Salah Satu Pimpinan MIT Tewas di Tangan Aparat

Dengan tewasnya Qatar, polisi berharap anggota Mujahidin Indonesia Timur yang masih buron segera menyerahkan diri.
Keisyah Aprilia
Palu
2021-07-16
Share
Salah Satu Pimpinan MIT Tewas di Tangan Aparat Petugas bersiap memakamkan jenazah Qatar dan Rukli, dua militan anggota kelompok pro-ISIS Mujahidin Indonesia Timur, di pemakaman umum Poboyo, Palu, 14 Juli 2021.
Keisyah Aprilia/BenarNews

Salah satu dari dua anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang tewas dalam penyergapan pasukan keamanan di Sulawesi Tengah akhir pekan lalu telah diidentifikasi sebagai Muhammad Busra alias Qatar, salah satu pemimpin kelompok militan bersenjata yang terafiliasi ISIS itu, kata polisi Jumat (16/7).

Sebelumnya pada Senin lalu, polisi menyebut jenazah Qatar sebagai Ahmad Gazali, salah seorang dari dua anggota MIT yang tewas dalam penyergapan Operasi Madago Raya oleh satuan tugas TNI-Polri di pegunungan Tokasa, Kabupaten Parigi Moutong, pada 11 Juli.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan jenazah yang tiba di Palu tiga hari setelah kejadian, ternyata terkonfirmasi bahwa itu adalah Qatar, kata juru bicara operasi Didik Supranoto. 

“Wajah mereka nyaris sama. Setelah identifikasi baru semuanya jelas. Yang tewas adalah Qatar,” kata Didik kepada BenarNews.

Jenazah Qatar dan anggota MIT lainnya, Rukli, baru bisa berhasil diambil dari lokasi kejadian dan diterbangkan ke Palu pada Rabu karena kendala cuaca, kata wakil panglima operasi gabungan khusus Brigjen Rafael Granada Baay. 

“Tiga hari sebelumnya tim evakuasi menghadapi banyak rintangan alam, medan, dan cuaca yang sering berubah-ubah,” kata Rafael dalam siaran pers yang diterima BenarNews.

“Setelah melalui semua perjuangan berat tersebut kedua jenazah teroris berhasil di evakuasi menggunakan helikopter super puma,” katanya

Kini Qatar sudah dipastikan tewas, faksi MIT yang dipimpin Ali Kalora bersama tiga pengikutnya memiliki peluang besar untuk menyerahkan diri, kata Wakil Komandan Operasi Madago Raya Brigjen Farid Makruf.

Farid sebelumnya mengatakan bahwa Ali bersama pengikutnya yang berasal dari Poso sempat ingin menyerahkan diri berdasarkan laporan intelejen, namun urung karena ada ancaman terhadap keluarga mereka dari faksi yang dipimpin Qatar.

“Sekarang kita tinggal menunggu waktu saja kapan Ali Kalora cs itu mau keluar hutan dan turun gunung kemudian menyerahkan diri,” kata Farid kepada BenarNews, Jumat.

Menurut Danrem 132 Tadulako itu, faksi MIT yang dipimpin Qatar menyisahkan tiga anggota yang semuanya berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Dalam baku tembak Minggu 11 Juli lalu, satu dari tiga pengikut Qatar ada yang terkena tembakan. Tentu itu membuat mereka semakin melemah. Kita berharap ketiganya juga segera ditangkap. Karena saat ini satgas masih terus melalukan penyisiran untuk menangkapnya,” kata Farid.

Aparat keamanan menyebut total anggota MIT yang kini masih buron adalah tujuh orang.

Menurut laporan intelijen, Ali Kalora sudah tidak sepemahaman dengan Qatar sepeninggal pendiri MIT Santoso, alias Abu Wardah, pada Juli 2016.

Jenazah dimakamkan

Jenazah Qatar dan Rukli yang sudah membusuk dimakamkan di tempat pemakaman umum Poboya, Palu, pada Rabu malam, kata polisi.

“Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk disimpan di kamar jenazah. Makanya ketelah autopsi selesai, kedua jenazah langsung dimakamkan di Poboya,” kata Didik.

Meski kedua jenazah sudah dikebumikan, namun satgas sudah mengambil sampel DNA dan menghubungi keluarganya masing-masing di Bima.

Jamin keselamatan

Didik mengatakan polisi akan memberikan perlindungan kepada Ali Kalora, pengikutnya dan keluarga mereka jika mereka berniat menyerahkan diri.

“Namun, karena kita berada di negara hukum otomatis Ali Kalora cs harus diproses hukum,” katanya.

Aktivis dan peneliti kasus terorisme dari Ruang Empat Kali Empat Sulteng, Mohammad Affandi menilai laporan intelejen tentang keinginan faksi Ali untuk menyerahkan diri tidak mesti harus ditelan mentah-mentah.

“Bisa jadi itu akal-akalan saja. Sehingga orang berharap persoalan di Poso bisa segera selesai,” kata Affandi kepada BenarNews.

Affandi mengatakan meski mereka menyerahkan diri, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di Poso, terutama pemenuhan hak korban yang meninggal dunia karena aksi teror dan salah tembak petugas.

“Misalnya bagaimana keluarga-keluarga korban dari teror MIT? Apakah negara sudah benar-benar menjamin keamanan dan kesejahteraan mereka?”

“Bagaimana negara melindungi dan memberikan bantuan hukum kepada keluarga korban yang dibunuh oleh satgas. Salah satu contoh, kasus salah tembak satgas yang menewaskan Qidam Alfariski di Poso tahun lalu,” kata Affandi, mengacu pada salah seorang dari tiga warga sipil yang tewas di tangan aparat dalam insiden terpisah ketika pasukan keamanan melakukan pengejaran terhadap anggota MIT.

Affandi mengatakan, daerah yang masih terdapat simpatisan MIT di Poso itu masih banyak.

“Zona-zona merah itu dihijaukan dulu. Jangan sampai Ali Kalora cs menyerahkan diri, malah timbul MIT baru,” katanya.

Negara juga harus membina keluarga MIT dengan baik sehingga tidak ada dari mereka yang menganut ekstremisme, demikian kata Adriyani Badra, direktur Eksekutif Celebes Institute, organisasi yang mengamati kasus terorisme di Poso

“Semuanya harus sejalan sehingga bisa benar-benar menciptakan Poso yang terbebas dari aksi teror,” kata Adriyani.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya