Manusia Tertua di Dunia: Saya Hanya Ingin Mati

Kusumasari Ayuningtyas
Sragen
2016-08-30
Share
160830_ID_Ghoto_1000.jpg Mbah Gotho memperlihatkan KTP miliknya saat ditemui di rumahnya di Desa Cemeng, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, 30 Agustus 2016.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

“Hidup begitu singkat untuk dinikmati” tak berlaku bagi Sodimejo yang akrab disapa Mbah Gotho. Bagi pria di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, hidup terasa begitu panjang dan kematian menjadi satu-satunya yang dia tunggu sejak 24 tahun lalu.

Kini, dia hanya mengandalkan kesabaran yang masih dimilikinya sambil menunggu akhir kehidupan di dunia fana ini. “Saya hanya ingin mati,” ujarnya saat ditemui BeritaBenar di rumahnya di Dukuh Segeran, Desa Cemeng, Kecamatan Sambung Macan, Selasa, 30 Agustus 2016.

Berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dimilikinya, Mbah Gotho lahir tanggal 31 Desember 1870. Pada usia menjelang 146 tahun, Mbah Gotho tak banyak lagi beraktivitas karena tubuhnya yang renta. Dia lebih banyak duduk dan tiduran.

Jika tanggal lahir di KTP benar, Mbah Gotho menjadi manusia tertua di dunia. Itu artinya dia mengalahkan rekor Jeanne Calment berusia 122 tahun yang dicatat sebagai manusia tertua. Perempuan asal Perancis itu meninggal pada 1997.

Mbah Gotho masih bisa tertatih dengan bantuan tongkat rotan, tanpa memakai alas kaki. Biasanya, ia hanya berjalan di sekeliling rumahnya. Sehari-hari, Mbah Gotho jarang mengenakan baju. Dia lebih senang memakai celana selutut.

Mbah Gotho tak ingat lagi jumlah keluarga garis keturunannya yang masih hidup. Yang jelas seorang cucu dari anak keduanya dengan istri keempat tetap setia merawat Mbah Gotho. Di rumah sederhana berlantai tanah itu, juga tinggal istri cucu dan dua cicitnya.

"Memang sudah kesulitan bergerak, jadi harus selalu ada yang menunggu sekadar untuk membantu si Mbah," tutur Suryanto (46), cucu Mbah Gotho.

Tahun 1993, Mbah Gotho pernah meminta anaknya untuk membelikan batu nisan dan mempersiapkan makamnya. Tapi sampai semua anaknya yang berjumlah lima orang meninggal dunia, ajal belum juga menghampiri. Anaknya yang terakhir meninggal tahun 1993, sementara istri keempatnya meninggal dunia pada 1997. Batu nisan itu kini masih disimpan di samping rumahnya.

Mbah Gotho berjalan keluar rumahnya. (Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar)

Masa muda

Pada masa mudanya, Mbah Gotho bekerja sebagai petani dan pencari ikan di Bengawan Solo. Tidak diketahui pasti bagaimana riwayat 17 cucu Mbah Gontho dari tiga istri lain. Hanya diketahui kalau dari keempat istri yang pernah dinikahinya dia hanya punya lima orang anak.

"Tiga orang anaknya dari istri keempat, termasuk ibu saya. Sedangkan dua lainnya saya tidak tahu dari istri yang mana," jelas Suryanto.

Setelah kematian istri keempat, Mbah Gotho tidak mau menikah lagi karena sudah berusia 127 tahun.

Tetapi jika diajak bercanda dan ditanya apa masih mau nikah lagi, Mbah Gontho selalu menjawab, "Iya gampang, sebentar lagi." Lalu, terkekeh.

Terlahir hampir 1,5 abad lalu, Mbah Gotho menjadi saksi hidup dua masa penjajahan di Indonesia. Meski tidak begitu jelas, dia terkadang mencoba bertutur demi menceritakan serpihan-serpihan ingatannya pada masa-masa sebelum kemerdekaan.

Suryanto yang tinggal bersama Mbah Gotho di rumah masa kecil kakeknya juga tak jelas masa lalu sang kakek. Selain keberadaan para cucu Mbah Gontho tak diketahui, Suryanto lahir saat kakeknya sudah berusia 100 tahun dengan kondisi tak jauh seperti sekarang.

"Saya masih anak-anak ketika usia si Mbah sudah seratus tahun lebih. Saya paling tahu sedikit-sedikit soal dia dari cerita ibu saya," tutur Suryanto.

Dia mengaku heran kenapa kakeknya bisa berumur panjang. Meski sudah renta, Mbah Gotho selalu merokok dan sehari bisa menghabiskan lebih dari sebungkus rokok.

Tangannya memang tak lagi kuat memegang sendok dan menyuap makanan ke mulut, tapi anehnya kalau memegang rokok dia bisa dan merokok tanpa kesulitan.

"Si Mbah juga masih suka mandi air hujan," tutur Suryanto.

Mbah Gotho bersama cucunya, Suryanto. (Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar)

Ingin mati tahun ini

Tidak ada lagi yang diinginkan Mbah Gotho selain menanti datangnya ajal. Dia berharap tahun ini adalah tahun terakhir hidupnya. Dia merasa sudah tidak punya tugas lagi yang harus ditunaikan di dunia.

"Apa data-dataku hilang di sana?" celetuk Mbah Gotho sambil menunjuk ke langit.

Menurut Suryanto, sejak dia merawat Mbah Gotho tahun 1993 tidak pernah sekalipun kakeknya sakit keras. Masuk angin pun sangat jarang bahkan belum tentu setahun sekali padahal sering bertelanjang dada. Bila masuk angin cukup dikeroki saja. Dua tiga hari sudah sembuh.

"Suntik sama sekali tidak pernah, padahal suka minum es, main hujan, sama merokok. Tapi batuk saja nggak pernah," tutur Suryanto.

Mbah Gotho terus berharap kematian segera datang menjemput. Semua temannya, istri, dan anak-anaknya sudah lama meninggal dunia.

"Sudah bosan. Bosan, sudah tidak bisa apa-apa. Jalan ke situ saja tidak bisa," ujar Mbah Gotho menunjuk jalan di depan rumahnya.

Kepala Kantor Arsip dan Dokumentasi Sragen, Heru Wahyudi, pernah menanyai Mbah Gotho untuk mengkonfirmasi tentang umurnya.

"Sepertinya memang benar, karena dia bisa bercerita tentang pembangunan Pabrik Gula Mojo, Sragen. Katanya dia berumur 10 tahun waktu pabrik itu dibangun," ujar Heru.

Pabrik itu memang dibangun tahun 1883.

Ketika ditanya apa rahasia berumur panjang, Mbah Gotho hanya menjawab, “Sabar.”

Komentar (0)

Tunjukkan semua komentar.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya