Radikalisme di Indonesia (1): Menilik Jejak ISIS di Malang

Heny Rahayu
Malang
2015-11-17
Share
masjid-620 Masjid Sulaiman Al Hunaishil, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 20 Oktober 2015.
BeritaBenar

Masjid Sulaiman Al Hunaishil yang terletak di Dusun Sempu, Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tak terurus. Bangunan berwarna biru  itu tampak kusam, lantai berdebu, dan sebagian tembok retak.

Masjid bersebelahan dengan makam desa dan dikelilingi pohon jati itu  tak pernah digunakan beribadah.

Padahal, pada bulan puasa tanggal 20 Juli 2014 ratusan orang meriung di dalam masjid dari berbagai daerah di Jawa Timur memenuhi undangan kelompok yang menamakan Ansharul Khilafah Jawa Timur.

Usai ceramah yang dilakukan melalui pemutaran film dokumenter tentang Daulah Khilafah Islamiyah, para jamaah diminta berdiri untuk menjalani baiat, menyatakan setia kepada Amir Daulah Khilafah Islamiyah, Syaikh Abu Bakr Al-Baghdadi.

Tuah Febriwansyah alias Ustaz M. Fachry, yang memberikan ceramah ketika itu,  kini  sedang menjalani sidang pengadilan di Jakarta dengan tuduhan terorisme dan  penyebaran ideologi Negara Islam Irak dan Suriah, yang juga dikenal dengan ISIS, organisasi yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan mematikan minggu lalu di Paris dan Beirut.

Nasib mereka yang menghadiri pembaiatan itu, tidak diketahui.

Ratusan warga Indonesia – jumlah yang tepat, sulit untuk diketahui- pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Menurut pakar keamanan, sekitar 50 tewas dalam peperangan di Suriah sejak Maret 2015.

Banyak militan yang dulu setia kepada Jemaah Islamiyah yang berafiliasi pada al-Qaeda - pelaku Bom Bali tahun  2002 dan 2005- telah menemukan ISIS sebagai tempat mereka yang baru untuk mencapai tujuan mereka.

Artikel ini adalah bagian pertama dari tiga serial artikel tentang kebangkitan radikalisme di Indonesia. Salah satunya adalah di Malang.

Masjid lokasi baiat

“Sejak dibangun belum pernah digunakan,” ujar warga setempat, Saidi, kepada BeritaBenar, Selasa 20 Oktober.

Saidi juga terlibat pembangunan masjid selama delapan bulan non-stop. Tak ada aliran listrik dan air, sehingga masjid tak dimanfaatkan warga setempat. Sejumlah keluarga sekitar masjid memilih menggunakan masjid lain yang tak jauh dari permukiman itu.

“Ada intel datang sejak dibangun,” ujarnya.

“Saya tak mengenal mereka satu persatu,” ujar juru bicara Ansharul Khilafah Jawa Timur, Muhammad Romly kepada BeritaBenar ketika dihubungi baru-baru ini.

Tahun lalu, masjid yang saat itu selesai dibangun menjadi tempat deklarasi Ansharul Khilafah.

Sebuah mesin generator menjadi sumber listrik untuk menyalakan dua buah lampu neon dan layar proyektor. Sebuah poster besar bertulis “Sosialisasi dan Deklarasi Ansharul Khilafah” terpampang di depan ruang imam masjid.

Para jamaah duduk bersila, menyimak penjelasan Tuah Febriwansyah dan Ustaz Syafuddin Umar. Keduanya menjelaskan tentang Daulah Khilafah Islamiyah.

Tanpa pengeras suara, para jamaah tampak tekun menyimak. Mereka menjelaskan melalui film dokumenter lewat layar proyektor LCD. Tuah menjelaskan bahwa Khilafah Islamiyah telah tegak berdiri di Irak.

Kemudian para jemaah menjalani baiat. Mereka serempak mengucapkan kalimat sumpah dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia,  menyatakan kesetiaan kepada Syaikh Abu Bakr Al-Baghdadi.

Pekik takbir bergema bersama-sama usai upacara pembaiatan.

Tuah yang juga Pemimpin Redaksi Al Mustaqbal, majalah pro-ISIS yang bisa diakses secara online, membagikan majalah tersebut kepada para jamaah.

Jamaah juga mendapat stiker bergambar bendera hitam bertulis lafadz Arab Lailaha illallah dengan bulatan putih bertuliskan Muhammad Rasul Allah, bendera ISIS.

“Tak mendukung ISIS”

Namun Muhammad Romly menyangkal bahwa Ansharul Khilafah mendukung ISIS. Menurutnya, ISIS terbagi dalam berbagai faksi dan telah dibubarkan. Selanjutnya, muncul Daulah Khilafah Islamiyah dengan Khalifah Syaikh Abu Bakr al-Baghdadi.

Al-Baghdadi sendiri, yang dipercaya berada di Irak, menyatakan dirinya sebagai khalifah Negara Islam pada bulan Juni 2014. Pada bulan Mei tahun ini dia dilaporkan mengeluarkan rekaman suara yang mengajak umat Islam agar pindah ke khilafah pimpinannya di sejumlah wilayah di Irak dan Suriah.

Romly meyakini Daulah Khilafah Islamiyah akan membangun atau meningkatkan peradaban Islam, serta menghilangkan stigma Barat terhadap Islam yang diidentikkan dengan kekerasan dan kemiskinan. Mereka mengaku hanya memberikan dukungan moral dan doa untuk para mujahidin.

"Daulah Islamiyah itu janji Allah, jelas tertuang dalam Al-Quran," kata Romly.

Deklarasi Ansharul Khilafah, katanya, bergerak setelah Abu Bakar Al-Bagdadi diangkat menjadi khalifah. Romly juga berkomunikasi dengan M. Fachry untuk hadir dalam deklarasi itu.


Terdakwa Tuah Febriwansyah alias Muhammad Fachry sedang menjalani pengadilan di PN Jakarta Barat, 12 Oktober 2015. (AFP)

Pada tanggal 21 Maret 2015, M. Fachry ditangkap Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 di rumahnya Tangerang Selatan, Banten.

“Saya tak bisa berkomunikasi. Densus sengaja mencari-cari kesalahannya,” tuding Romly.

Fachry saat ini sedang menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat atas dakwaan terkait terorisme dan menyebarkan paham yang mendukung organisasi terlarang ISIS lewat portal Al-Mustaqbal.

Pengaruh Abu Jandal

Amir Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) Ustaz Mochammad Achwan menyebut pendukung ISIS di Malang memang dipengaruhi Salim Mubaroq Attamimi alias Abu Jandal.

JAS merupakan pecahan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir. Para jamaah JAS memisahkan diri setelah pada bulan Juli tahun lalu Ba'asyir menyatakan mendukung ISIS dari balik jeruji dan mengajak pengikutnya untuk mengikuti jejaknya.

Para pengikut Salim, kata Achwan, berasal dari Forum Aktivis Syariat Islam (Faksi) pimpinan Ustaz Aman Abdurrahman. Jumlah pengikutnya puluhan dan memiliki jaringan yang kuat dan solid. Mereka mendekati pemuda, pelajar, mahasiswa dan kaum terpelajar di Malang.

Salim alias Abu Jandal merupakan tokoh yang berpengaruh. Dia adalah keturunan Yaman asal Pasuruan. Salim sering menggelar kelompok pengajian di Malang dan menurut pihak berwenang sekarang menjadi salah satu komandan ISIS di Suriah.

"Dia yang menyerukan jihad, ada videonya di youtube," kata bekas Amir Binniyabah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) ini. Achwan juga keluar dari JAT setelah Abu Bakar Ba’asyir menyatakan mendukung ISIS.

Dalam video yang diunggah dengan nama akun Abu Mujahid pada 27 Juni 2014 berjudul Tahridhul Hijrah Wal Jihad, Abu Jandal yang muncul diapit dua orang dan seorang anak kecil, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk berjihad membela saudara Muslim yang ditindas “rezim Syiah dan thoghut (yang disembah selain Allah)”, Presiden Suriah Bashar Assad. Dalam video itu, dia juga menantang TNI, Polri dan Banser.

Seruan Salim alias Abu Jandal itu diikuti sejumlah warga Malang. Sebanyak lima warga Malang mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah. Pada 25 Maret 2015, Densus 88 Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap tiga terduga pengikut ISIS yang kembali dari Suriah.

Helmi Alamudin, Abdul Halim dan Achmad Junaedi ditangkap di tiga tempat berbeda di Malang. Kesemuanya sekarang sedang menjalani pengadilan. Secara total diperkirakan ada 18 orang yang direkrut bergabung bersama ISIS di Malang.

“Kelompok mereka terus kita pantau,” ujar Kepala Kepolisian Resor Malang Kota, Singgamata.

Namun jubir Ansharul Khilafah Muhammad Romly menyangkal dirinya pengikut Salim alias Abu Jandal meskipun ia mengaku mengikuti pengajian Salim di sejumlah masjid di Malang beberapa tahun lalu.

“Saya tahu Ustaz Salim dan sempat mengikuti pengajiannya. Dia ustaz yang berani,” ujarnya.

Kelompok pengajian Salim sering berpindah-pindah tempat. Mereka mengaji di rumah anggota kelompok yang diikuti segelintir orang. Pengajian dilakukan di Kelurahan Bumiayu dan Muharto Kota Malang.


Polisi berjaga di jalan masuk menuju salah satu rumah terkait terduga simpatisan ISIS, Jalan Ade Irma Suryani, Malang, setelah penggerebekan 25 Maret 2015. (BeritaBenar)

"Ada dua rumah di Muharto yang dijadikan tempat mengaji," kata Komandan Satkorwil Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Gerakan Pemuda Ansor, Koordinator Wilayah Jawa Timur, Umar Usman.

Banser, katanya, mengawasi pergerakannya sejak lama dalam usaha mencegah mempengaruhi orang lain. Sebagian besar berasal dari kelompok yang memperjuangkan khilafah.

"Mereka pengikut Islam garis keras memperjuangkan dengan angkat senjata," katanya.

Namun warga permukiman padat Muharto yang sebagian besar warga Nahdliyin meminta kelompok pengajian dihentikan. Warga melarang aktivitas pengajian di perkampungan warga.  Dalam pengajian di kelompok tersebut, kadang Salim yang berceramah.

Sejumlah anggota Banser pernah menyusup ke dalam kelompok pengajiannya. Dalam setiap pengajian, menurut Umar, mereka menyalahkan negara dan kelompok Islam yang lain.

"Kelompok pengajian tak ada aktivitas sejak Salim ke Suriah," tambahnya.

Salim alias Abu Jandal yang mengaku mengagumi Amir JAT Abu Bakar Ba’asyir - yang juga pendiri Pondok Pesantren Ngruki di Sukoharjo, Jawa Tengah - mengajak istri dengan lima anak terdiri dari tiga anak kandung dan dua anak asuh ke Suriah tahun lalu, setelah bergabung dengan ISIS.

Sejak saat itu, kelompok pengajian tersebut terhenti. Namun Umar terus memantau, khawatir mereka mendirikan kelompok atau sel baru.

Ketika ditanya BeritaBenar kenapa pengajian yang diadakan oleh kelompok seperti JAT dan para penceramah yang secara terbuka mendukung ISIS dan menghasut kebencian kepada kelompok lain, kepolisian menyatakan tidak bisa melarang.

“Jangan dibesar-besarkan, ISIS sudah tidak ada di Malang,” kata Kapolresta Malang Singgamata.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya