Follow us

Petani Ditemukan Tewas Tanpa Kepala, Pelaku Diduga Kelompok MIT

Kepolisian mengatakan yang membunuh korban dengan cara menggorok kepala adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur.
Keisyah Aprilia
Palu
2020-04-08
Email
Komentar
Share
Dalam foto tertanggal 31 Desember 2018 ini, petugas membawa jenazah seorang warga ke dalam mobil ambulans seusai evakuasi di puskesmas Poso, Sulawesi Tengah. Jenazah tersebut ditemukan dalam keadaan kepala tergorok yang dilakukan oleh militan anggota Mujahidin Indonesia Timur, demikian menurut pejabat terkait.
Dalam foto tertanggal 31 Desember 2018 ini, petugas membawa jenazah seorang warga ke dalam mobil ambulans seusai evakuasi di puskesmas Poso, Sulawesi Tengah. Jenazah tersebut ditemukan dalam keadaan kepala tergorok yang dilakukan oleh militan anggota Mujahidin Indonesia Timur, demikian menurut pejabat terkait.
Keisyah Aprilia/BenarNews

Seorang warga ditemukan tewas tanpa kepala di sebuah perkebunan di Kabupaten Poso Rabu (08/04), kata Polda Sulawesi Tengah.

Petani yang bernama Daeng Tapo (52) itu diduga menjadi korban pembunuhan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Supranoto.

Sebelum ditemukan tewas oleh warga di wilayah perkebunan Maitangi di Kecamatan Poso Pesisir Utara, Daeng dilaporkan hilang sejak Sabtu, kata Didik.

Daeng diduga diculik kelompok MIT setelah ada warga lainnya yang melapor ke tim satuan tugas (satgas) Operasi Tinombala, namun motif pembunuhannya belum diketahui, ujar Didik.

Didik mengatakan saat ini satgas bersama warga Desa Kilo tempat ditemukannya mayat tersebut masih berada di sekitar lokasi ditemukannya jenazah untuk mencari kepala korban.

“Sesuai rencana badan korban akan dievakuasi hari ini sambil satgas mencari kepalanya,” kata Didik kepada BenarNews di Palu.

Anggota satgas yang terdiri dari TNI dan Polri masih melakukan penyidikan tentang kasus pembunuhan ini.

“Yang punya cara dengan menggorok kepala selama ini kan hanya kelompok itu. Dan kelompok itu memang selama ini ada di hutan dan pegunungan Poso," ungkap Didik mengacu pada MIT, militan yang telah berbaiat kepada kelompok ekstrim Negara Islam (ISIS).

“Namun, satgas masih akan melakukan penyidikan termasuk akan memeriksa sejumlah saksi,” ungkap Didik.

Sebelumnya, satgas sudah melakukan pencarian terhadap korban sejak pertama kali hilang Sabtu lalu, namun hingga Selasa 7 April, tidak berhasil menemukan korban.

“Pas tadi pagi ada laporan bahwa warga menemukan Daeng dengan kondisi meninggal dunia tanpa kepala,” imbuh Didik.

Kapolres Poso AKBP Darno menambahkan, saat ini tim dari Polres dan Desnsus 88 Antiteros Mabes yang diperbantukan sudah sampai di tempat kejadian guna melakukan olah TKP.

Menurutnya, sejumlah warga yang mengetahui kasus ini pun akan diperiksa.

“Termasuk warga yang mengaku lihat korban diculik akan kami periksa,” terang Darno saat dikonfirmasi BenarNews melalui sambungan telepon seluler dari Palu.

Dalam olah TKP, lanjutnya, tim belum menemukan tanda-tanda yang ditinggalkan pelaku kecuali jenazah korban, bercak darah, dan peralatan pertanian yang dibawa korban.

Manfaatkan kelengahan satgas

Direktur Lembaga Pengembangan Studi Hukum dan Advokasi Hak Asasi Manusia (LPS- HAM) Sulteng, Moh Affandi Zarkasi menilai, kelompok MIT yang masih berada di hutan dan pegunungan Poso sangat cerdas memanfaatkan kelengahan petugas.

Sehingga, ketika petugas lengah, kelompok yang sudah terafiliasi dengan Islamic State itu melancarkan aksinya.

“Saya yakin Ali Kalora Cs bergerak ketika satgas lengah,”

“Apa lagi kelompok itu kabarnya menculik Daeng saat petang, nah petang itu kan sudah tidak ada patroli satgas, otomatis kelompok tersebut bebas bergerak,” ungkap Affandi.

Menurutnya, Ali Kalora sangat hafal medan di hutan dan pegunungan Poso.

Pengetahuan itu tentu sangat membantu mobilitas MIT untuk beraksi dari tempat satu ke tempat lainnya.

“Penguasaan medan Ali Kalora tidak bisa ragukan. Apa lagi orang Poso asli. Makanya pergerakan mereka susah dilacak,” ujarnya,

“nah, ini yang harus diketahui satgas atau pihak Polri, sehingga kelompok itu bisa benar-benar ditangkap hidup atau pun mati.”

Affandi menambahkan, jika satgas hanya mengandalkan pola operasi yang monoton, ia pesimistis akan berhasil menumpas kelompok MIT di Poso.

“Kalau caranya masih hit and run, tidak akan selesai lah MIT di Poso itu. Makanya perlu pelibatan intelejen di dalam, bila perlu turunkan pasukan khusus untuk masuk ke hutan dan pegunungan Poso,” pungkasnya.

Pada Juni tahun lalu, seorang ayah dan anaknya di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah  ditemukan tewas dengan leher tergorok. Pada akhir 2018, seorang penambang emas tradisional tewas dipenggal kepala yang menurut polisi dilakukan kelompok MIT.

Sebelumnya, pada 2014, di sekitar tempat itu pernah terjadi aksi serupa yaitu dua warga yang juga petani tewas karena digorok anggota MIT.

Sebelumnya, Kapolda Sulteng Irjen, Pol. Syafril Nursal, mengatakan jumlah buronan MIT saat ini 16 orang, yang masih bersembunyi di hutan Poso.

Tampilan selengkapnya