Lekakha Klaim Serang Polsek Sinak yang Tewaskan Tiga Polisi

Victor Mambor
Jayapura
2015-12-28
Share
papua-1000 Presiden Jokowi setelah menghadiri acara pembebasan tahanan di Penjara Abepura di Jayapura dalam kunjungannya ke Papua, 9 Mei 2015 lalu.
AFP

Kelompok bersenjata pimpinan Lekakha Telenggen mengklaim bertanggung jawab dalam penyerangan Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Sinak di Kabupaten Puncak, Papua, yang menewaskan tiga personel polisi dan dua lainnya terluka.

“Saya bertanggung jawab dalam peristiwa ini (penyerangan Polsek Sinak). Saya dan anggota sedang was-was di markas kami untuk mengantispasi serangan balik,” tegas Lekakha kepada BeritaBenar melalui sambungan telepon, Senin sore.

Bersama anggotanya, ia mengaku menyerang Mapolsek Sinak, Minggu 28 Desember sekitar pukul 23.00 WIT. Tetapi, Lekakha tidak menyebutkan apa tujuan di balik penyerangan tersebut.

“Kami juga mengambil tujuh pucuk senjata api, dua AK 47, dua SS1, tiga Mouser dan satu peti amunisi,” ujar Lekakha.

Pada Januari lalu, Lekakha dan putranya Tengamati Telenggen dituduh polisi sebagai pelaku utama penyerangan yang menewaskan dua anggota Brimob Ipda Thomson Siahaan dan Bripda Jeferson, di Ilaga, ibukota Puncak awal Desember 2014. Kedua korban ditembak saat melintas di depan Kantor Bupati Kabupaten Puncak menggunakan truk. Kelompok  ini juga membawa kabur dua pucuk AK 47.

Belum jelas afiliasi dari Kelompok Lekakha dan apa tujuan gerakan kelompok ini, termasuk apakah memiliki hubungan dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Khawatir

Insiden penyerangan Mapolsek Sinak dikhawatirkan akan berimbas pada masyarakat Sinak. Sebab seperti biasa, paska penembakan yang melibatkan kelompok bersenjata, aparat keamanan melakukan penyisiran untuk mengejar para pelaku.

“Penyisiran pasti akan dilakukan polisi untuk mencari pelaku,” kata Ruben Magay, anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi masalah Politik, Hukum, HAM dan Pemerintahan.

“Di Sinak kan sudah berulangkali dilakukan penyisiran karena kekerasan bersenjata beberapa kali terjadi di situ. Korbannya tentu masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa. Mereka bisa mengungsi karena penyisiran yang dilakukan aparat keamanan.”

Magay berharap, polisi bertindak professional dalam mencari pelaku penyerangan Polsek Sinak. Polisi, kata dia, harus belajar dari pengalaman sebelumnya dimana bisa mengukur berapa banyak personel yang dikirimkan untuk mengejar pelaku.

“Saya juga heran, kenapa masih saja ada orang yang tidak bisa menghargai hari Natal dengan melakukan kekerasan?” ujar Magay kepada BeritaBenar.

Mengenai apakah penyerangan Polsek Sinak berkaitan dengan rencana kedatangan Presiden Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo ke Wamena, Papua, Magay mengatakan sebagai politisi, dia tidak berada pada posisi untuk membuat kesimpulan itu.

“Tugas polisi menangkap pelaku. Soal motif penyerangan, siapa saja berhak untuk melihatnya dengan cara pandang masing-masing,” tutur Magay.

Laurens Kadepa, anggota Komisi I DPR Papua yang lain, juga menyatakan motif dan pelaku penyerangan itu belum bisa dipastikan karena “di Papua banyak kelompok yang bermain.”

“Bukan dari Papua saja, tapi juga dari Jakarta. Bisa saja mereka yang menyerang dari kelompok garis keras yang selama ini tidak suka Jokowi jadi presiden. Atau kelompok lain yang tidak ingin Jokowi datang ke Papua," tegasnya.

Keterangan polisi

Kepolisian Daerah (Polda) Papua mengonfirmasi penyerangan di Polsek Sinak tersebut.

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw kepada para wartawan, Senin mengakui, penyerangan terjadi sekitar Minggu malam pukul 20.45 WIT.  Pelaku penyerangan juga mengambil tujuh pucuk senjata api dan amunisi.

Kapolda Papua telah pergi di Sinak bersama Bupati Puncak Jaya Willem Wandik dan sejumlah pejabat lingkungan Polda Papua, untuk melihat situasi paska penyerangan tersebut.

Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Patrige Renwarin mengatakan, tiga pleton Brimob Timika, Jayapura dan Puncak Jaya telah dikerahkan bersama anggota Timsus Polda untuk mengejar dan menangkap pelaku penyerangan.

Renwarin menambahkan, Polda Papua telah mengirimkan tim untuk memastikan kelompok penyerang dan mencari keterangan dari sejumlah saksi di lokasi. Sejauh ini, polisi belum mengetahui siapa pelaku penyerangan dan apa motif di balik aksi kelompok bersenjata tersebut.

Dia memastikan, penyerangan itu tak ada kaitannya dengan rencana kedatangan Jokowi ke Papua dalam waktu dekat.

Renwarin menjelaskan, penyerangan itu berawal ketika lima polisi di Polsek Sinak sedang berada di ruang penjagaan menonton TV. Mereka tak menyadari, salah satu tenaga bantuan berinisial DK, yang sudah bekerja sekitar empat tahun di Polsek itu, diam-diam membuka pintu belakang. Lalu, kelompok penyerang masuk dan langsung ke ruang penjagaan kemudian melepaskan tembakan.

"Tembakan pertama mengenai tangan Birpda Rian. Ia berusaha melarikan diri lewat ruangan Kapolsek dengan melompat melalui jendela dan lari ke Koramil. Rekannya, Bripda Dumafa, juga melarikan diri. Ia sempat menabrak 15 orang kelompok penyerangan di depannya. Namun ia berhasil menyelamatkan diri ke Koramil," jelas Renwarin.

Dia menambahkan bahwa identitas ketiga korban tewas dengan luka tembak adalah Bripda Ilham, Briptu Muhamad Rasyid Ridho Matdoan dan Bripda Muhamad Armansyah.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya