Mencegah Masjid Menjadi Lahan Penyebaran Radikalisme

Sejumlah napi terorisme mengakui terpapar paham radikal melalui kajian di masjid.
Eko Widianto
Malang
2017-12-01
Share
171201_ID_mosque_620.jpg Foto tertanggal 30 November 2017 ini memperlihatkan Masjid Sulaiman Al Hunaishil Dusun Sempu, Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang ditengarai sebagai tempat penyebaran paham radikal.
Eko Widianto/BeritaBenar

Sejumlah masjid di Jawa Timur ditengarai menjadi pusat penyebaran radikalisme dan upaya terus dilakukan untuk menyelamatkan tempat suci umat Islam tersebut dari pengaruh paham radikal dan terorisme.

Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Soubar Isman, menyebutkan tiga masjid sempat menjadi pusat penyebaran radikalisme, yaitu masjid Sulaiman Al Hunaishil  di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Malang, sebuah masjid di dalam kampus perguruan tinggi negeri di Malang dan sebuah masjid di Blitar.

“Sekarang ketiga masjid telah dikuasai kembali oleh kelompok moderat,” kata Soubar, kepada BeritaBenar, Jumat 1 Desember 2017.

Masjid Sulaiman Al Hunaishil bahkan menurut dia, digunakan untuk membaiat sekitar 500 jamaah untuk mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 20 Juli 2014. Masjid tersebut dikendalikan Muhammad Romly, yang belakangan terlibat dalam jaringan bom Thamrin Jakarta, Januari 2016. Romly ditangkap Detasemen Khusus (Densus) antiteror 88 bersama enam pelaku lain pada 19 Februari 2016.

Romly mengatakan terpengaruh ceramah dan kajian agama yang diselenggarakan Salim Mubarok At-tamimi alias Abu Jandal, seorang militant yang bersama keluarganya bergabung dengan ISIS di Suriah. Ia juga yang mendanai dan mengajak sejumlah warga Malang bergabung dengan kelompok ekstremis tersebut di Suriah. Abu Jandal terbunuh dalam pertempuran dengan militer Irak di Mosul, Irak pada 8 November 2016.

FKPT Jawa Timur juga mendeteksi paham radikalisme tersebar di Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Magetan, Madiun dan Sampang.

Potensial berkembang

150 takmir masjid di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi peserta dalam forum diskusi pengaruh radikalisme dan terorisme yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Malang, Jawa Timur, 30 November, 2017. (Eko Widianto/BeritaBenar).
150 takmir masjid di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi peserta dalam forum diskusi pengaruh radikalisme dan terorisme yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Malang, Jawa Timur, 30 November, 2017. (Eko Widianto/BeritaBenar).

Kajian FKPT Jawa Timur 2016 menyebutkan jika Jawa Timur masih menjadi daerah potensial penyebaran paham radikal dan terorisme. Untuk mencegah dan menangkal radikalisme di masjid, FKPT dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng takmir masjid.

Sebanyak 150 takmir masjid di Malang dikumpulkan pada Kamis, 30 November 2017 dalam forum bertema "Jaga Masjid Kita dari Pengaruh Radikalisme dan Terorisme".

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Malang, Taufiq Kusuma, menyambut positif pembekalan yang diberikan oleh BNPT itu. “Agar para takmir memahami metode dan paham radikalisme dan terorisme di dalam masjid. Ini juga bagian dari introspeksi pengelolaan dan manajemen masjid,” katanya.

FKPT mencatat radikalisme masjid terjadi sejak pimpinan pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo, Abu Bakar Ba’ayir, melakukan road show sebanyak 65 kali disejumlah masjid di Jawa Timur pada medio 2009.

FKUB menyebutkan, lima masjid di Malang juga menjadi tempat berdakwah paham radikalisme. Kelima masjid ini berada di lingkungan kampus dan kos mahasiswa.

Ketua Dewan Dakwah Masjid Indonesia Kabupaten Malang, Imam Sibaweh, telah mengeluarkan surat edaran larangan penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Surat edaran itu disebar di 2.325 masjid dan 13 ribu musala. “Takmir harus rajin membuat kegiatan terutama menangkal radikalisme,” katanya.

Menyasar kaum muda

Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal Hamli, mengingatkan masjid di kampus berpotensi digunakan menyebar paham radikal. BNPT menganalisis sejumlah perguruan tinggi negeri menjadi tempat rekruitmen jaringan teroris.

Menurutnya pola rekruitmen ini berlangsung sejak tiga tahun lalu. “Bahrun Naim banyak merekrut mahasiswa. Keterampilannya semakin tinggi, bahkan menggunakan bom berbahan radioaktif,” katanya.

Jaringan terorisme, katanya, menggunakan kesempatan dan celah yang ada. Terutama memasuki masjid di kampus dan perumahan. Jika sudah menguasai fisik masjid, mereka akan menyebarkan ideologi. “Takmir masjid di kampus harus mengetahui ada serangan paham radikalisme. Jaga takmir, jaga khatib dan jamaah.”

Menurut data BNPT sebanyak 1.200 warga Indonesia bergabung dengan ISIS di Suriah. Mereka bisa sewaktu-waktu kembali dan khawatir akan melakukan aksi terorisme di tanah air. “Terorisme itu kriminal, orang jahat. Terorisme bukan Islam, Islam bukan terorisme,” ujar Hamli.

Bekas narapidana terorisme, Kurnia Widodo, mengakui jika masjid menjadi tempat potensial untuk mengembangkan paham radikalisme. Alumni Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, mengaku terpapar paham radikal melalui kajian agama di masjid.

Kurnia sempat bergabung dengan jaringan Al-Qaeda di Afghanistan dan terlibat teror di Hotel Marriot, Kuningan, dan Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta pada 2003 silam.

“Saya membuat bom di masjid,” katanya Kurnia, yang kini ikut membantu BNPT dalam kampanye anti radikalisme.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya