Follow us

Tangkap Terduga Pimpinan JAD Bekasi, Polisi Temukan Bom

Seorang karyawan toko ponsel mengaku tak menyangka di tempatnya bekerja disimpan bom rakitan milik majikannya.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-05-09
Email
Komentar
Share
Polisi berjaga saat menggeledah toko Ponsel milik terduga pimpinan JAD Bekasi, di Kota Bekasi, Jawa Barat, 9 Mei 2019.
Polisi berjaga saat menggeledah toko Ponsel milik terduga pimpinan JAD Bekasi, di Kota Bekasi, Jawa Barat, 9 Mei 2019.
Setiawan/BeritaBenar

Upaya pemburuan jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung dan Bekasi terus dilakukan Densus 88 Polri.

Setelah menangkap tujuh orang dan menembak mati satu lainnya pada akhir pekan lalu, Densus kembali menangkap seorang terduga teroris dan menyita dua bom rakitan milik tersangka.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen. Pol. Dedi Prasetyo, Kamis, 9 Mei 2019, mengatakan tersangka yang ditangkap itu merupakan amir atau pimpinan kelompok JAD Bekasi.

Terduga teroris berinisial EY alias Rafli (26) juga dinyatakan penyandang dana kelompok JAD Lampung dan Bekasi, yang merencanakan serangan dalam waktu dekat.

Rafli ditangkap Densus 88 Polri di SPBU Pertamina, Jalan Raya Kalimalang, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu siang, 8 Mei 2019.

Setelah menangkap, polisi menggeledah toko ponsel Wanky milik Rafli di Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Di tempat tersebut, polisi menemukan dua bom pipa yang aktif,” kata Dedi kepada wartawan.

Selain dua bom itu, tambahnya, ditemukan juga beberapa bahan kimia dan serbuk putih yang diduga sebagai bahan pembuat bom.

Labfor Polri masih meneliti kandungan pada bahan kimia dan serbuk putih tersebut, jelas Dedi.

Menurutnya, kelompok JAD yang dipimpin Rafli punya kaitan erat dengan kelompok militan lainnya, Solikin, yang telah ditangkap pada Sabtu dan Minggu.

"Perannya sebagai penyandang dana. Itu uangnya juga dikasih ke kelompok SL. Jadi kelompok SL beli bahan peledak dari uang yang dikasih EY. EY selain penyandang dana, dari sisi struktur kelompok, dia lebih tinggi dari SL," kata Dedi, merujuk Solikin dengan nama inisialnya.

Rafli disebut baru-baru ini diangkat oleh kelompoknya sebagai pimpinan kelompok JAD Bekasi, tambahnya.

Pendahulunya, sebut Dedi, telah ditangkap tim Densus 88 Polri, karena terlibat dalam serangan teror di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, pada 2016 lalu.

Dedi menerangkan, penangkapan Rafli merupakan pengembangan dari penangkapan dua terduga teroris jaringan JAD Lampung yang hendak bergabung dengan kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) di Bitung, Sulawesi Utara, 2 Mei 2019 lalu.

“Dari informasi keduanya, diketahui sel-sel kelompok JAD Bekasi dan Lampung,” kata Dedi.

Rafli juga disebut sebagai orang yang mengajarkan cara merakit bom ke kelompok JAD Lampung, termasuk kepada Solikin.

Ilmu merakit bom juga diturunkan ke dua pengikut Solikin yang ditangkap sebelumnya.

“Jadi hubungan dua kelompok ini terpisah tapi saling berkaitan dalam hal transfer ilmu dan juga membantu pendanaan,” kata Dedi.

Tak menyangka

Selain toko Ponsel milik Rafli, polisi juga menggeledah rumah yang ditempati tersangka di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Dalam penggeledahan, polisi menemukan barang bukti terkait dugaan keterlibatannya dengan terorisme, dimana salah satunya pin berlambang ISIS.

Rafli disebut memiliki sejumlah toko reparasi dan penjualan pulsa ponsel di Bekasi, kata Arif, seorang karyawan tersangka.

"Ada empat toko di wilayah Pondok Ungu Permai, Candrabaga, Taman Harapan Baru, sama ini. Saya juga suka dipindah-pindah (cabang)," kata Arif kepada wartawan.

Menurutnya, Rafli jarang ke toko dan hanya mengawasi usahanya lewat rekaman CCTV. Hanya seminggu sekali ia datang untuk mengontrol tempat usahanya.

"Terakhir ketemu dua atau tiga hari yang lalu, dia cuma nyuruh doang terus pergi lagi,” kata Arif.

Dia tak menyangka di toko tempatnya bekerja ditemukan dua buah bom rakitan yang siap meledak.

Menurutnya, para karyawan tak pernah tahu barang-barang yang disimpan majikannya.

Di toko itu, jelas Arif, ada 34 loker dan semuanya terkunci. Tiga karyawan yang bertugas hanya dibolehkan menggunakan loker masing-masing.

"Loker nggak bisa ngecek karena karyawan punya loker masing-masing. Karyawan nggak ada yang tahu kalau ada barang itu di situ. Kita kurang tahu juga karena nggak pernah ngecek terkunci atau enggak lokernya," ujar Arif.

Dua buah bom pipa rakitan yang ditemukan dalam toko milik Rafli telah dimusnahkan oleh tim jihandak Polda Metro Jaya.

Selain itu petugas juga memusnahkan sejumlah bahan kimia yang diduga sebagai bahan pembuat bom lain.

Akan terus pantau

Dedi menyebutkan bahwa tim Densus 88 akan terus memantau pergerakan kelompok-kelompok teroris di seluruh Indonesia dan melakukan pemetaan terhadap jaringan tersebut.

Dedi mengatakan, polisi mengantisipasi setiap rencana serangan yang dipakai kelompok teroris pada momen tertentu. Ia menyebut polisi masih menjadi target utama kelompok teroris dalam melancarkan aksinya.

"Mereka konsisten melakukan amaliyah (aksi teror) dengan sasaran aparat kepolisian yang mereka anggap selama hampir 20 tahun melakukan penegakan hukum secara masif terhadap kelompok-kelompok tersebut," ujarnya.

Tampilan selengkapnya