2 Militan Bersenjata dan 1 TNI Tewas dalam Baku Tembak di Poso

Tinombala diganti dengan Operasi Madago Raya, tetap bertujuan tumpaskan MIT dengan pendekatan berbeda.
Keisyah Aprilia
Palu
2021-03-02
Share
2 Militan Bersenjata dan 1 TNI Tewas dalam Baku Tembak di Poso Kapolda Sulteng, Irjen. Pol. Abdul Rakhman Baso didampingi Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf (kanan) memperlihatkan foto dua anggota Mujahidin Indonesia Timur yakni Khairul atau Aslam (25), dan Alvin, alias Adam alias Mus’ab (27) yang masuk ke dalam daftar pencarian orang kasus terorisme di RS Bhayangkara Polda Sulteng di Palu, 2 Maret 2021.
Wahono/BenarNews

Dua anggota kelompok militan bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang masuk dalam daftar buronan polisi dan satu prajurit TNI tewas dalam baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah, kata polisi Selasa (2/3).

Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatkan baku tembak yang terjadi pada Senin sore di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara itu terjadi antara anggota MIT dan satuan TNI-polisi yang tergabung dalam Operasi Madago Raya, perpanjangan dari Tinombala, yang bertujuan untuk menumpas kelompok MIT yang bertanggung jawab terhadap sejumlah kekerasan dan pembunuhan di Poso dan sekitarnya.

Dengan tewasnya kedua personel MIT atas nama Khairul atau Aslam (25), dan Alvin, alias Adam alias Mus’ab (27) tersebut, anggota kelompok militan yang telah berbaiat kepada ISIS tersebut tinggal sembilan orang, demikian menurut Rakhman.

“Irul (Khairul) tewas setelah bom yang ia bawa dibadannya meledak, makanya ada luka bakar di beberapa bagian tubuh. Sementara Alvin terkena tembakan di bagian kepala,” ujar Rakhman kapada jurnalis seusai melihat jenazah mereka di RS Bhayangkara Polda Sulteng di Palu, Selasa. 

Rakhman mengatakan Alvin berasal dari Banten sedangkan Irul berasal dari Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Berdasarkan data yang dimiliki Polda Sulteng, Irul merupakan anak dari Santoso, pimpinan tertinggi MIT yang tewas dalam pengejaran aparat tahun 2016. 

Sedangkan seorang prajurit TNI AD yang tewas adalah Praka Dedi Irawan, seorang anggota Satgas Madago Raya. Jenazah Dedi, lanjut Rakhman, telah diterbangkan ke Jakarta untuk kemudian dimakamkan di kampung halamannnya di Pekanbaru. 

Rencanakan serangan

Sebelum terjadi baku tembak, petugas menerima laporan bahwa kelompok MIT yang berjumlah empat orang dan dipimpin langsung oleh Ali Kalora hendak melaksanakan aksi kekerasan kepada warga di wilayah Desa Tambarana, kata Rakhman. 

Anggota satgas menyergap empat anggota MIT yang satu di antaranya adalaha Ali Kalora di Pegunungan Abdole, memicu baku tembak yang berlangsung sekitar 30 menit, ujarnya. 

“Laporan dari lapangan, setelah dua anggota MIT tertembak dan tewas di tempat, dua anggota MIT lainnya melarikan diri,” ungkap Rakhman. 

Dari lokasi, petugas menyita peluru 11 butir, sejumlah selonsong peluru, golok, GPS dan lainnya, papar Rakhman. 

Saat ini pengejaran di seputaran tempat kejadian masih dilakukan, kata Rakhman, sambil menambahkan bahwa kekuatan MIT sudah semakin melemah dengan jumlah sembilan orang. 

Pada awal berdirinya, di bawah kepemimpinan Santoso, anggota MIT sempat mencapai 40-an orang termasuk militan Muslim dari Uighur. Sejak tewasnya Santoso di tangan Satgas Tinombala pada Juli 2016, jumlah anggotanya terus berkurang, namun tidak pernah tuntas habis, walaupun operasi penumpasan mereka terus diperpanjang dengan mengerahkan ratusan angota TNI-polisi.

“Sekarang mereka terbagi dua kelompok. Di mana, kelompok pertama dipimpin Ali Kalora bersama satu anggotanya dan kelompok kedua dipimpin Pak Guru bersama enam orang anggotanya. Jadi jumlah mereka tinggal sembilan orang,” tegas Rakhman. 

Pak Guru adalah nama alias dari anggota MIT bernama Askar, yang juga dikenal sebagai Jaid.

Jangan bantu MIT

Danrem 132/Tadulako Brigjen Farid Makruf mengatakan pengejaran anggota MIT terus dilakukan bersama Polri. 

“Kita berharap jumlahnya tinggal sembilan dan tidak bertambah. Makanya jangan sampai masyarakat memberikan dukungan kepada mereka,” ujar Farid kepada BenarNews. 

Sebelum peristiwa Senin, tambah Farid, baku tembak antara anggota satgas dengan MIT sempat terjadi di wilayah Kabupaten Parigi Moutong pada 23 Februai, namun tidak ada korban jiwa.

Saat itu petugas mengamankan sejumlah peralatan yang diduga milik MIT, di antaranya, sel tenaga matahari, bom rakitan dan parang.

Antisipasi serangan balasan 

Pengamat terorisme dari IAIN Palu Muhammad Lukman S Tahir mengingatkan agar Satgas tetap siaga pasca baku tembak Senin tersebut. 

“Harus tetap waspada, kita tidak inginkan ada serangan yang tiba-tiba merugikan,” ujarnya saat dimintai keterangan terpisah. 

Menurut Lukman, dengan tewasnya dua anggota MIT, sudah dipastikan jumlah MIT berkurang dan kekuatannya sudah pula dipastikan melemah. 

“Kita tinggal menunggu penyelesaiannya,” ujarnya kepada BenarNews.

“Tentu strategi satgas harus benar-benar matang, sehingga bisa menangkap hidup kelompok MIT dan memprosesnya sesuai aturan hukum,” kata Lukman. 

Direktur Eksekutif Celebes Institute, Adriyani Badrah, mengingatkan, bahwa warga sipil di Poso harus benar-benar mendapat jaminan bahwa operasi bukan saja dapat menangkap para pelaku teror hidup atau pun mati, tetapi operasi juga bisa memberi jaminan untuk menghentikan teror dan kekerasan yang memakan korban jiwa warga sipil. 

“Harus diantisipasi itu, jangan sampai akibat dua anggota MIT tewas, mereka kemudian membabi-buta menjadikan warga sebagai pelampiasan,” katanya. 

Menurut Adriyani, banyak peristiwa sebelumnya, pasca MIT terdesak mereka menjalankan aksi terorisme dengan menjadikan warga sipil sebagai target utama.

“Apa lagi mereka di sana (Poso) berkeliaran di perkebunan dan perkampungan warga,” ujarnya. 

Perubahan nama 

Operasi memburu angota MIT dimulai pada Januari 2015 dengan nama sandi Camar Maleo. Operasi tersebut pada tahun 2016 diperpanjang dengan namam Operasi Tinombala yang anggotanya terus diperbarui setiap tiga bulan sekali.

Pada 1 Januari 2021 Operasi Madago Raya diluncurkan sebagai perpanjangan dari Operasi Tinombala dengan fokus yang diutamakan pada operasi kegiatan kemanusian, demikian Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto. Penumpasan MIT tetap menjadi tujuannya.

Menurutnya, nama baru Madago Raya berarti baik hati. 

“Jadi Operasi Madago Raya itu lebih mengedepankan kegiatan kemanusian,” ujarnya kepada BenarNews.

Menurut Didik, kegiatan kemanusian yang dimaksud adalah bagaimana anggota Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya membina masyarakat di sekitar wilayah operasi perburuan untuk tidak mengikuti paham-paham ekstrim kekerasan.  

“Di sana nantinya akan ada pembinaan yang dikhususkan untuk kalangan pemuda. Pembinaannya bermacam-macam sesuai dengan potensi yang ditemukan di lapangan, misalnya ada anak muda yang ingin mengembangkan hobi ke bidang olahraga, nah itu tinggal kita bina,” ujarnya.

Selain itu, satgas juga akan rutin menggelar kegiatan sosial. “Kegiatan sosial ini bermacam-macam juga. Mulai dari pemberian bantuan kapada masyarakat terdampak misalnya dan lain sebagainya,” tegas Didik. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya