Ledakan di Yaman Bukan Ditujukan ke KBRI: Kemlu

Oleh Bramantyo Irawan
2015.04.20
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150420_ID_LEDAKAN_YAMAN_700.jpg Warga Yaman memeriksa jalan yang rusak parah setelah serangan udara di Sanaa, tanggal 20 April 2015.
AFP

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sanaa, Yaman rusak berat akibat serangan udara yang dipimpin oleh Saudi Arabia, tapi KBRI bukanlah target serangan, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi menegaskan.

Ledakan tersebut merupakan  salah satu rangkaian serangan beruntun yang diikuti dengan serangan udara yang mematikandan telah menewaskan 28, setidaknya 300 orang terluka parah, menurut kantor berita AFP.

Tidak ada warga Indonesia yang tewas, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara.

Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, namun terdapat 2 orang Staf Diplomatik KBRI dan 1 orang WNI mengalami luka ringan, semua staf dan WNI telah di evakuasi ke Wisma Duta di Sana’a dan segera di evakuasi ke Al Hudaydah”, terang Menlu Retno dalam pernyataan tersebut.

“KBRI bukan menjadi target ledakan tersebut, tetapi kita terkena imbasnya. Kita mengecam tindakan ini,” kata Retno sebelumnya kepada wartawan setelah jumpa pers di Jakarta Convention Center tanggal 20 April.

90 persen gedung KBRI hancur

Kepala Sub Direktorat Repatriasi dan Bantuan Sosial Kementerian Luar Negeri RI Aji Surya mengatakan bahwa ledakan tersebut berimbas besar ke KBRI.

“Serangan udara ini menghancurkan 90 persen dari bangunan gedung KBRI. Kita juga harus mengevakuasi beberapa staf KBRI ke tempat yang aman. Situasi di Yaman semakin tidak menentu,” katanya kepada BenarNews lewat jaringan telefon.

Pemerintah Indonesia telah mengevakuasi 1.981 WNI sejak Desember 2014.

Pemimpin mengusulkan untuk menarik perwakilan RI di Yaman karena situasi semakin tidak aman.

"WNI harus ditarik dan saya sepakat untuk menutup KBRI karena bisa situasi yang tidak aman. Kita harus menjaga keselamatan para diplomat dan perwakilan Indonesia di negara tersebut,” kata Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

“Konflik ini harus diakhiri karena telah menyebabkan tewasnya masyarakat sipil yang tidak bersalah.  Ini sangat menyedihkan,” katanya lanjut.

Yaman memanas

Koalisi dari sepuluh negara Islam Sunni yang dipimpin oleh Saudi Arabia telah membombardir kelompok Syiah Houthi yang didukung oleh Iran, selama lebih dari tiga minggu untuk melemahkan kedudukan mereka di Yaman.

Kelompok milisi Houthi menginginkan otonomi untuk propinsi Saada dan telah melancarkan pemberontakan sejak tahun 2004.

Mereka melakukan serangan besar-besaran terhadap pemerintah Yaman dan berhasil mengkudeta istana kepresidenan di Sanaa pada Januari 2015 serta memaksa Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi mengundurkan diri.

Eskalasi perang di Yaman mengancam ketegangan di Timur Tengah karena melibatkan kekuatan regional antara Arab Saudi dan Iran, yang mencerminkan perpecahan Syiah dan Sunni dalam Islam.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya