di hulu sungai, sehingga memperburuk musim kering parah yang pernah ada," ujar Pompeo.

Pernyataan Pompeo sendiri tidak didukung bukti-bukti yang menuduh CCP mendukung penyelundupan senjata dan narkoba.

Laos, Thailand, Cambodia dan Vietnam memang mengandalkan aliran sungai Mekong yang menunjang kehidupan puluhan juta warga di negara-negara itu. Sementara curah hujan rendah yang menyebabkan kekeringan parah, sejumlah pakar lingkungan hidup mengatakan bendungan-bendungan yang dibangun Cina di hulu sungai menambah parah situasi.

Ketegangan meningkat

Pernyataan Pompeo seakan menegaskan akan memburuknya hubungan bilateran AS-Cina di sejumlah aspek dalam beberapa bulan terakhir, termasuk perdagangan, status Hong Kong, situasi buruk yang dihadapi Muslim Uyghur dan klaim Cina akan hak-hak historis mereka dalam sengketa Laut Cina Selatan.

Kamis lalu, Pompeo meminta negara-negara Asia Tenggara agar dapat mempertimbangkan kembali sejumlah kerjasama bisnis mereka dengan 24 perusahaan Cina yang mendapat sanksi dari Washington bulan lalu. Mereka dikenakan sanksi atas peran mereka dalam membangun pulau buatan permintaan Beijing di kawasan Laut Cina Selatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah melakukan reklamasi besar-besaran di pulau yang menjadi sengketa, yakni rangkaian kepulauan Paracel dan Spratly.

Negara-negara ASEAN seperti Brunei, Malaysia dan Filipina juga menyatakan klaimnya atas wilayah Laut Cina Selatan dan berupaya untuk menggunakan sumber daya alam di wilayah yang diklaim Cina sebagai wilayah miliknya.

Beijing juga mengklaim sejumlah wilayah di laut yang tumpang tindih dengan kawasan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, yang tak lain adalah anggota ASEAN terbesar.

Dalam hal ini, Beijing pekan ini menuduh AS ikut campur dalam hubungan diplomatik di wilayah ASEAN. Rabu kemarin, media massa melaporkan Menteri Luar Negeri AS Wang Yi menyebut AS sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam militerisasi di Laut Cina Selatan.

"Amerika Serikat menjadi sangat fakotr yang amat berbahaya yang bisa merusak perdamaian di Laut Cina Selatan," ujar Wang dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Asia Timur.

Negara-negara Asia Tenggara sendiri merasa canggung terjebak dalam perang kata-kata antara AS dan Cina.

Dalam pernyataan publik gabungan ASEAN Kamis kemarin, ASEAN yang bekerja sama berdasarkan konsensus menyatakan kekhawatirannya akan meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan menuntut adanya resolusi dalam sengketa tersebut sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional atau UNCLOS.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan kepada media bahwa negara-negara ASEAN tidak ingin terjebak dalam perseteruan antara kedua negara adidaya.

Rabu kemarin, Vietnam juga menegaskan sengketa tersebut mengancam stabilitas di kawasan ASEAN dan negara-negara terkait harus menyelesaikan masalah ini dengan mengacu pada hukum internasional, termasuk UNCLOS yang dibuat tahun 1982.

Sementara Pompeo menyampaikan pernyataan keras pemerintah AS Jumat lalu, Departemen Luar Negeri AS menunjuk Wakil Menteri Stephen Biegun sebagai pemimpin delegasi AS dalam pertemuan virtual dengan ASEAN hari itu.

Pompeo sendiri tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Timur Tengah untuk menghadiri pembukaan pertemuan damai di Afghanistan.

Pertemuan ASEAN berakhir Sabtu ini setelah Forum Perdamaian dan Keamanan Wilayah ASEAN digelar. Forum tersebut dihadiri 27 peserta termasuk negara-negara ASEAN, India, Jepang, Cina, AS, Rusia dan Uni Eropa.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.