Follow us

Menantu Santoso Disebut Bergabung dengan MIT

Kapolri menyebutkan sepanjang tahun 2019, aparat Densus 88 telah menangkap 275 tersangka terorisme.
Keisyah Aprilia, Rina Chadijah & Gunawan
Palu, Jakarta & Samarinda
2019-11-20
Email
Komentar
Share
Seorang anggota Brimob berdiri di depan pos penjagaan Markas Polda Sulawesi Tengah di Palu, 20 November 2019.
Seorang anggota Brimob berdiri di depan pos penjagaan Markas Polda Sulawesi Tengah di Palu, 20 November 2019.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) meyakini menantu almarhum Santoso, militan yang semasa hidupnya memimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT), telah bergabung dengan kelompok bersenjata tersebut, sementara itu Kapolri Jenderal Idham Azis mengungkapkan terorisme dalam tahun ini menurun dibandingkan pada 2018.

“Berdasarkan laporan intelijen merupakan menantu Santoso. Yang pasti Hairul itu menantu dari Santoso,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Didik Supranoto, kepada wartawan di Palu, Rabu, 20 November 2019.

Santoso alias Abu Wardah tewas dalam baku tembak dengan pasukan TNI di pedalaman Kabupaten Poso, pada 18 Juli 2016.

“Nah, pengikut yang baru gabung itu adalah Hairul alias Irul,” tambah Didik.

Menurutnya, Hairul yang disebut sebagai suami Wardah cukup berpengaruh dalam MIT meski baru bergabung tahun lalu karena memiliki kemampuan berperang dan pandai merakit bom.

“Beberapa bom rakitan yang sebelumnya disita petugas itu hasil buah tangan Hairul. Kita belum tahu juga apakah dia pernah belajar atau tidak dengan Santoso,” ujar Didik, seraya menyebut, Hairul telah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Selain Hairul, polisi juga memburu sembilan pengikut MIT lain yaitu Ali Kalora alias Ahmad Ali yang saat ini memimpin MIT, Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Jaid alias Pak Guru, Galu alias Nae alias Mukhlas, Abu Alim alias Ambo, Moh Faisal alias Namnung, Rajif Gandi Sabban alias Rajes, Alvin alias Adam alias Mus’Ab, dan Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama.

Dijelaskan bahwa Qatar, Askar, Galu, dan Abu Alim yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan mantan Mujahidin Indonesia Barat (MIB) dan bergabung dengan MIT pada 2012.

Sedangkan Rajif adalah pengikut MIT asal Ambon serta Alvin, Faisal dan Jaka diketahui berasal dari Banten yang bergabung pada 2015 setelah mendengar ajakan melalui video yang pernah diupload di laman YouTube.

Kapolda Sulteng Brigjen. Lukman Wahyu Hariyanto menyatakan pemburuan pengikut MIT lewat Operasi Tinombala masih berlanjut hingga 31 Desember 2019, dengan melibatkan lebih 600 personel gabungan TNI/Polri.

Operasi itu digelar untuk mempersempit ruang gerak kelompok itu di hutan dan pegunungan Poso, terutama memblokade jalur logistik mereka.

Operasi Tinombala dibentuk pada Januari 2016 dengan tujuan untuk memberangus MIT. Operasi ini merupakan perpanjangan dari operasi yang dilakukan setahun sebelumnya di bawah nama sandi Camar Maleo.

Santoso adalah militan Indonesia pertama yang secara terbuka berbaiat kepada ISIS. Pelatihan paramiliternya berhasil menarik militan tidak hanya dari luar Sulawesi tapi juga dari luar negeri, termasuk setidaknya enam orang etnis Uighur.

Pada masa kepemimpinannya, setidaknya tiga petani non-Muslim tewas dipenggal kepalanya oleh MIT, demikian laporan polisi.

Polisi menggeledah rumah seorang terduga teroris yang ditangkap di Samarinda, Kalimantan Timur, 19 November 2019. (Gunawan/BeritaBenar)
Polisi menggeledah rumah seorang terduga teroris yang ditangkap di Samarinda, Kalimantan Timur, 19 November 2019. (Gunawan/BeritaBenar)

Kasus terorisme menurun

Di Jakarta, Kapolri mengklaim kasus terorisme di Indonesia menurun dibanding tahun lalu yang berjumlah 19, dibandingkan tahun ini yang hingga November tercatat delapan kasus.

“Jumlah aksi teror menurun 57 persen dibandingkan tahun lalu,” kata Idham, dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, di Gedung DPR, Jakarta.

Dia merinci, sepanjang tahun 2019, Polri telah menangkap 275 tersangka kasus terorisme. Dari jumlah itu, tiga tewas, dua orang telah dihukum penjara, 42 sedang menjalani persidangan dan sisanya masih dalam proses penyidikan.

Kapolri menambahkan, dua kasus terorisme yang menonjol tahun ini adalah penusukan mantan Menteri Politik Hukum dan Keamanan Wiranto pada 10 Oktober 2019, dan kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, 13 November 2019 lalu, yang menewaskan pelakunya dan melukai enam orang lainnya.

Sebanyak 74 terduga teroris telah ditangkap menyusul aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.

Idham memastikan dua kasus itu direncanakan dan terkait dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

“Pelaku terpapar paham radikal dan terorisme lewat media sosial, serta bertujuan menyerang pemerintah dan aparat karena dianggap sebagai ‘thagut’,” katanya.

 

Tiga ditangkap

Sementara itu, Densus 88 dilaporkan membekuk tiga terduga teroris di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa lalu.

Informasi yang dikumpulkan dari warga setempat, mereka yang dibawa polisi adalah Ismail, Furqon, dan La Olani.

Ismail ditangkap di kontrakannya di Kelurahan Teluk Lerong.

Didin, Ketua RT setempat, mengatakan Ismail yang berasal dari Nusa Tenggara jarang bergaul dengan warga sekitar.

“Sempat lapor ke RT, dia ini sikapnya sedikit tertutup,” jelas Didin.

Sedangkan Furqon ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sambutan.

Pemilik kontrakan, Marzuki, mengatakan pria asli Nusa Tenggara itu gampang bergaul dengan warga dan memiliki pengetahuan tentang agama Islam.

“Orangnya baik saja, seperti orang kebanyakan, tempat kami bertanya agama,” katanya.

“Rajin beribadah dan taat. Memang penampilannya berjenggot dan celana cingkrang, tapi tidak mungkin dia seorang teroris, saya yakin itu,” ujar M. Rizwan, warga setempat.

Sedangkan, La Olani ditangkap di Kelurahan Selili.

Polisi setempat belum bersedia menjelaskan alasan penangkapan ketiganya.

"Silakan tanya ke Densus Mabes Polri," kata Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Ade Yaya Suryana.

Tampilan selengkapnya