Terungkap, 4 Penerbangan Terakhir Lion Air Bermasalah

Keluarga korban apresiasi kinerja berbagai pihak, namun kecam Lion Air yang dinilai lalai dalam pencegahan dan penanganan musibah.
Tria Dianti
Jakarta
2018-11-05
Share
181105)_ID_LionAir_1000.jpg Seorang kerabat dari korban Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, berbicara dalam konferensi pers antara keluarga korban dan pemerintah serta perwakilan Lion Air, di Jakarta, Senin, 5 November 2018.
AP

Diperbarui pada Jumat, 9 November 2018, 21:00 WIB.

Pihak berwenang melaporkan bahwa pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, telah mengalami masalah dalam empat penerbangan terakhirnya, sementara para keluarga korban menuntut tanggung jawab maskapai penerbangan itu atas musibah yang merenggut keseluruhan 189 orang yang ada di dalam pesawat naas itu.

"Ada empat penerbangan terakhir ditemukan kerusakan pada alat penunjuk kecepatan di pesawat (airspeed indicator)," kata Kepala Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, dalam jumpa pers, Senin, 5 November 2018, di Jakarta.

Keempat penerbangan itu adalah JT-776 tujuan Denpasar - Manado yang dijadwalkan terbang pada 27 Oktober 2018 pukul 09.55 WITA molor menjadi 14.34 WITA. Kemudian JT-775 tujuan Manado - Denpasar pada 28 Oktober pukul 18.40 WITA molor menjadi pukul 19.51 WITA.

Selanjutnya, JT-43 rute Denpasar - Jakarta pada 28 Oktober yang menurut rencana terbang pukul 19.30 WITA menjadi pukul 22.21 WITA dan terakhir yaitu JT-610 rute Jakarta - Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018.

"KNKT tidak pernah menduga-duga. Kami bicara fakta dan kami akui saat penerbangan Denpasar - Jakarta ada masalah teknis. Kemudian begitu black box ditemukan masalah teknis tersebut adalah kerusakan airspeed indicator," jelas Soerjanto.

Foto tertanggal 5 November 2018 ini memperlihatkan bagian dari roda pendaratan pesawat Lion Air JT-610 yang berhasil diangkat dari bawah laut perairan Karawang 5 November 2018.
Foto tertanggal 5 November 2018 ini memperlihatkan bagian dari roda pendaratan pesawat Lion Air JT-610 yang berhasil diangkat dari bawah laut perairan Karawang 5 November 2018.
AFP

Tuntutan keluarga korban

Konferensi pers yang dihadiri oleh ratusan anggota keluarga korban dan utusan pemerintah serta pemilik Lion Air, Rusdi Kirana, menjadi media tumpahan kekecewaan keluarga korban yang menilai Lion Air tidak berusaha mencegah dan menangani musibah itu dengan baik.

"Apakah informasi tersebut benar atau tidak bahwa pesawat sudah trouble sejak dari Denpasar - Jakarta. Apakah perbaikan sudah clear," kata Muhammad Bambang Sukandar, ayah Pangky Pradana Sukandar – salah seorang korban.

Ia menuntut tanggung jawab Lion Air yang seolah menganggap hal sepele padahal itu menyangkut nyawa ratusan orang.

"Mereka harus bertanggung jawab dan hukum mutlak karena menyatakan pesawat clear untuk take off. Kami mohon agar diproses hukum," katanya.

Sehari setelah jatuhnya pesawat naas itu, Edward Sirait, CEO Lion Air, mengakui bahwa terdapat masalah dengan pesawat itu dalam penerbangan sebelumnya, namun ia mengklaim bahwa masalahnya telah diperbaiki.

Dodi Widodo, ayah Shandy Johan Ramadhan, seorang jaksa pada Kejari Pangkal Pinang yang juga menjadi korban, menyatakan kekecewaannya pada Lion Air.

"Apresiasi saya berikan kepada semua pihak tapi tidak untuk Lion Air," kata Dodi sambil menahan tangis.

Ia mempertanyakan pihak Lion Air yang ingin membuat crisis communication, tapi tidak ada kejelasannya.

"Jangankan berempati, pihak Lion menelpon pun tidak. Kalau hanya uang santunan, itu kewajiban. Tapi sekarang keluarga butuh dirangkul, butuh diperhatikan, kami kehilangan anak kami terkasih bukan barang yang dibuang ke laut, tapi tidak ada empati dari Lion Air," katanya.

Minggu lalu perwakilan Lion Air mengatakan akan menyantuni setiap keluarga korban sebesar Rp1,25 miliar per penumpang.

"Seharusnya Lion Air kena penalti sejak dulu, proses hukum jangan dianggap selesai saat santunan diberikan atau saat KNKT merilis penyebab, kami ingin mewakili sampai akhir proses hukumnya," kata Dodi.

Rusdi Kirana yang menjadi perwakilan Lion Air tidak memberikan tanggapan apa-apa dalam konfrensi pers yang dipimpin oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

Kecepatan tinggi

KNKT mengatakan pesawat terindikasi terjatuh ke perairan dalam kecepatan tinggi.

"Di sini serpihan ditemukan dalam bentuk kecil yang berarti menghantam air dalam kecepatan tinggi, energi yang dilepas sangat luar biasa," papar Soerjanto.

Ia menambahkan pesawat tak meledak di udara, karena titik ditemukan serpihan dalam luasan 500 meter dari titik jatuh.

"Serpihan itu menandakan pesawat pecah saat menghantam air, dan ketika menyentuh air utuh. Mesin yang ditemukan juga menandakan saat mesin menyentuh air dalam bentuk hidup dengan putaran cukup tinggi," katanya.

Soerjanto mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 200 pesawat Boeing 737 Max 8 telah beroperasi di seluruh dunia sehingga investigasi KNKT yang juga dibantu pihak Boeing akan jadi rujukan perbaikan ke depan.

27 korban teridentifikasi

Ketua tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri, Lisda Cancer, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi tambahan 13 bagian tubuh jenazah penumpang pesawat Lion Air sehingga sejauh ini total 27 korban telah teridentifikasi untuk selanjutkan diserahkan kepada keluarga.

Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes, Kombes Putut Cahyo Widodo, mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapat sebanyak 429 bagian tubuh korban untuk diperiksa.

"Dari 137 kantong jenazah isinya bagian tubuh, semua kita ambil," katanya.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi tidak kuasa menahan air matanya saat merespons permohonan keluarga untuk terus melakukan pencarian maksimal.

"Kami bukan manusia super dan bukan manusia sempurna. Saya di lapangan, di laut saya tidak pernah menyerah, mudah-mudahan dengan waktu yang ada kami tetap all out," ujarnya, seraya menambahkan proses evakuasi diperpanjang hingga tiga hari ke depan.

Sementara itu seorang penyelam yang ikut dalam pencarian pesawat Lion Air itu, Syahrul Anto, meninggal dunia saat melakukan penyelaman pada Jumat, 2 November 2018.

"Korban penyelam dari sipil di bawah Basarnas," kata Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Laut Isswarto, seperti dikutip di Tempo.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya akan melakukan audit khusus terhadap Lion Air.

"Akan kirim auditor berkaitan dengan upaya memberikan layanan terbaik. Kami juga berusaha mendapatkan alternatif dan berupaya agar Lion melakukan improvement yang diharapkan," katanya.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. Pramintohadi Sukarno mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 78 pesawat milik tujuh masakapai yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, Wings Air dan Airasia.

Dalam versi yang diperbarui ini, ayah dari Shandy Johan Ramadhan yang semula ditulis Najib Furqoni, telah diralat menjadi Dodi Widodo.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya