Follow us

Mahathir Katakan Tidak Mengetahui Perihal Negosiasi Pembebasan Siti Aisyah

Terdakwa asal Vietnam memohon agar Malaysia juga menarik dakwaan terhadapnya dengan alasan yang sama seperti Aisyah.
Staf BeritaBenar
Kuala Lumpur
2019-03-12
Email
Komentar
Share
Presiden Joko “Jokowi” Widodo mendampingi Siti Aisyah dan keluarganya setelah pertemuan mereka di Istana Kepresidenan Jakarta, 12 Maret 2019.
Presiden Joko “Jokowi” Widodo mendampingi Siti Aisyah dan keluarganya setelah pertemuan mereka di Istana Kepresidenan Jakarta, 12 Maret 2019.
AFP

Sehari setelah Siti Aisyah yang merupakan salah satu dari dua perempuan yang diadili atas kasus pembunuhan saudara tiri diktator Korea Utara pada tahun 2017 melangkah bebas, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada hari Selasa mengatakan ia tidak mengetahui adanya negosiasi dengan pemerintah Indonesia yang menyebabkan pembebasan Aisyah.

Di Jakarta, Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyambut Siti Aisyah dan orangtuanya di Istana Kepresidenan dan memuji segala upaya yang berujung pada pembebasan perempuan asal Serang, Banten tersebut.

Sementara itu  terdakwa satunya lagi, Doan Thi Huong, seorang perempuan asal Vietnam, masih harus melanjutkan persidangannya. Ayahnya, Doan Van Thanh, di Vietnam mengatakan dia meminta pemerintah Vietnam agar mengusahakan pembebasan putrinya juga.

Kedua perempuan tersebut didakwa membunuh Kim Jong Nam, saudara tiri yang diasingkan dari diktator Korea Utara, Kim Jong Un, dalam serangan menggunakan zat kimia di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 pada 13 Februari 2017. Aisyah dan Doan dituduh menggunakan agen saraf VX, untuk membunuh Jong Nam.

Ditanya pada hari Selasa apakah negosiasi dengan Indonesia membantu pembebasan Aisyah, Mahathir mengatakan kepada wartawan, "Saya tidak memiliki informasi seperti itu."

“Saya tidak tahu detailnya. ... Tapi dari apa yang saya mengerti, Pengadilan dapat menarik tuduhan itu,” katanya. "Ada proses di dalam hukum bahwa seseorang dapat menarik tuduhan dan itulah yang dilakukan."

Pada hari Senin, Jaksa Agung Malaysia Tommy Thomas merilis kepada publik suratnya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Yasonna H. Laoly, tentang pembebasan Aisyah, dan mengatakan keputusan tersebut diambil dengan “memperhitungkan hubungan baik kedua negara.”

Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur menggambarkan pembebasan Aisyah sebagai puncak dari upaya diplomatik yang diarahkan oleh Presiden Jokowi, yang saat ini berjuang untuk memenangkan masa jabatan kedua dalam Pemilihan Presiden yang dijadwalkan 17 April.

Ketika menyampaikan penghargaan kepada Malaysia atas pembebasan Aisyah, Rusdi Kirana, Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, mengatakan kepada wartawan bahwa Presiden Jokowi telah berbicara dengan PM Mahathir tentang pembebasan Aisyah dari penjara Malaysia dalam pertemuan mereka tahun lalu di Istana Bogor, Indonesia.

Selain itu, Menteri Yasonna Laoly yang menyambut Aisyah di bandara pada hari Senin, membahas berbagai upaya untuk membebaskan Aisyah dari penjara Malaysia.

“Atas perintah Presiden, Kapolri, Jaksa Agung dan pejabat lainnya bekerja sama untuk menemukan cara membebaskannya dan berkomunikasi dengan baik dengan pemerintahan sebelumnya yaitu Perdana Menteri Najib Razak serta pemerintah Perdana Menteri Mahathir Mohamad,” kata Yasonna.

Setelah bertemu dengan Aisyah dan keluarganya, di hadapan wartawan Jokowi menyatakan kegembiraannya atas bebasnya Aisyah.

“Ini adalah wujud kepedulian pemerintah terhadap warganya,” kata Jokowi, “dan kemarin, pemerintah diwakili oleh Menteri Luar Negeri secara resmi telah menyerahkan Siti Aisyah kembali kepada keluarganya.”

Ia juga menyampaikan percakapan dengan keluarga Aisyah.

“Saya mengatakan kepada mereka, Siti mungkin berada di rumah saja untuk sementara waktu, sampai nantinya agak tenang dan bisa merencanakan kehidupan yang baik," kata Jokowi.

 

Upaya pembebasan Doan

Di Vietnam, Doan Van Thanh, ayah Doan Thi Huong mengatakan dia berharap pemerintah Vietnam akan mendorong upaya pembebasan putrinya.

"Untuk saat ini, saya berharap Huong akan dibebaskan dan pulang, tetapi saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Malaysia," katanya kepada Divisi Vietnam di Radio Free Asia (RFA), media yang memiliki afiliasi yang sama dengan BeritaBenar. "Saya berharap pemerintah Vietnam membantu membuktikan Huong tidak bersalah dan membebaskannya."

Seorang pejabat pemerintah pada hari Selasa mengumumkan bahwa dia telah menghubungi rekannya dari Malaysia dalam upaya untuk membebaskan Doan.

Menteri Luar Negeri Vietnam Pham Binh Minh mengumumkan bahwa ia berbicara dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah.

Doan berada di pengadilan pada hari Senin ketika jaksa mengumumkan bahwa mereka menarik dakwaan atas Aisyah.

"Saya terkejut dan saya berharap untuk dibebaskan juga," kata Doan saat istirahat pengadilan. Dia telah dijadwalkan untuk menjadi saksi, tetapi hanya membaca tiga kalimat sebelum pengacara menghentikan kesaksiannya.

“Mewakili Doan, kami akan meminta (Jaksa Agung) untuk meninjau kembali kasusnya agar dakwaan terhadapnya juga ditarik dengan alasan yang sama dengan Siti Aisyah. Kami akan membuat permohonan hari ini,”kata pengacara Doan, Hisyam Teh Poh Teik pada saat itu.

Hakim Azmi Ariffin, yang memutuskan Aisyah bebas, mengatakan bahwa pembebasan Aisyah bukan pembebasan penuh. Ini berarti Aisyah bisa dituntut lagi nanti jika ditemukan bukti baru dalam kasus ini. Hakim Azmi mengatakan dia "enggan" untuk memberikan petisi atas nama Doan.

Dia mengatakan persidangan Doan akan dilanjutkan pada hari Kamis pukul 10:00 waktu setempat jika Jaksa Agung menolak permohonan tim pembelanya.

Radzi Razak di Kuala Lumpur turut berkontribusi dalam laporan ini.

Tampilan selengkapnya