Analis: MIT Manfaatkan Pandemi untuk Serang Aparat, Galang Dukungan

Aparat mengatakan telah antisipasi serangan Mujahidin Indonesia Timur.
Ronna Nirmala dan Keisyah Aprilia
2020.04.29
Jakarta dan Palu
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
200429_ID_MIT_poso_620.jpg Petugas Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah memperlihatkan poster anggota militan Mujahidin Indonesia Timur yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), di Palu, Sulawesi Tengah, 15 April 2020.
Keisyah Aprilia/BenarNews

Wabah virus corona yang melanda Indonesia dan banyak negara di dunia memberikan optimisme baru bagi kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) untuk menyerang aparat dan mencari dukungan masyarakat, demikian analisis dari sebuah lembaga kajian konflik.

MIT memanfaatkan pandemi COVID-19 untuk meningkatkan aksi teror sejak bulan Maret dan menganggap virus corona sebagai tentara Allah yang diturunkan untuk menghancurkan musuh mereka, kata Institute for Policy Anaysis of Conflict (IPAC) dalam laporan yang dirilis Selasa (29/4).

“Hal ini cukup untuk meyakinkan para pejuang di kelompok itu bahwa akhirnya mereka bisa mengalahkan Indonesia,” sebut laporan tersebut.

Dalam pandangan MIT, pandemi virus corona telah melemahkan ekonomi negara-negara yang tengah berperang melawan kelompok radikal ISIS seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Turki, Arab Saudi, Iran, dan Indonesia, kata IPAC.

Belum diketahui apakah Ali Kalora yang kini memimpin MIT, kelompok yang telah berbaiat dengan Negara Islam (ISIS) itu akan melakukan serangan lagi selama bulan Ramadan atau bersembunyi dan membangun kembali kekuatan mereka melalui perekrutan anggota baru, kata laporan IPAC.

“Kekhawatiran saat ini adalah kemungkinan adanya serangan baru selama Ramadan, tapi juga ada ancaman jangka panjang. MIT telah menunjukan kemampuan regenerasi yang menunjukan perlunya kerja yang lebih keras (dari pemerintah) di masyarakat yang rentan (terpengaruh ideologi radikal),” kata laporan IPAC.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Irjen Syafril Nursal, mengukuhkan laporan IPAC.

“Selama pandemi ini memang menjadi kesempatan mereka. Namun, kami tidak ingin kecolongan, makanya selama COVID-19 pun operasi terus berjalan,” katanya kepada BenarNews.

“Apalagi di video Ali Kalora yang sempat beredar itu diakui kalau mereka sengaja melancarkan aksi di saat COVID-19 berlangsung,” kata Syafril.

Antisipasi ancaman selama COVID-19

Juru bicara Polri, Brigjen Argo Yuwono, mengatakan pasukan keamanan telah mengantisipasi ancaman dari kelompok militan selama pandemi.

“Pada prinsipnya Polri selalu melakukan pencegahan di tengah masyarakat dalam suasana apapun. Kebetulan saat pandemi corona ada aktivitas yang mengharuskan penindakan oleh Densus 88,” kata Argo kepada BenarNews.

“Kesiagaan itu juga berlaku untuk menghadapi ancaman MIT di Poso,” sambungnya.

Pada pertengahan bulan ini, sebuah video propaganda berdurasi 1 menit muncul di dunia maya berisi ajakan kepada militan di Indonesia agar tetap bersabar dan melakukan serangan terhadap otoritas pemerintah.

Pria yang muncul dalam video tersebut, mengenakan kain penutup kepala dan menyandang senjata, diyakini sebagai Ali Kalora, pemimpin MIT saat ini.

Thogut akan jatuh dan tersungkur dengan corona dengan peperangan ini Insya Allah dalam waktu dekat," katanya.

“Dan untuk para banpol (bantuan polisi) yang ada di Sulawesi Tengah dan Poso, akan kami potong batang leher kalian dalam waktu dekat, insya Allah,” sambungnya.

Kekerasan dan kontak senjata antara pihak keamanan dan MIT bulan April ini telah menewaskan sedikitnya enam orang, menurut laporan polisi.

Sabtu lalu, anggota Satgas Tinombala, yang terdiri dari gabungan polisi dan militer yang dibentuk sejak tahun 2016 untuk memburu anggota MIT, menembak mati salah satu anggota senior MIT, Rajif Gandi Sabban alias Rajes.

Rajif merupakan salah satu pendiri MIT bersama pimpinan lain yang sudah tewas lebih dulu, yakni Santoso alias Abu Wardah dan Sabar Subagyo alias Daeng Koro, kata Syafril.

Rajif diduga melakukan eksekusi terhadap dua orang petani di Poso yang ditemukan tewas dengan leher digorok bulan ini, kata polisi.

Sebelumnya, polisi menembak mati dua anggota MIT, Ali alias Darwin Gobel dan Muis Fahron alias Abdullah, yang menyerang dan melukai seorang petugas di halaman Bank Mandiri Syariah di Kecamatan Poso Kota, pertengahan April.

Dalam operasi Tinombala, aparat kepolisian juga menembak satu pemuda yang dituduh bagian dari kelompok militan bersenjata tersebut.

Pemuda berusia 20 tahun yang diidentifikasi bernama Qidam Alfariski Mawance tersebut tengah berada di kebun belakang Polsek Poso Pesisir Utara (9/4).

Qidam tewas dengan luka tembak dan luka sayatan benda tajam di tubuhnya. Keluarga menyanggah laporan polisi dengan memastikan Qidam tidak pernah bergabung dengan MIT.

IPAC mempertanyakan klaim polisi terhadap Qidam.

"Insiden itu merupakan kemunduran besar bagi upaya untuk meningkatkan hubungan masyarakat, dan polisi menambah masalah dengan menolak memberikan klarifikasi tentang insiden tersebut atau mengakui bertanggung jawab," kata IPAC.

IPAC mengatakan kebangkitan kembali MIT di bawah Ali Kalora setelah kematian pemimpin mereka, Santoso, pada tahun 2016 menunjukkan bahwa program deradikalisasi yang dipimpin polisi di Poso hanya berdampak kecil.

Program deradikalisasi telah menyadarkan beberapa mantan napi terorisme tapi tidak menghentikan perekrutan pengikut baru MIT  dan tidak melemahkan kantong-kantong dukungan kepada kelompok itu, kata IPAC.

Kelompok kecil

Koordinator eksekutif Indonesia Intelligence Institute, Ridlwan Habib, mengatakan aksi-aksi yang dilakukan MIT kala pandemi virus corona adalah untuk memanfaatkan peluang terpecahnya konsentrasi aparat.

“Mereka melihat kesempatan bahwa aparat keamanan saat ini juga tengah disibukkan dengan pengamanan pembatasan sosial,” kata Ridlwan kepada BenarNews.

Kendati demikian, Ridwan meyakini anggota kelompok MIT di bawah kepemimpinan Ali Kalora berjumlah sedikit dan bertahan hidup dengan mencuri ladang sekitar hutan Poso.

Sejak kematian Santoso, MIT secara organisasi telah terpisah dengan organisasi induknya, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan militan yang berafiliasi dengan ISIS.

Hal ini yang menurut Ridlwan menjadi kesulitan bagi Ali Kalora untuk merekrut anggota baru karena mereka dianggap bukan lagi bagian dari JAD

“Saat ini mungkin jumlahnya hanya belasan. Tapi mereka masih memiliki beberapa pucuk senjata yang digunakan untuk membuat kekacauan,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Santoso, anggota MIT sempat mencapai 40-an orang. Santoso adalah militan pertama di Indonesia yang secara terbuka melakukan baiat atau sumpah setia kepada ISIS.

Pada masa kepemimpinannya ia melakukan banyak pelatihan militer di hutan pegunungan Poso, yang diikuti tidak hanya oleh militan setempat atau di luar Poso, namun juga oleh militan Uighur dari Cina.

Dari hasil investigasi aparat, MIT berada di belakang sejumlah aksi kriminal di wilayah itu termasuk sejumlah pembunuhan warga dengan pemenggalan kepala.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya