MIT Diduga Dibalik Pembunuhan 4 Warga dan Pembakaran Rumah di Sigi

Sebanyak 150 keluarga atau sekitar 750 jiwa mengungsi pascakejadian penyerangan tersebut.
Keisyah Aprilia
Palu
2020-11-28
Share
201128_ID_MIT_1000.jpg Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso (kanan) berbicara dengan seorang warga seusai melihat olah TKP pembunuhan empat orang warga yang diduga dilakukan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 28 November 2020.
Dok. Polda Sulteng

Empat orang warga tewas dalam penyerangan yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, kata kepolisian Sabtu.

Keempat warga yang ditemukan meninggal dengan luka sabetan senjata tajam dan dalam keadaan terbakar pada Jumat di perkampungan mereka di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, sekitar 90 kilometer dari Palu, kata Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto.

Didik mengatakan bahwa saksi menyatakan pelaku pembunuhan adalah MIT - kelompok militan lokal yang telah berbaiat kepada ISIS, dan salah satu penyerangnya diduga pemimpin kelompok itu, Ali Kalora.

“Petugas perlihatkan foto-foto DPO (daftar pencarian orang) ke saksi dan saksi mengenali salah satu pelakunya adalah Ali Kalora,” ujarnya.

Didik menambahkan bahwa aksi ini memiliki ciri kekerasan yang dilakukan MIT sebelumnya di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.

“MIT itu kan terbiasa melakukan aksi secara acak. Korban ini pun pasti mereka tidak kenali. Namun, namanya teroris pasti akan melakukan tindakan teror untuk menakut-nakuti,” imbuhnya.

Pemimpin Gereja Bala Keselamatan di Indonesia mengatakan korban adalah jamaah mereka dan mengutuk kekerasan itu sebagai “perbuatan yang tidak berperikemausiaan.”

“Tindakan kekerasan, dengan alasan dan cara apapun, merupakan tindakan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia,” demikian pernyataan gereja tersebut, sambil mendesak pemerintah dan kepolisian terkait untuk berusaha mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang.

Bala Keselamatan mengatakan bahwa bangunan yang dibakar termasuk pos pelayanan gereja.

Namun demikian Kapolres Sigi AKBP Yoga Priyautama, mengutip apa yang disebutnya disampaikan kapolda, tidak ada rumah ibadah yang dibakar di lokasi.

“Memang rumah ada yang dibakar, namun tidak ada gereja,” tegas Yoga.

Keempat korban yang kesemuanya laki-laki itu bernama Yasa, Pinu, Naka, dan Pedi, yang semuanya memiliki hubungan keluarga, demikian kata Didik.

Menurutnya, informasi pembunuhan ini dilaporkan oleh Ulin, anak dari Yasa.

“Setelah kami terima laporan, sekitar pukul 14.30 WITA aparat gabungan langsung menuju ke lokasi kejadian,” jelasnya.

Naka dan Pedi ditemukan tewas dengan kondisi terbakar sementara mayat Yasa ditemukan dengan posisi tanpa kepala, kata Didik.

Mayat Pinu juga ditemukan di depan rumahnya dengan beberapa luka di bagian tubuh akibat senjata tajam, tambah Didik.

Perburuan

Kapolres Sigi AKBP Yoga Priyautama mengatakan delapan rumah, termasuk milik korban, dibakar dalam kejadian itu.

Yoga mengatakan petugas juga mendapati ceceran darah dan jejak sepatu mengarah ke arah perbukitan.

“Di rumah korban bernama Yasa dilaporkan hilang beras sekitar 40 kg dan kemungkinan besar diambil oleh kelompok tersebut,” ungkap Yoga kepada BenarNews.

Yoga menjelaskan bahwa saat ini juga pihaknya sudah dibantu oleh Satgas Operasi Tinombala melakukan perburuan terhadap pelaku yang diduga berlari ke arah perbukitan Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.

“Hari ini tim gabungan juga sudah berpencar dan melakukan perburuan dari sejumlah titik yang dicurigai sebagai jalur pelarian pelaku,” tutupnya.

Satuan Tinombala yang terdiri dari anggota kepolisian dan TNI dibentuk pada 2016 untuk memburu MIT yang saat itu sempat beranggotakan 40-an orang. Kepolisian mengatakan satgas tersebut akan terus diperpanjang hingga keseluruhan anggota MIT yang diyakini tinggal sebelas orang itu, tertangkap.

Warga mengungsi

Kepala Desa Lembantongoa, Deki Basalulu, mengatakan, 150 keluarga atau sekitar 750 jiwa mengungsi pascakejadian penyerangan tersebut.

“Saat ini, 150 keluarga itu sudah berada di tempat aman yang berjarak sekitar sembilan kilometre. Kami berharap ada bantuan untuk warga yang mengungsi itu,” kata Deki saat dihubungi BenarNews via telepon.

Dia menyebutkan, bantuan yang dibutuhkan warga antara lain makanan dan minuman. Termasuk kebutuhan anak bayi dan ibu hamil.

“Sekarang pemerintah yang turun tangan memberikan bantuan beras kepada warga yang mengungsi,” tambah Deki kepada BenarNews.

Desa Lembantongoa merupakan salah satu wilayah yang ada di Kabupaten Sigi yang memiliki akses tembus ke wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso melalui hutan dan pegunungan. Wilayah pegunungan ini merupakan tempat persembunyian militan MIT.

Mayoritas warga di sana adalah migran yang berprofesi sebagai petani.

Jalur menuju ke desa tersebut memang masuk dalam wilayah operasi karena sejak dulu diduga sebagai jalur pelintasan kelompok MIT, menurut polisi.

Selain karena naik turun gunung dan masuk hutan, akses jalan menuju desa juga tidak bagus sehingga waktu perjalanan ke sana bisa sampai lima hingga enam jam dari Palu.

Usut tuntas pelaku

International Christian Concern (ICC), sebuah kelompok yang berbasis di Amerika Serikat yang mengadvokasi penganiayaan terhadap umat Kristen di seluruh dunia, menyebut pembunuhan itu sebagai serangan "teroris".

"ICC berduka atas tewasnya saudara-saudara kami dari Indonesia yang dibunuh secara brutal oleh tersangka teroris," kata Gina Goh, manajer regional ICC untuk Asia Tenggara, dalam sebuah pernyataan di situs grup tersebut. Ia mendesak pemerintah untuk mengadili pelakunya.

Mantan Deklarator Perdamaian konflik Poso, Pendeta Rinaldy Damanik meminta aparat keamanan mengusut tuntas pelaku pembantaian tersebut.

“Peristiwa ini diduga dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata MIT,” terang Damanik dalam siaran pers yang diterima BenarNews di Palu.

“Kami percaya bahwa masih banyak aparat TNI dan Polri yang tulus, profesional, dan berkemampuan untuk menindak tuntas kelompok tersebut,” ujarnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Sulteng, Zainal Abidin, mengutuk keras pembunuhan itu dan meminta warga di Sulteng tidak terprovokasi.

“Kita harus jaga kerukunan ini. Karena kita tahu bersama sampai hari ini kerukunan dapat dibina dengan baik di Sulteng,” ujarnya.

Pada tahun ini setidaknya dua warga sipil tewas mengenaskan dalam dua kejadian terpisah. Sebuah video penggorokan salah seorang warga yang tewas tersebut sempat beredar, di mana dalam video tersebut seorang yang diyakini sebagai Ali Kalora mengatakan akan membunuh aparat atau pun warga yang berpihak pada kepolisian.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya